Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rumah sakit


__ADS_3

Perdebatan antara Meilla dan Elsa tadi membuat Alina semakin overthinking tentang hubungan Meilla dan Haidar. Tapi bagaimana caranya agar Alina mengetahui itu semua.


Alina hanya diam saja waktu Elsa berbicara seperti itu pada Meilla. Karena Alina pun sebenarnya ingin mengatakan itu namun tak enak hati. Maklum namanya juga alina, selain terlalu baik dia juga terlalu naif!


Elsa saja yang melihat dari luar, sekesal itu pada Meilla. Bagaimana Alina yang merasakannya selama ini, sakit satu kata itu loh yang sebenarnya mencerminkan hatinya ketika Haidar terus membela Meilla.


****


Masih di rumah sakit, Haidar memang sudah siuman. Orang tua dan orang tua Meilla sudah masuk ke dalam ruang rawat Haidar untuk melihat kondisi anaknya dan setelah itu mereka pergi ke kantin.


Saat Alina melangkah ingin masuk ke ruangan, tiba-tiba saja Meilla pun ikut melangkah yang juga ingin masuk ke dalam.


“Kita masuk bareng ya?” seru Meilla.


Alina menggeleng lalu tersenyum, “Lo duluan aja.” seru Alina sedikit cuek dengan Meilla.


Meilla menatap Alina, “Lin, kita bicara di dalam, gue rasa kita butuh bicara bertiga.”


Alina menggeleng lagu, “La, Haidar baru aja kecelakaan, ini bukan waktu yang pas buat bicara hal kaya gitu. Lagi pula La, apa yang Elsa bilang memang benar kok.”


Kali ini Meilla yang menggeleng, “Lo lebih percaya Elsa, dari pada gue? Lin, gue udah sering bilang sama lo kalau gue sama Haidar gak ada hubungan apapun!”


Alina mengangguk, “Iya La, tapi entah kenapa hati gue jadi ngerasa curiga juga sama lo. La, kalau emang lo mau Haidar, gue ikhlas ngasih dia buat lo, tapi gak gini caranya juga La, Lo bisa nyakitin Edo yang selama ini berusaha buat jadi kekasih yang baik !” seru Alina.


Meilla pergi begitu saja, tidak jadi masuk ke dalam ruangan Haidar. Alina menghela napasnya lalu masuk ke dalam ruangan Haidar sendirian. Sahabatnya yang lain sedang ke kantin untuk membeli minum.


Alina membuka pintu ruangan dengan pelan karena takut mengganggu Haidar yang tengah beristirahat di dalam. Saat Alina sudah mulai memasukkan badannya ke dalam ruangan, yang pertama ia lihat adalah Haidar yang tengah berbaring sambil matanya menatap langit-langit rumah sakit.


“Aku kira kamu gak mau jengukin aku!” seru Haidar dengan posisi yang sama tidak bergerak sedikit pun.


Lalu, Haidar tau dari mana kalau itu Alina yang datang?


Alina melangkah menuju kasur Haidar dengan senyuman terbaiknya. Alina tidak mau Haidar melihat wajah nya yang murung karena tadi menangis.


“Haidar, kamu baik-baik aja?” seru Alina saat sudah berdiri di samping kasur Haidar.

__ADS_1


Haidar langsung menoleh ke arah Alina, dan menggenggam tangan Alina dengan erat, “Aku baik-baik aja kalau ada kamu di sini, sayang!” seru Haidar membuat Alina tersenyum miris.


“Lagi sakit masih aja gombal!” seru Alina.


“Sayang, kamu pasti nangisin aku ya tadi?” tanya Haidar saat melihat wajah Alina ada bekas air mata di pipi mulusnya.


Alina mengangguk jujur, “Aku kan kekasih yang baik, melihat kekasihnya lagi berjuang di IGD hati siapa yang gak sedih?”


Haidar tersenyum lalu genggaman tangannya mengerat. “Jangan pernah tinggalin aku ya!” seru Haidar suara pelan.


“Gak akan Haidar, Selfi kamu selalu jujur sama aku!” seru Alina sengaja mengatakan itu entah apa tujuan Alina yang jelas Ingin saja mengatakan hal itu.


“Aku akan selalu jujur sama kamu, Alina!” seru Haidar.


Alina mengangguk, “Oh iya, btw kenapa bisa kamu kecelakaan kaya gini?”


Haidar menggeleng, “Aku lupa kejadian detailnya, yang jelas waktu itu aku ngerasa ada mobil yang ngikutin aku.”


Alina kaget, “Ngikutin kamu gimana? Siapa?”


Alina mengangguk, “Bagus deh, semoga aja cepat ke tangkap itu pelakunya!”


