
Seperti biasa saat Alina sedang berada di makam Olivia dan Diana, gadis itu selalu bercerita tentang apa yang saja sudah di lewatinya. Alina selalu menganggap Diana adalah teman cerita yang baik, meskipun Alina tak pernah dapat jawaban apapun dari Diana.
Bukan kah itu yang orang butuhkan? Cukup di dengar tanpa harus berkomentar apapun biar situasi nya tidak semakin memburuk?
“Halo, Olivia bagaimana kabar kamu di atas sana? Pasti bahagia ya? Maaf ya kakak sama kak Haidar baru jengukin kamu lagi, kemarin kita sibuk kamu. Kamu tahu gak Liv, kalau kak Haidar masih suka sedih tahu sama kepergian kamu. Kamu bahagia selalu di atas sana ya sayang!” seru Alina sambil mengelus batu nisan bertulisan nama Olivia di sana.
Haidar yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kecil, benar apa yang di katakan Alina, dirinya memang masih suka sedih dengan kepergian Olivia.
Dan Alina selalu mengeluarkan kata-kata yang mampu membuat Haidar merasa tenang. Haidar bersyukur Alina hadir di hidupnya, karena Alina sekarang Haidar sadar kalau menyalahkan diri sendiri itu tidak baik apalagi dalam waktu yang lama.
Alina beralih ke makam Diana yang tepat berada di sebelah kanannya. Alina tersenyum tulus dan mengelus batu nisan bertuliskan nama kekasih Haidar dulu.
Jujur, terkadang Alina masih suka merasa kalau dirinya tidak sebanding dengan Diana. Diana masih tetap unggul di kehidupan Haidar sampai kapanpun. Tetapi Alina yakin kalau rasa Haidar saat ini hanya untuknya.
“Hai Ana, bagaimana kabar Lo? Bahagia kan pasti walaupun gak ada Haidar di samping kamu? Maaf ya kalau gue sama Haidar baru bisa jengukin lo. Lo tahu gak sih saat ini kondisi Meilla sahabat lo itu lagi hancur, dia pasti butuh lo juga di sini.” beritahu Alina tentang Meilla.
“Kalau Lo masih ada, apa yang akan lo lakuin sama Meilla karena sudah buat Lo kecewa? Pasti lo akan nemenin dia kan? Ana lo tau juga gak kalau Haidar itu kebelet nikah loh?” seru Alina sambil terkekeh kecil.
Sedangkan Haidar yang mendengar itu langsung menaruh telapak tangannya di atas kepala Alina dan mengacak rambut Alina dengan gemas. Alina menatap Haidar sekilas lalu kembali ke pusaran Diana.
“Diana, kalau nanti gue sama Haidar menikah lo Dateng ya? Walaupun gue gak bisa lihat lo. Gue mau lo yakin sama gue, kalau Haidar akan bahagia sama gue. Lo udah ikhlas tentang ini kan?” seru Alina.
“Kayaknya cukup deh buat cerita kali ini, nanti kalau gue sama Haidar ada waktu lagi gue bakalan sering main ke sini ya.” ujar Alina lagi.
Alina mendoakan Diana dan Olivia begitu pulang dengan Haidar. Keduanya berdoa di hati masing-masing. Sebelum bangkit, Alina menatap Haidar.
“Kamu gak mau bilang apapun sama Diana dan Olivia, sayang?” tanya Alina.
Haidar menghela napasnya, “Bahagia selalu di sana kalian!” seru Haidar sambil mengelus batu nisan keduanya secara bersamaan.
Alina tersenyum kecil lalu bangkit, dan begitu pun dengan Haidar. Sesi curhat di makam telah usai, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Ke rumah masing-masing ya, karena mereka belum serumah!
Di sepanjang perjalanan keduanya mengobrol ringan, meskipun lebih banyak Alina yang bersuara tapi Haidar pun selalu menjawab apa yang di tanyakan oleh kekasihnya itu.
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan suara deringan ponsel dan ternyata itu dari ponsel milik Haidar.
“Halo?”
“....”
“Di jalan, kenapa mah?”
“....”
__ADS_1
“Iya sama Alina”
“....”
“Oh gitu, oke mah!”
Bip
Ternyata dari Indira.
Alina menoleh ke arah Haidar, “Dari Tante Indira?” tanya Alina.
“Mamah!” koreksi Haidar.
Alina menyengir, “Eh iya maaf masih belum terbiasa soalnya!”
Tangan Haidar terulur untuk mengelus rambut Alina, “Harus terbiasa, biar nanti pas udah jadi mantu gak kagok!” cibir Haidar m membuat Alina salah tingkah.
“Apa sih Haidar!” gerutu Alina.
Haidar terkekeh melihat ekspresi Alina, “Mamah bilang suruh ajak kamu ke rumah buat makan malam sama-sama!” beritahu Haidar tentang obrolannya tadi dengan ibunya.
Alina mengangguk antusias, “Mau!” sahutnya dengan cepat.
