Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
bingung


__ADS_3

Nasi sudah menjadi bubur, sesuatu sudah terjadi. Mau marah sampai bagaimana pun tidak akan bisa membalikkan kondisi Meilla. Haidar bingung harus bersikap seperti apa saat ini. Ia marah, kecewa dan emosi dengan Edo, mengapa bisa ini semua terjadi.


Alina yang masih bingung, tetap menenangkan kekasihnya itu untuk tidak memukul Edo. Suatu masalah kalau di selesaikan dengan kekerasan tidak mungkin akan selesai bukan.


Alina melihat Meilla menangis sesegukan sambil menggenggam tangan Edo, sedangkan Nanda mencoba menghubungi pihak rumah sakit terdekat agar Edo dapat penanganan. Luka yang di terima Edo cukup banyak dan mereka belum tentu bisa membersihkan semua nya.


“Kamh tau gak kalau dia itu sahabat kamu?” seru Alina akhirnya setelah melihat kondisi Haidar yang sudah mulai tenang.


“Aku gak tau, dia masih pantas atau engga di bilang sahabat saat ini!” jawab Haidar.


“Apa masalah nya? Kenapa bisa kamu sampai Mukuli dia seperti itu, Haidar?”


Haidar menatap Meilla dan Edo dengan tajam, “Apa yang kamu lakuin saat kamu tahu sahabat kamu sudah di lecehkan?” Haidar malah bertanya balik.


Alina sudah mengerti sekarang apa inti permasalahannya, dan mengapa Haidar sampai semarah itu.


“Haida, apa kamu sudah mendengar penjelasan dari mereka?”


Haidar menggeleng, “Aku gak butuh penjelasan Alina, yang jelas dia cowok brengsek yang pernah aku temui!”


Alina menggeleng lalu mengelus wajah Haidar pelan, “Haidar kamu gak bisa seperti itu, aku tahu perasaan kamu saat ini. Tapi kamu juga salah, semua orang pasti punya alasan mengapa bisa sesuatu terjadi pada mereka!”


Haidar hanya terdiam.


Alina berdiri dan melangkah menuju ke arah Meilla yang sedang menangis. Sebenarnya Alina pun masih tidak menyangka kalau hal ini bisa terjadi.


“La?” panggil Alina dan tanpa di duga Meilla Lang berdiri dan memeluk Alina dengan erat, bahkan tangisannya semakin pecah.


“Lin, maaf gue, maaf karena bikin lo sama yang lain kecewa! Maafin gue Lin!” seru Meilla menggebu-gebu.


Alina menggeleng sambil mengelus punggung Meilla agar tenang, “Semha udah terjadi kan? Lo gak perlu minta maaf sama kita, Lo harusnya minta maaf sama tuhan dan orang tua lo.”


Meilla terdiam, bingung harus apa sekarang. Wajah kedua orang tuanya dengan raut kecewa, terbayang dari pandangan Meilla saat ini. Bagaimana kalau mereka tahu tentang ini, apa yang akan mereka lakukan pada Edo? Karena di sini bukan hanya Edo yang salah, tapi Meilla pun mengakui kalau dirinya juga salah, mengapa tidak mencegah itu semua!

__ADS_1


“Lin gue harus gimana sekarang? Gue takut Lin!” seru Meilla.


Alina melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Meilla, “Jujur gue pun gak tahu lo harus gimana saat ini, tapi yang pasti lo harus berdoa biar semua baik-baik aja. Apalagi lo sama Edo mau tunangan kan? Atau kalau bisa kalian langsung nikah aja?”


Meilla menggeleng, “Papi gak ngizinin gue buat nikah saat ini.gue harus selesai kuliah dulu Alina! Gue takut buat mereka kecewa Alina!”


Alina mengusap punggung Meilla lagi, “Lo tenang, gue selalu ada di samping lo. Kalau bisa masalah ini jangan sampai orang tua lo tahu dulu.” saran Alina dan di anggukin oleh Meilla.


“Tapi Haidar?” seru Meilla mengkhawatirkan kalau Haidar yang akan memberitahu ini semua pada Fandi.


Alina menggeleng, “Masalah Haidar, Lo tenang aja biar gue yang ngomong sama dia, sekarang lo tenangin diri lo sama Edo dulu.” m Illa mengangguk lalu kembali duduk dan menggenggam tangan Edo.


Sejak tadi Edo mendengar percakapan mereka dan merasa beruntung memiliki teman seperti Alina yang bisa mengerti kondisi nya saat ini.


Alina kembali melangkah menuju Haidar yang sedang duduk sambil terus menatap Edo dengan tajam.


“Haidar, kita ke pantai yuk?” ajak Alina.


