
Pelukan hangat yang di berikan oleh orang terkasih membuat kita tidak ingin lepas. Nyaman, seperti itu lah rasanya. Alina ingin sekali moment seperti tidak cepat usai, ingin terus memeluk Haidar seperti ini.
Setelah mengungkapkan perasaan nya satu sama lain, sambil berpelukan. Haidar melepaskan pelukan itu, dan menyuruh Alina untuk menatap layar projector yang terpasang di depan sana.
Alina tidak sadar ada layar itu di sana tadi, apakah baru di pasang?
Tak lama layar itu menyala, dan menampilkan beberapa gambar dan video amatir. Video jaman sekolah dulu, waktu Alina masih ngejar-ngejar Haidar dan beberapa foto curian. Dapat dari manakah semua ini?
“Haidar, itu video sama foto kita?” Tanaya Alina yang kaget dengan tampilan di layar itu.
Haidar mengangguk, “Lucu ya.” hanya itu tanggapan Haidar.
Alina menggeleng karena merasa malu, “Dapat dari mana semua ini?” tanya Alina.
“Ada lah, gak penting.” sahut Haidar.
Alina diam, meskipun malu dengan video dan gambar itu tetap saja Alina menonton nya hingga selesai. Di ujung ada video di mana haidar, menyatakan isi hatinya waktu perpisahan sekolah. Di video itu lah baru senyum Alina terbit. Hingga akhirnya video itu benar-benar habis dan layar kembali gelap.
“Alina, tepat hari ini adalah hari jadi kita yang ke tiga bulan. Aku merasa beruntung memiliki kamu selama kamu, aku berharap ini bukan anniversary terakhir yang kita rayakan.” seru Haidar.
Alina menggenggam tangan Haidar. Tanpa di sangka air mata Alina menetes karena terharu apa yang sudah di lakukan Haidar pada malam ini.
“Aku harap juga begitu.” hanya itu yang bisa Alina katakan.
Tak lama lampu restoran menjadi redup, hanya lampu yang menyorot ke arah keduanya. Alina bingung akan ada apa lagi setelah ini yang di Siapkan oleh Haidar.
Tapa di sangka Haidar berlutut di depan Alina, membuat Alina menggeleng dan menarik tangan Haidar agar segera bangun. Ternyata Haidar mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari saku jas yang ia pakai itu.
Haidar membuka kotak itu, dan betapa terkejutnya Alina saat melihat isi dalamnya. Sebuah cincin berkilau yang bisa Alina pastikan kalau itu berlian asli. Sangat cantik, itu lah yang ada di pikiran Alina.
“Alina, aku tahu aku belum bisa menjadi yang sempurna untuk kamu. Aku masih sering membuat kamu nangis, bahkan sekarang aja kamu nangis karena aku.”
“Maaf karena aku selalu buat kamu kecewa dengan tingkah laku aku. Maaf karena pada akhirnya baku melanggar janji aku untuk menunggu kamu sampai selesai kuliah, aku terlalu takut kamu di ambil orang lain, Alina.”
“Alina, aku bukan mengajak menika sekarang setidaknya kita memiliki hubungan di atas pacaran, yaitu tunangan.”
“Alina mau kah kamu menjadi tunangan aku?” seru Haidar dengan nada yang super serius.
Air mata Alina yang sejak tadi sudah mengalir, dan sekarang malah semakin deras. Bingung harus bagaimana, ia pun sama takut Haidar malah jadi milik orang lain.
Setelah lumayan lama menunggu jawaban dari Alina, akhirnya terlihat anggukan kepala dari sang gadis cantik itu.
“Jawabannya adalah?” Haidar mau mendengar langsung dari mulut Alina.
__ADS_1
Alina mengangguk, “Ya, aku mau jadi tunangan kamu, Haidar!” jawab Alina dengan cepat membuat Haidar berteriak senang.
Tak lama lampu restoran kembali menyala terang, tanpa Alina sadari ternyata di sana sudah ada para sahabatnya yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
“Di terima, Wei!” seru Haidar pada para sahabatnya dan membuat Alina langsung sadar.
“Kalian?” seru Alina.
Semua yang ada di sana mengangguk lalu tersenyum, “Pakein cincinnya Dar!” seru Lio.
Haidar menarik tangan Alina dengan pelan, lalu menyematkan cincin berlian itu di jari manis sang kekasih. Terlihat sangat cocok di tangan Alina. Semua berkat Meilla yang memilihkan ini semua.
“Anjay, tunangan doi!” seru Nanda heboh.
Satu persatu memberikan selamat pada Alina dan Haidar. Hingga akhirnya Meilla yang memberikan ucapan selamat itu pada Haidar dan Alina.
“Akhirnya, selamat ya buat kalian. Semoga semua berjalan dengan lancar sampai waktunya nanti. Gue do'ain semoga kalian bahagia selalu.” seru Meilla.
Haidar memeluk sahabat kecilnya itu setelah mendapat izin dari Alina tentunya, ia tidak ingin membuat moment indah ini jadi rusak karena Alina cemburu.