“Alina, aku denger dari mamah tadi, kalau Meilla sama Elsa bertengkar? Kenapa?” tanya Haidar yang memang tadi Indira memberitahu nya.


Waktu pertengkaran terjadi, hanya Indira yang mendengar yang lain fokus dengan kondisi haidar. Kebetulan Indira jaraknya tidak terlalu jauh dari para sahabat Haidar jadi ia bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.


Alina yang di tanya seperti itu langsung bingung harus menjawab apa, “Ah ya, pertengkaran biasa kok, kamu kan tahu sendiri Meilla dan Elsa itu sering beda pendapat!” bohong Alina.


Haidar tidak percaya, karena Indira menceritakan itu semua padanya setelah, Fandi, Roy dan Riani keluar lebih dulu dari ruangannya tadi.


“Kenapa bohong, sayang? Mamah udah cerita semuanya sama aku.” seru Haidar.


Alina pun panik, “Maaf Haidar!” hanya itu yang bisa Alina katakan untuk saat ini.


Genggaman tangannya di lepas oleh Haidar, lalu tangannya menyentuh rambut hitam milik Alina dan di elus nya perlahan.

__ADS_1


“Alina, hubungan kita akan terus diam di tempat kalau masalah nya hanya itu terus. Kita udah sering bahas tentang Meilla, aku selalu jujur sama kamu. Tapi kenapa seakan kamu masih belum percaya?”


Alina menggeleng, “Aku bukan gak percaya Haidar, lagi pula yang bertengkar tentang ini kan Elsa bukan aku.”


“Kalau kamu percaya, seharusnya waktu Meilla bilang dia gak ada hubungan apapun kamu sudahi pertengkaran Elsa dengan Meilla. Bukan hanya diam, waktu itu kamu hanya diam aja kan?”


Alina mengangguk.


“Secara gak langsung kamu setuju dengan ucapan Elsa kalau seperti itu, Alina. Kamu gak kasihan sama Meilla yang selalu di salahkan di dalam hubungan kita?”


“Aku kasih tau kamu sekali lagi, aku sama Meilla gak ada hubungan apapun Alina selain dia sahabat aku dan aku udah anggap dia sebagai adik perempuan aku. Gak lebih dari itu, rasa cinta dan sayang aku udah buat kamu semuanya, gak ada celah lagi untuk aku kasih ke siapa pun.”


“Aku mohon setelah ini, gak perlu ada keributan lagi tentang ini. Semua udah aku jelasin ke kamu dan Meilla pun bilang hal yang sama kan?” seru Haidar.


Alina menghela napasnya lalu mengambil tangan Haidar yang sedang mengelus kepalanya dan sekarang Alina yang menggenggam tangan Haidar.


“Haidar, bukan maksud aku gak percaya sama semua kata-kata kamu, tapi entah mengapa ada sesuatu yang janggal di hati aku. Aku tahu sekarang kamu sama Meilla gak ada hubungan apapun selain sahabat.”


“Tapi hampir semua orang yang kenal kamu dan Meilla, bilang kalau kalian tuh kaya bukan cuma sahabatan aja. Perhatian kalian itu beda dari persahabatan yang lain, kamu pasti paham kan maksud aku?” ujar Alina yang ikut menyeuarakan isi hatinya.


Haidar berusaha bangkit dari tidurnya tapi apa daya, kakinya terasa sakit, “Udah tiduran aja, kamu baru habis di obati!” seru Alina membantu Haidar udah kembali tiduran.


“Alina, kamu gak ingat selama ini yang ngurusin keluarga aku siap? Keluarga Meilla. Aku bersikap seperti itu hanya karena menghargai semua kebaikan mereka, gak lebih.”


Alina terkekeh, “Alasan yang cukup masuk akal sih, Haidar. Tapi ah sudahlah, maaf kalau aku salah ” seru Alina.


“Tapi satu hal yang harus kamu tau, kalau suatu saat kamu lebih milih Meilla, aku terima kok.” lanjut Alina yang sudah pasrah bagaimana nanti hubungannya.


Haidar menggeleng, “Itu semua gak akan terjadi sayang, aku cuma mau kamu gak ada yang lain lagi.” seru Haidar meyakinkan Alina.


Alina mengangguk, “Semoga aja, aku juga cuma mau kamu. Tapi apa daya kalau memang nantinya kita gak jodoh, kita bisa apa?”


“Kita itu jodoh, alina.” seru Haidar membuat Alina terkekeh.


“Aku pun berharap hal yang sama, Haidar!” seru Alina sambil mengusap lengan Haidar.

__ADS_1


__ADS_2