Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
menikmati senja


__ADS_3

Menikmati senja bersama dengan orang yang tercinta adalah suatu hal yang paling berkesan. bukan hanya berkesan tetapi juga sangat bahagia. Terlebih lagi orang yang dicintai selama ini meski tidak pernah memberikan kepastian.


Sejak tadi Alina selalu menampilkan senyuman indahnya, rasanya sangat bahagia sore ini.


"Haidar, kenapa sih lo selalu nolak gue?" tanya Alina yang duduk di atas jok motor.


Haidar mendengar jelas pertanyaan itu, tetapi ia tidak menjawab nya. entak mengapa seperti ada benteng yang selalu menghalangi Alina.


"Tuh kan lo gak jawab, selalu deh kaya gitu." keluh Alina.


Lagi-lagi hanya angin yang terdengar, meskipun sudah di cuek in kaya gitu. Alina tetap tersenyum.


"Haidar, kalo nanti lo udah gak punya pacar, bilang ya sama gue. biar gue yang jadi pacar lo." ujar Alina .


Ia sendiri geli dengan ucapan Alina tetapi mulutnya emang tidak bisa di rem kalo menyangkut dengan Haidar. selalu saja merendahkan harga dirinya.


Haidar hanya tersenyum kecil dibalik helm full face nya, jujur ia sangat kagum dengan kegigihan Alina untuk mendapatkan hatinya.


"Pacar, Haidar bawel kaya Alina gak? pasti nggak ya, soalnya kan Haidar gak suka berisik." lanjut Alina.


"Tapi maaf Haidar, kalo nanti Alina jadi pacar haidar. Alina ga bisa kalo ga berisik, jadi Haidar harus mencintai Alina apa adanya seperti Alina yang selalu cinta sama Haidar." ujarnya lagi.


"Haidar kembali tersenyum mendengar ocehan Alina. bisa-bisanya Alina mengoceh seperti itu di hadapan orangnya langsung.


"Sampai." ujar Haidar.


Alina tidak menyadari kalau mereka ternyata sudah sampai di depan gerbang rumah milih Alina. karena terlalu bahagia hingga Alina tidak menyadarinya dan lebih tepatnya tidak mau memen ini berakhir.


" yah kok udah sampai sih, kita gak bisa muter-muter dulu gitu." keluh Alina.


Haidar menggeleng


"Yah gak seru, cuma sebentar doang. Tapi gak papa deh, ini juga bikin Alina seneng kok. Sering sering ya anterin gue kaya gini. ujar alina sambil senyum.


Haidar membuka helmnya membuat Alina menahan nafasnya. Haidar menjadi tambah tampan ribuan kali lipat.


Sambil menganga, Alina terus memandangi Haidar, tnp di sadari ada tanda yang hinggap di bawah dagunya dan mendorong ke atas agar mulutnya tertutup dan ternyata itu tangan haidar.


"masuk." ujar Haidar sambil menatap Alina.


Alina paham dengan maksud Haidar dan langsung mengangguk patuh terhadapnya. Sebelum berbalik badan, Alina masih terus menatap Haidar dengan tatapan memuja.


"Haidar, inget omongan Alina tadi. Alina selalu setia nunggu Haidar." ujar Alina sambil memberikan darah dapn langsung masuk ke rumah.


Setelah Alina sudah menghilang dari hadapannya, Haidar hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. ia sangat gemas dengan tingkah Alina.

__ADS_1


"Weh, ngapain lo senyum-senyum gitu?" ujar Edo yang entah kapan datangnya.


Mungkin karna Haidar sedang asik lamunan nya sampai tidak mendengar suara motor yang datang.


Haidar hanya menggeleng


"Abis di kasih kecupan ya lo sama Alina?" goda Nanda.


Keempat cowok itu tertawa setelah melihat ekspresi wajah Haidar yang sudah memerah.


"Sekian lama lo sembunyikan tuh senyuman akhirnya muncul lagi." ujar Edo dan di anggukin ke tiganya.


Nanda menepuk bahu Haidar pelan, "Dar, saran gue coba deh lo buka hati buat Alina."


"Nah bener tuh, kurang apalagi coba si Alina." sahut Lio.


