Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Marah besar


__ADS_3

Saat pulang kuliah tadi, Alina memang langsung pulang ke rumah karena ia harus mengerjakan tugas yang kemarin telah tertinggal. Alina tidak mau nilainya menjadi hancur, karena tidak masuk satu Minggu lebih kemarin.


Kalian ingat kan, bagi Alina pendidikan itu selalu nomer satu.


Saat sedang fokus dengan tugasnya, Alina di kagetkan dengan teriakan Reymond dari bawah. seperti sedang marah marah tetapi Alina tidak tahu dengan siapa. Alina keluar dari kamarnya, lalu melangkah menuju bawah di mana ada Reymond di sana, dan ternyata ada Mira dan juga Adero.


“Kamu sebenarnya niat kerja gak sih?” teriak Reymond sambil menunjuk Adero.


Alina sekarang tahu, Reymond sedang marah pada siapa. Yap dengan Adero yang pasti, tidak mungkin dengan Mira karena dari dulu kedua orang tuanya itu tidak pernah bertengkar di depan anaknya. Tetapi baru kali ini pula, Reymond marah sampai sebesar itu pada Adero.


“Mas, tenang dulu!" Suruh Mira pada suaminya.


Reymond menggeleng, "Gak bisa mah, anak ini sudah kelewat batas! Sampai bisa mainin uang perusahaan sendiri, mau perusahaan kita bangkrut? Hah?" Teriak Reymond lagi.


Alina kaget mendengar itu semua, Adero tega memakai uang perusahaan keluarganya? Pasti dengan jumlah yang banyak sampai Reymond bisa semarah ini.


Alina hanya diam sambil terus memperhatikan dan mendengarkan apa saja yang Reymond katakan pada Adero.


"Papah tanya sekarang sama kamu, untuk apa uang 1 miliar yang kamu ambil dari perusahaan, Adero?" Kecam Reymond lagi.


Adero nampak hanya menunduk takut, pertama kalinya melihat Reymond semarah ini dengan nya. Sejak dulu Reymond selalu memanjakan anak-anaknya, ingin apapun Reymond turutin.


Yap benar, Adero menggelapkan uang dari Perusahaan Reymond beberapa bulan belakangan ini. Itu semua karena Adero ingin memberikan sebuah mobil untuk Gadis, agar cewek itu mau segera menikah dengan nya. Tetapi sayang, belum sempat membelikan, Adero sudah ketahuan oleh papahnya saat ini.


“Uang belum Adero pakai lah, nanti Adero kembalikan!" Jawab Adero pelan.


Tidak ada jalan lain selain mengembalikan uang itu, bisa-bisa semua fasilitas nya malah di cabut oleh Reymond.


Reymond menggeleng, “Pertanyaan papah itu, buat apa uang sebanyak itu Adero?" Teriak Reymond lagi kali ini sambil memegang dadanya.


Terasa sakit sekali dada Reymond saat ini, tetapi ia masih bisa menahannya. Mira dan Alina yang melihat Reymond memegang dadanya langsung menghampiri dan membantu papahnya untuk segera duduk di kursi.


"Papah tenang ya, tarik napas!" Seru Alina dan Reymond mengikuti setiap instruksi dari anak gadisnya itu.

__ADS_1


KAI ini Mira yang menatap Adero, "Untuk apasih kak uang sebanyak itu? Papah dan mamah cek juga, kartu kredit kamu tagihannya sampai puluhan juta setiap satu bulan, untuk apa semua itu kak?" Tanya Mira dengan suara tenang.


Memang benar, beberapa bulan terakhir pula Adero telah menggunakan kartu kredit nya hingga limit, dan itu semua ia gunakan untuk Gadis. Memang Gadis tidak pernah memintanya, tetapi ini kesadaran Adero agar Gadis tidak pergi meninggalkan nya. Tetapi apa nyatanya, Gadis lebih memilih Nanda?


Adero menatap Mira dengan takut, Lalau beralih ke Alina yang saat itu pula sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Alina sudah berpikir kalau ini semua pasti Adero lakukan untuk Gadis tetapi Alina pun belum memiliki bukti jadi tidak asal menuduh.


"Maafin Adero mah, nanti uangnya Adero ganti semuanya mah!" Hanya itu yang bisa Adero katakan, ia tidak bisa jujur pada orang tuanya takut Gadis malah menjadi masalah.


Mira menggeleng, "Kamu bermain judi online kah? Sampai harus menggunakan uang sebanyak itu?" Itu lah yang sejak tadi ada di pikiran Mira, karena sekarang maraknya perjudian online sampai ada orang uang bisa menghabiskan semua hartanya untuk itu.


Adero yang di tuduh seperti itu langsung menggeleng cepat, "Enggak mah, Dero gak pernah ikutan permainan kaya gitu. Maafin Dero, mah, biar nanti Dero cari pengganti uang tagihan kartu kreditnya!"


Mira hanya menghela napasnya, bukan itu yang orang tuanya mau. Mira dan Reymond tidak masalah dengan pengeluaran itu selagi untuk kebutuhan pribadi anak nya, tetapi saat ini Adero seperti tengah menyembunyikan sesuatu membuat Reymond geram melihatnya.


“Apa ini semua karena kekasih kamu?" Tiba tiba Reymond berkata seperti itu membuat Adero langsung mematung.


