Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Pertemuan


__ADS_3

Kepulangan Reymond ke rumah membuat Adero menarik napasnya yang tengah duduk di ruang keluarga menunggu kabar bagaimana keadaan Alina.


Adero melihat wajah kedua orang tuanya sangat sedih pasti ada sesuatu yang terjadi pada adiknya itu. Di samping Mira ada seorang cewek yang tengah menuntunnya dan di belakangnya ada Reymond bersama dengan Nanda di samping nya.


Mata Adero menatap lurus ke arah Nanda ia bingung harus bersikap bagaimana pada cowok itu. Entah berterima kasih atau malah benci karena memberitahunya dengan telat. Loh telat? Bukan kah selama ini Alina tengah mengingatkan tentang itu?


"Mah, gimana keadaan Alina?" Tanya Adero memberanikan diri setelah Mira di dudukan di kursi.


Mira menggeleng lalu menatap anak sulung nya itu dengan dalam, "kamu kenapa sama adik kamu Kak?" tanya pelan tetapi Adero merasa terintimidasi.


Adero mengela nafasnya, "maafin Dero mah." Hanya itu yang Adero katakan.


Raymond menggeleng dan ingin menghampiri anaknya itu, namun di tahan oleh Nanda. "Om bagaimana pun, kak Dero anaknya om. Jangan buat dia sakit ya!" Saran Nanda yang sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi.


Tetapi kalau dari yang ia lihat sekarang, semua ini karena Adero. Tetapi ia belum tahu pasti apa yang di lakukan Adero sampai akhirnya Alina seperti ini. Yang ia tahu Alina over dosis itu saja.


Raymond menarik nafasnya lalu di hembuskan begitu terus hingga beberapa kali, supaya emosinya menghilang terhadap Adero.


"Kamu tahu gak Alina kritis saat ini!" Seru seru Raymond dengan tegas.


Saat itu juga tubuh Adero menegang saat mendengar kabar yang di sampaikan oleh Raymond tadi. Kritis? Ya Tuhan Alina batin Adero.


Adero menggeleng, mau tidak percaya tetapi wajah Raymond dan lainnya sangat mendukung kondisi itu, lagi pula papanya itu tidak mungkin berbohong kan?


"Pah, apa boleh aku jenguk Alina?" Seru Adero pelan, perasaannya takut.


Raymond menatap Mira seakan meminta persetujuan dari istrinya itu. Mira mengangguk, biar bagaimana pun Adero kakaknya Alina kan?


"Boleh karena tapi untuk sekarang Alina tidak bisa di temuin karena kondisinya yang semakin melemah!" Seru Raymond membuat hati Adero sedikit lega.


K mengangguk pasrah alau ada waktu untuk bertemu dengan Alina nanti, Adero akan meminta maaf padanya dan menyesali perbuatannya itu. Ia akan berjanji untuk tidak melakukan hal konyol seperti itu lagi.


"Setelah jenguk Alina, kamu langsung pulang! Papah butuh bicara sama kamu!" Seru Raymond dengan tegas mengingatkan kalau Adero punya kesalahan besar saat ini.


Adero hanya bisa mengangguk pasrah, ia harus tanggung jawab apa yang telah ia perbuat saat ini. Ia tahu sedang salah saat ini, sampai nyawa adiknya sendiri ya g menjadi taruhannya!


"Kalau gitu kami pamit ya om, untuk balik ke rumah aakit lagi nemenin Haidar di sana!" Seru Nanda.


Raymond mengangguk, "Terimakasih banyak ya nak, temenin Haidar ya jangan sampai dia ngelakuin hal yang berbahaya. Makasih juga udah mau nganterin om dan tante!" Seru Raymond.


Nanda mengangguk, "Pasti om, nanti kalau ada info apapun tentang Alina, langsung kita kabarin!"


Raymond mengangguk lalu memeluk Nanda sebentar, "Titip Alina juga ya nak!" Serunya dengan sedih tak terasa air matanya pun kembali keluar.


Nanda mengelus punggung Raymond dan mengangguk. Hellena pun sama berpamitan pada Mira yang masih saja sesegukan.


"Tante istirahat ya, jaga kesehatan biar Tante juga gak itut sakit. Hellena yakin, Alina akan baik-baik saja, karena dia banyak yang sayang dan doain." Seru Hellena lalu memeluk Mira sebentar.


Mira mengelus wajah Hellena dengan lembut, "makasih banyak ya sayang, Tante titip Alina ya di sana!" Hellena mengangguk lalu tersenyum kecil menahan tangisnya.