“Makasih karena lo selalu ada buat gue selama ini, tapi cukup sampai saat ini ya karena ke depannya ada Alina yang akan nemenin gue.” seru Haidar.
Meilla hanya mengangguk, lalu beralih memeluk Alina sahabat yang ia rindukan karena sudah beberapa waktu tidak dapat mengobrol.
Alina membalas pelukan itu sambil mengusap punggung sahabatnya, “Makasih banyak karena selama ini lo jagain Haidar. Maaf kalau beberapa waktu lalu gue nyebelin. Makasih juga untuk doanya, semoga doa yang baik juga buat lo dan Edo.” ujar Alina.
Setelah acara peluk-pelukan itu, Meilla datang menghampiri kedua sahabatnya yang sedang menghapus air mata. Elsa langsung merangkul keduanya.
“Masih anggap gue sahabat kan?” seru Elsa yang berlagak cemburu karena tak di ajak berpelukan.
Meilla menatap Elsa, “Lo udah gak marah sama gue?” tanya Meilla.
Elsa menggeleng, “Gue gak pernah marah sama Lo, cuma kecewa aja sama tingkah lo.”
Meilla mengangguk, “Wajar kok kalau lo kecewa sama gue, artinya lo peduli kan sama gue dan Alina?”
“Itu lo tahu!” sinis Elsa.
Alina terkekeh melihat tingkah keduanya yang dari dulu memang seperti itu, bila dekat sering bertengkar tetapi kalau jauh pasti merasa kangen.
“Kita makan yuk?” ajak Alina pada kedua sahabatnya itu.
“Let’s go!” seru Meilla dan Elsa kompak.
__ADS_1
Meilla duduk di meja bersama dengan Edo dan Nanda, sedangkan Elsa duduk bersama Lio dan Alina bersama dengan Haidar.
Setelah acara makan-makan selesai, di isi dengan hiburan dari pihak hotel membuat makan malam hari ini bukan hanya indah untuk Alina dan Haidar tetapi mereka semuanya. Sudah makan gratis, fasilitas mewah gimana gak seneng. Iya kan?
Acara telah selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mereka semua berpencar untuk pulang ke rumah masing-masing. Alina dan Haidar pulang bersama dengan di antar supir.
Sepanjang perjalanan, Alina tidak henti mengatakan terima kasih untuk acara malam yang sangat spesial ini. Alina tidak sampai berpikir ke arah sini, yang ia rasakan seperti ingin terjadi sesuatu. Ternyata sesuatunya itu adalah membuatnya bahagia.
“Haidar, kok kamu kepikiran buat bikin ini semua?” seru Alina.
Haidar yang sejak masuk mobil menggenggam tangan Alina, sekarang di tambah elus pelan di tangan tunangannya itu.
“Aku mau bikin sesuatu yang benar-benar gak akan pernah kamu lupain, Alina. Selama ini aku belum pernah ngasih sesuatu yang special untuk kamu.” ujar Haidar.
Alian tersenyum lalu mengelus wajah Haidar. “Makasih sayang, acara kamu sukses bikin aku sebahagia ini. Aku berharap setelah ini gak ada lagi masalah yang terjadi sama hubungan kita.”
Haidar mengangguk, “Aku pun berharap begitu, oh iya Alina untuk peresmian tunangan kita. Aku mau ngadain acara yang formal juga. Kamu gimana? Setuju gak?”
Alna nampak terdiam, ia bingung bagaimana cara bicara dengan Reymond sang papah tentang ini. Reymond pun ingin Alina menikah setelah lulus kuliah. Tapi ini kan hanya acara pertunangan, tidak untuk menikah di waktu dekat ini.
“Ehem, paling nabati aku coba hubungin orang tua aku dulu untuk Maslah ini. Kamu gak papa kan?” ujar Alina sedikit gugup karena takut Haidar kecewa.
Haidar mengangguk lalu tersenyum, “Ya jelas gak papa dong, restu mereka itu sangatlah penting sayang. Aku akan menunggu hasilnya, setelah semua oke baru aku akan buat acara itu seindah mungkin.”
Alina tersenyum tulus, beruntung memiliki Haidar saat ini. Ternyata Haidar sosok laki-laki yang sangat dewasa menurutnya. Mengerti mana yang baik dan yang buruk.
“Aku akan segera menghubungi mereka, setelah ada keputusan dari mereka nanti aku akan kasih tahu kamu ya.” seru Alina.
Haidar mengangguk, “Okay baby!” seru Haidar sambil mengecup kening Alina dua kali.
Alina mendorong wajah Haidar ke belakang dengan telapak tangannya, “Baru tunangan aja udah nyiumin Mulu, gimana kalo udah nikah?” cibir Alina.
Haidar terkekeh, “Gimana hayo, mau coba sekarang gak?” goda Haidar sambil menaik turunkan alisnya.
Alina langsung memukul paha Haidar dengan keras, “Haidar mesum ih!” teriak Alina membuat Haidar dan supir tertawa.
“Membuat kamu bahagia semudah ini ternyata.” seru Haidar dalam hati.
Cielahhhh....
Seneng gak nih begini jadinya?
Gimana gimana
__ADS_1
Alina × Alvaro pupus dong ya?