Tanpa menjawab, Haidar langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Alina segera keluar dari villa menuju pantai yang kebetulan tepat di depan villa mereka.


“Indah ya di sini?” seru Alina yang menikmati setiap hembusan angin di pantai ini.


Haidar hanya mengangguk sambil memandang lurus ke depan,mood nya masih sedikit hancur.


“Haidar!”panggil Alina sambil mengguncang tangan yang saling menggenggam.


Haidar menoleh ke arah Alina dan menatap nya dalam. Gadis di depannya itu sangat cantik dengan rambut berterbangan karena tiupan angin. Tanpa sadar Haidar melepaskan genggaman tangannya, dan beralih merapikan rambut sang gadis.


Alina yang di perlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum dan menatap ciptaan tuhan yang sangat indah di depannya ini. Pahatan yang sangat sempurna, menurut Alina.


“Alina, kamu tahu gak kalau aku sayang banget sama kamu?” seru Haidar.


Alina mengangguk, “Tahu kok!” jawab Alina.

__ADS_1


“Maka dari itu, aku gak mau merusak kamu, aku mau menjaga kamu sampai nanti waktunya tiba! Bukan kah itu salah satu keseriusan seseorang?”


Alina mengangguk lagi, “Benar, tapi ehem aku juga gak bisa membenarkan apa yang Meilla dan Edo lakukan kerena memang itu salah. Tapi bukankah mereka bilang kalau mereka khilaf?”


Alina mengangkat bahunya karena tidak pernah merasakan di posisi Meilla dan Edo saat ini.


“Kamu tau gak, dulu aku yang hampir saja hampir loh, Meilla sampai mengurung diri satu Minggu karena kejadian itu, lalu sekarang? Dia biasa saja kan? Artinya mereka tidak menyesal bukan?” seru Haidar.


Alina menggeleng, “Bukan tidak menyesal Haidar, tapi awalnya mereka berniat menyembunyikan ini semua dari kita? Sampai akhirnya Edo membuka suara dan memeberitahu ini semua, karena mereka ingin kita tetap bersama mereka kalau terjadi sesuatu nanti. Kamu ngerti kan maksud aku?”


“Siapa sih yang mau melakukan hal gila seperti itu, Haidar! Apa lagi sebagai perempuan, terapi semua sudah terjadi. Meilla pasti butuh kita semua, begitu pun Edo. Mereka cuma mau kita mengerti kondisi nya sekarang!” lanjut Alina.


Haidar terdiam, membenarkan apa yang Alina bilang tadi. Seharusnya Haidar tidak gegabah dengan memukuli Edo membabi buta seperti tadi. Mendengar kan apa yang sebenarnya terjadi lebih dulu, lalu menenangkan Edo agar tidak khawatir.


Tetapi Haidar pun tidak bisa menghalau rasa kecewanya pada Edo. Dari dulu Edo pun tahu bagaimana Haidar menjaga meilla, tetapi mengapa sekarang bisa Edo melakukan hal nekat itu.


“Sekarang kita cuma bisa peluk mereka supaya mereka tidak terlalu khawatir apa yang akan terjadi ke depannya.” seru Alina.


“Mereka gak mungkin kan cerita sama orang tuanya, bisa-bisa mereka tidak jadi tunangan karena ini? Iya gak sih? Terus sama siapa lagi mereka cerita kalau bukan sama kita?” lanjut Alina.


Hadar mengangguk lalu tersenyum, “Aku benar-benar beruntung memiliki kamu sayang, kamu selalu mengerti kondisi setiap orang dan tahu bagaimana cara mengatasi sesuatu tanpa menyakiti orang lain!”


“Aku yang beruntung karena kamu benar-benar menjaga aku sampai saat ini. Aku berharap kejadian Meilla dan Edo tidak akan terjadi sama kita ya?” seru Alina.


Haidar mengangguk kalau mengelus pipi gembul milik Alina, “Aku janji sayang, makasih karena kamu selalu mengingatkan aku. Kecup pipi tapi boleh kan?”


Alina terkekeh sambil menggeleng, “Enghak boleh deh, takut ada setan dan khilaf juga!” goda Alina.


Haidar terkekeh lalu tangannya menggelitiki perut Alina sampai gadis itu meronta, “Omongannya sudah pintar ya kamu!” seru Haidar yang masih gencar menggelitiki Alina.


“Aku kan udah gede Haidar!”


“Apanya yang gede, hati?” goda Haidar memebuat Alina memukul bahu Haidar lalu berlari menjauh dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Keduanya menikmati senja di pinggir pantai sambil kejar-kejaran ala film India!


Kalau kalian jadi sahabat Meilla dan Edo, apa yang akan kalian lakuin?


__ADS_2