Melihat kondisi Alina saat ini mengingatkan Hellena dengan kondisi Diana pasca kecelakaan itu. Diana sempat dirawat di rumah sakit beberapa jam, lalu akhirnya meninggal. Sakit, itulah yang Hellena rasakan saat itu. Tetapi Hellena pun merasakan hal yang sama saat ini.


"Gue ikut mobil lo boleh?" Seru Adero saat Nanda mulai melangkah keluar.


Nanda hanya mengangguk lalu tersenyum kecil. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil dengan posisi Adero duduk di samping Nanda di bangku depan dan Hellena di belakang.

__ADS_1


Setengah perjalanan mereka hanya diam saja, sampai akhirnya suara Adero terdengar oleh Nanda dan Hellena.


"Gue ngerasa bersalah banget sama Alina saat ini. Gue gak nyangka kalau Alina akan ngelakuin hal ini!" Seru Adero dengan nada suara yang sedih.


Benar, ia benar-benar sedih saat ini! Please jangan ada yang hujat ya!


Nanda menoleh sekilas ke arah Adero, "Sorry kak, kalau gue boleh tahu, memang apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nanda penuh hati-hati.


Adero menghela napasnya, lalu menceritakan apapun yang terjadi waktu malam itu. Sampai tentang Gadis yang membalikkan fakta, hingga akhirnya Adero emosi dan menampar Alina untuk kedua kalinya.


Hellena dan Nanda kaget mendengar detail apa yang terjadi anatara kakak beradik itu. Hingga kata-kata Alina yang bilang 'kalau Adero tidak akan melihatnya lagi' dan ternyata itu yang Alina lakukan.


"Gue terlambat ya ngasih tahu lo, kak?" Seru Nanda.


Adero mengangguk, "Gak lama dari kejadian itu, pesan lo baru masuk Nan!"


Hellena yang mendengar itu pun bingung, apakah Nanda sudah menemui Gadis untuk menyelesaikan masalahnya lalu memberi bukti pada Adero?


"Terus hubungan lo sama Gadis gimana kak?" Tanya Hellena pelan sangat berhati-hati.


Adero menghela napas lalu menatap lurus ke depan, "Baru tadi pagi gue temui. Tub cewek sialan, karena papah ngelarang gue buat keluar rumah! Gue udah mutusin itu cewek, dan ancam dia untuk gak akan ganggu kehidupan gue lagi!"


"Tadinya gue mau bawa dia ke rumah sakit, untuk meminta maaf langsung sama Alina, tapi gue pikir ini bukan waktu yang pas dan nanti malah jadi masalah besar!" Sambung Adero.


Nanda menarik napasnya, "Gue pun sama, tapi dia ngancem kalau bakal ngelakuin sesuatu sama orang yang udah buat rencana dia hancur kak." Seru Nanda.


Hellena baru tahu tentang itu, kapan Nanda menemui Gadis, kenaao dia tidak izin dengannya pikir Hellena.


"Gue takut, Alina yang akan jadi sasaran nya kak, Nan!" Sahut Hellena yang tiba-tiba khawatir tentang omongan Nanda tadi.


Nanda dan Adero yang mendengar perkataan Hellena pun jadi ikut khawatir dengan itu. Mereka takut, memang Alina yang akan menjadi sasaran Gadis.


"Kita harus kasih tahu yang lain untuk jaga Alina semaksimal mungkin, gue gak mau Alina celaka gara-gara cewek itu;" seru Nanda dan di setujui oleh kedua nya.


Tak lama, mereka telah sampai di rumah sakit dan sekarang sudah pukul 8 malam. Hanya terlihat Haidar yang sedang duduk di sana sendiri an. Orang tua Haidar telah pulang karena Haidar yang menyuruhnya.


Wajah Haidar terlihat pucat, entah karena kecapekan atau karena lapar belum mengisi perutnya sejak pagi tadi.


"Ya ampun, Haidar muka lo pucat banget! Lo mending pulang deh buat istirahat!" Seru Nanda yang saat ini melihat kondisi sahabatnya.


Haidar menggeleng pelan, lalu matanya menatap Adero yang tengah berdiri tak jauh dari sana. Tanpa aba-aba Haidar langsung menghampiri kakak dari kekasihnya itu.


"Ngapain lo kesini? Mau buat Alina semakin celaka lagi?" Tuduh Haidar dengan tajam.


Adero yang di todong dengan pertanyaan seperti itu awalnya tersulut emosi, namun ia berpikir kalau respon Haidar itu wajar karena kekasih adiknya itu sangat khawatir dengan Alina.


"Gue cuma mau lihat kondisi Ali a kok, gue bener-bener merasa bersalah. Dar!" Jawab Adero.