Alina yang mendengar pertanyaan papahnya itu hanya bisa diam mengunci mulutnya agar tidak ikut campur masalah kakanya. Ia takut kakaknya malah membencinya karena ikut campur.


Ini masalah yang cukup serius menurut Ali a, biarlah orang tuanya yang bertindak. Alina sebagai adik dan anak bontot hanya bisa diam.


"Mulai hari ini kamu gak *** h keluar sampai kamu jujur untuk apa sebenarnya uang itu! Selama ini papah kurang apa sama kalian, semua permintaan kalian pasti akan papah beri, tetapi kenapa dengan tega kamu mau menjatuhkan perusahaan yang dengan susah payah papah bangun Adero!" Seru Reymond dengan nada frustasi.


Mira menggeleng langsung mengusap punggung suaminya itu, "Sudah ya lah, kita istirahat ke kamar!"


Mira dan Alina membantu Reymond bangkit dari duduknya, sebelum beranjak pergi Mira menatap anak laki-laki nya dengan tatapan berharap.


"Mamah harap kamu bisa segera jujur dan mengakui keabsahan kamu nak, kamu laki-laki harus berani bertanggung jawab atas apa yang udah kamu lakuin!" Pesan Mira lalu meninggalkan Adero sendirian di ruang keluarga.


Alina yang sudah mengantarkan papahnya ke dalam kamar, beranjak ingin segera masuk kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tugasnya. Sejak tadi ia sudah berpikir ingin bertemu dengan Gadis seperti nya dan meminta cewek itu untuk mundur dari kehidupan Adero sebelum semuanya menjadi kacau.


Tetapi sayang saat ingin melangkah ke atas. Suara Adero terdengar jelas masuk di telinga Alina hingga dirinya langsung membalikkan badannya untuk menatap sang kakak.


"Puas Lo denger gue di marahin habis-habisan sama papah? Merasa senang lagi lo saat ini?" Ketus Adero.

__ADS_1


Alina menggeleng, benar-benar kakaknya ini sudah berubah tidak lagi ada kehangatan saat berbicara dengan Alina selalu ketus.


"Lo kenapa sih kak sama gue?" Hanya pertanyaan itu Yanga Alina sampaikan pada Adero.


Adero menatap Alina dengan tajam, "Lo seneng kan lihat gue kaya tadi? Hah?"


Alina menggeleng, "Kak, Lo berubah sekarang semenjak lo kenal sama Gadis. Lo udah gak sayang gue kak, lo udah di butain sama rasa cinta lo ke cewek gak bener itu! Gue ini adik lo kak, yang selalu lo jaga dari dulu tetapi kenapa semua itu udah gak gue dapetin lagi lo? Lo yang dulu kemana kak?" Seru Alina sambil berusaha menahan air matanya.


Ia rindu sosok Adero yang selalu menjaganya selama ini, selama orang tuanya tidak berada di dekatnya. Sosok yang selalu menjadi penguat saat dunia sedang tidak baik-baik saja untuk Alina. Sosok yang sangat sayang pada Alina.


Bukannya merasa bersalah setelah mendengar kata-kata Alina, tangan Adero malah melayang mengenai pipi mulus milik Alina alias menamparnya. Adero tak suka Gadis di bilang cewek yang tidak benar oleh Alina.


Anjir sebuta itu kah Adero?


Alina mengelus pipinya yang tai kena tampar oleh Adero sambil menangis tertahan karena tidak mau orang tuanya mendengar keributan ini.


"Bahkan kakak tega menampar Alina untuk pertama kalinya! Makasih kak buat tamparannya, itu membuktikan kalau kakak memang sudah berubah!" Serunya sambil tersenyum kecil.


Baru lah hati Adero terasa sakit saat melihat senyum perih dari adiknya itu, tangan yang tadi di gunakan untuk menampar Alina ia kepal kuat kuat, perasaan bersalah berasarang di dadanya.


Alina melangkah menaikin tangga untuk segera ke kamarnya, ia ingin menumpahkan segala kesedihannya hari ini. Melihat orang tuanya marah besar dengan kakaknya, dan kakaknya malah menamparnya. Sedih bukan?


Adero yang melihat Alina melangkah langsung segera menyusulnya untuk meminta maaf.


“Alina, maafin gue. Gue gak sengaja, maafin!" Seru Adero sambil terus mengejar Alina.


Tapi sayang pintu kamar Alina sudah tertutup bahkan terkunci rapat hingga Adero tidak bisa lagi meminta maaf pada adiknya itu. Adero menggeleng, benar-benar merasa bersalah, mengapa bisa ia sampai menyakiti adiknya sendiri hanya karena membela pacarnya.


Adero langsung masuk ke kamar dan meluapkan emosi nya di sana. Semua barang yang ada di mejanya ia berantakan hingga kamarnya terlihat sangat berantakan. Adero bingung harus bagaimana saat ini, melepaskan Gadis kah?


Adero menggeleng lalu menangis mengingat kejadian tadi, melihat papahnya nampak kesakitan, melihat mamahnya nampak sangat kecewa dan melihat adik satu-satunya sedih karena pertama kalinya di tampar oleh dirinya. Hancur sudah semuanya, hanya karena satu wanita.


Seperti pesan yang di beri Mira tadi, ia harus merenungi apa kesalahannya hingga membuat orang terkasih di hidupnya kecewa.

__ADS_1


Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat ceritanya!


__ADS_2