Alina tertawa mendengar itu, “Anterin aku pulang dulu ya?”
Haidar mengerutkan keningnya, “Loh ngapain?”
“Ganti baju lah, masa pakai baju ini, aku mau tampil cantik di depan mamah kamu!”
Haidar semakin gemas dengan tingkah Alina sampai ia mencubit pangkal hidung gadis itu, “Gak perlu sayang, kamu selalu cantik apalagi di mata aku!”
“Ih tapi kan ini baju dari pagi, pasti bau deh apalagi tadi kita dari makam, panas!” Alina kekeuh untuk mengganti bajunya.
Haidar nampak berpikir sebentar, “Di depan ada toko baju kita beli di sana aja ya?” saran Haidar.
Bukannya Haidar tidak mau mengantarkan Alina pulang lebih dulu, tetapi rumahnya dengan Alina itu lawan arah dan akan memakan waktu kalau harus ke rumah Alina dulu. Sekarang memang masih pukul 5 tetapi Haidar mau Alina memiliki waktu bersama dengannya dan keluarga nya di rumah.
Alina mau tak mau akhirnya mengangguk, ia ingin tampil cantik dan wangi di hadapan calon mantu nya. Eh calon mertua?
Setelah membeli baju yang Alina pilih dan sudah menggantinya dengan yang baru, barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Haidar.
“Aku touch up dulu gak ya sayang?” tanya Alina sambil melihat wajahnya di kaca.
__ADS_1
Haidar menggeleng sekilas sambil matanya masih terus menatap ke jalanan, “Gak perlu sayang, kamu sudah cantik natural!”
Tetapi Alina tidak mendengar kata Haidar, ia tetap menjelaskan aksinya yaitu memoles make-up ke wajahnya dengan tipis agar terlihat kusam.sekali lagi, ia ingin tampil cantik dan wangi di depan Indira.
Haidar hanya menggeleng melihat Alina yang tetap memoles kan wajahnya dengan make up yang Alina bawa di dalam tasnya.
Keduanya telah sampai di rumah Haidar, dan mereka turun bersama menuju pintu utama rumah. Sambil bergandengan dan senyuman di wajah masing-masing.
“Assalamu’alaikum!” seru Alina dan Haidar secara bersamaan.
Indira yang tengah duduk di ruang keluarga langsung bangkit dan menghampiri Haidar dan Alina yang tengah berjalan ke arahnya juga. Indira langsung menerima salaman dari keduanya, dan tak lupa Indira mencium kedua pipi Alina.
“Gimana kabar kamu sayang?” tanya Indira sambil mengelus rambut Alina dengan sayang.
Alina tersenyum, “Baik mah, mamah sendiri?” tanya balik Alina.
Indira mengangguk, “Baik Alhamdulillah sayang.”
Setelah itu Indira menyuruh Alina duduk bersama dengannya, sedangkan Haidar tengah berganti pakaian di kamarnya.
“Sayang, Mamah gak nyangka sama masalah Meilla kemarin. Mamah harap hal itu gak akan pernah terjadi sama hubungan kalian juga ya!” seru Indira tiba-tiba.
Alina menatap Indira lalu mengangguk, “Iya mah, sebisa mungkin Alina sama Haidar akan menjaga kepercayaan ini.”
Indira mengangguk, “Semoga ya sayang, meskipun mamah pun udah gak sabar ingin meminang cucu!” kekeh Indira sambil mencolek pangkal hidung Alina.
Alina yang mendengar itu langsung terdiam, bingung harus merespon seperti apa. Mamah dan Haidar sama gerutu Alina dalam hati.
“Tapi mamah mengerti kok kondisinya, mamah selalu dukung juga apa keputusan kamu sama Haidar. Semoga cita-cita kalian bisa segera tercapai ya dan segera melangsungkan pernikahan!” lanjut Indira membuat Alina hanya bisa mengangguk lalu berkata amin saja.
Tak lama Haidar kembali ke ruang keluarga setelah mengganti pakaiannya, “Ngomongin Haidar ya?” seru Haidar lalu duduk di sebelah Alina.
Tangan Alina terulur mengacak rambut Haidar, “Jadi orang kepedean banget sih kamu!” gerutu Alina membuat Indira terkekeh.
“Alina, bantuin mamah masak buat kita main malam yuk?” ajak Indira yang sudah bangkit dari duduknya.
Alina mengangguk antusias, “Ayo mah, Alina sekalian belajar masakan biar bisa masakin Haidar nanti!” seru Alina dengan nada manja.
Tanpa di sangka, ternyata perkataan Alina itu membuat Haidar menjadi sala tingkah. Lihat saja sekarang wajahnya berubah menjadi merah dan senyumnya tidak pudar sama sekali.
“Mah ada yang lagi salah tingkah, tinggalin yuk?” canda Alina membuat Indira tertawa kencang melihat wajah Haidar itu.
“Alina udah pinter ya kamu godain aku kaya gitu!” gerutu Haidar sambil mengejar Alina yang sedang berjalan menuju dapur.
__ADS_1