Haidar tersenyum kecil, "Merasa bersalah? Setelah semuanya udah terjadi, lo baru ngerasa bersalah kak? Lo lihat Alina di dalam lagu berjuang anatara hidup dan mati brengsek!" Seru Haidar dengan keras.


Adero menelan ludahnya sendiri, lalu menatap pintu ruangan yang di tunjuk Haidar tadi.


"Gue tahu, gue salah Dar, maafin gue!" Hanya itu yang Adero katakan.


Mau mengelak bagaimana pun memang ini semua salahnya kan?

__ADS_1


Salah karena lebih percaya orang baru di hidup nya dari pada Alina adiknya sendiri yang selama ini selalu menemani nya.


(tapi memang cinta itu buta sih)


Tangan Haidar melayang ke udara, ingin memberikan pukulan pada makhluk di depannya ini. Haidar merasa tidak terima dengan permintaan maaf dari Adero itu.


Saat tangannya ingin memukul Adero, tiba-tiba Nanda menahannya dan membuat Haidar menatap Nanda dengan tajam. Bermaksud untuk tidak ikut campur dengan urusan nya.


"Alina akan lebih sedih, kalau lo sampai gebukin kak Dero, lo tahu kan Alina gimana orangnya?" Seru Nanda.


Haidar menatap Adero dengan tajam, "Tapi orang ini harus di kasih pelajaran!"


Nanda menggeleng, "Lo gak ingat omongan papah nya Alina, untuk enggak bertengkar?"


Hellena yang berada di sana juga langsung menatap Haidar tajam, "Gak semua masalah harus di selesaikan dengan kekerasan Haidar. Lo harus ingat itu, gue yakin Alina juga gak akan setuju dengan perbuatan li saat ini!" Seru Hellena mengingatkan.


Akhirnya Haidar menurunkan kembali tangannya dan menarik napasnya panjang. Mengatur setiap napasnya, agar emosinya mereda


"Untung aja ada mereka, kalau enggak udah habis lo sama gue!" Desis Haidar lalu pergi meninggalkan Adero dan kembali duduk di kursi tadi.


Nanda dan Hellena mengikuti Haidar dan duduk di sampingnya, sedangkan Adero duduk di kursi agak jauh dari sana.


"Lo belum makan ya?" Tanya Hellena yang khawatir juga dengan kesehatan Haidar.


Tunggu bukan karena ada perasaan apapun, hanya saja sebagai sahabat, bukannya harus saling perhatian juga? Lagi pula kan Haidar harus menjaga Alina, yang pastinya Haidar harus tetap sehat.


Haidar menjawab dengan gelengan.


"Lo pergi makan dulu gih, biar gue sama Hellena yang nungguin di sini!" Suruh Nanda dan Hellena mengangguk.


Haidar menggeleng lagi, "Gue gak mau pergi kemana-mana sampai Alina sadar!" Tegasnya.


Hellena menghela napasnya, "Yaudah kalau gitu gue yang beliin deh, lo mau makan apa?" Seru Hellena.


"Apa aja!" Sahut Haidar pelan.


Hellena mantap Nanda, "Lo mau makan juga?" Tanya Hellena.


Nanda tersenyum, "Boleh kalau di beliin nah, selagi gratis siapa sih yang nolak!" Jawab Nanda.


Hellena menggeleng, "Dasar lo kampret! Mau makan apa?"


Nanda mengangkut bahu ya, "Samain aja deh sama lo!" Jawabnya.


Hellena mengangguk lalu pergi dari sana, tetapi sebelum itu Hellena menghampiri Adero lebih dulu untuk menawarkan makanan juga.


"Kak, mau nitip beli makan juga?" Tanya Hellena.


Adero yang tiba-tiba di tanya pun menggeleng, "Gak usah, gue udah makan kok tadi di rumah!" Jawabnya.


Hellena mengangguk setelah mendapat jawaban dari Adero lalu izin pamit pergi menuju kantin rumah sakit. Ia akan membeli makanan untuk dirinya, Nanda dan Haidar. Ia sendiri pun merasa lapar karena memang belum sempat makan siang tadi sebelum ke rumah sakit.


"Semoga Alina segera sadar dan pilih kembali, Amin!" Doa Hellena dalam hati.


Maaf ya guys jarang update, atapi aku bakal usahain buat update lebih dari satu bab sehari, dan di real life pun aku gak punya waktu luang yang banyak Jadi mohon pengertiannya yaaa..

__ADS_1


...Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, hair aku tambah semangat buat ceritanya!...


__ADS_2