"Gak bisa!" ketus Haidar.


Kali ini Edo yang menepuk bahu Haidar sedikit keras, "kalau ga lo coba ya gak akan bisa."


"Emang lo gak mau ngerasain masa indah pacaran pas SMA?" sahut Alfin.


Ketiganya kembali mengangguk, "Bener masa SMA masa paling indah apalagi sebentar lagi lulus dan lo bisa punya berkesan selama di sekolah." ujar Edo.


Haidar nampak berpikir tentang apa yang teman-temannya berbicara, benar kalau tidak mencoba tidak akan bisa.


"Eh ini pak, nyari Alina. apa Alina nya ada


?" jawab Nanda.


Satpam itu mengangguk dan membukakan gerbang untuk teman-teman nona nya untuk mempersilahkan masuk, satpam itu tidak curiga karna sebelum Alina masuk kedalam ia sudah berpesan kalau nanti akan ada temannya yang mengantarkan motornya itu.


"Eni, tolong panggilkan neng Alina, ini ada teman-teman sekolahnya." ujar Anton selaku satpam disini.


Kebetulan ada Eni yang sedang menyapu di teras depan, dengan cepat Eni mengangguk lalu masuk ke dalam untuk memanggil neng Alina.


"Masuk aja ke dalam mas, neng Alina nya lagi di panggil dulu sama mba Eni." ujar Anton sambil mempersilahkan masuk.


Eni mengetuk pintu kamar Alina, tak lama Alina keluar kamar dengan masih memakai seragam sekolah.


"Ada apa mba?" tanya Alina


"Itu neng, dibawah ada teman-teman neng. Cowok semua, masa ganteng-ganteng lagu. bagi kek mba satu." ujar Eni membuat Alina melongo


Benar, mereka sedang sambil melihat matanya kesana tapi tidak dengan lio karena cowok itu sudah sering ke sini hanya untuk sekedar nongkrong. Yang bikin Alina kaget adalah masih ada Haidar disana. ia kira Haidar sudah pulang dari tadi.

__ADS_1


"Yaudah aku turun dulu mba, kalau mba mau kaya gitu, mba jadi anak SMA dulu deh kayanya." ujar Alina sambil terkekeh.


Alina datang dan langsung duduk di sofa yang kosong. "kok Haidar belum pulang?" tanya Alina.


"When.. haus ini elah malah nanyain si haidar, percuma lo tanyain juga gak bakalan jawab." sahut lio.


"Belum." jawab Haidar yang tibat membuat Alina tersenyum karena meras menang.


Masa harus dipancing seperti itu agar Haidar mau menjawab segala pertanyaan dari Alina.


"di jawab ternya cuy." sahut Edo.


Alina hayang cekikikan melihat ekspresi kesal Lio. "Lagian lo kaya baru aja kesini, biasanya juga Lo langsung ke kulkas dan ambil semua cemilan." gerutu Alina dan dibalas dengan cengiran lio.


Eni datang dari arah dapur dan membawakan beberapa gelas minuman serta cemilan.


"Silahkan diminum mas-mas semua." ujar Eni.


"Terimakasih banyak mba Eni, emang mba doang disini yang peka, gak kaya pemilik rumahnya yang ingat soal ngevucu ." gerutu Lio dan di anggukin lagi dengan tiga temannya.


"Oh disini ada gebetan nya neng Alina roh, yang mana?" tanya eni.


Suasana menunjukkan ke arah Haidar akan itu termasuk dengan alina. Eni hanya kagum melihat wajah Haidar yang menurutnya sangat sempurna.


"Ya Allah neng, pinter bener milihnya yang ungg kaya gini." ujar eni.


"Tapi sayangnya di tolak terus." ujarnya yang membuat senyumnya memudar.


Haidar jadi pusat perhatian nya tidak menampilkan ekspresi apapun.


"iya mba di tolak terus kasihan, padahal saya udah ngajuin buat gantiin haidr." ujar Lio membuat Haidar menatap tak suka.


"Saya juga ikhlas kok mba, siapa juga yang gak mau dikasih Alina." sahut Edo dan sekarang tatapan Haidar pindah ke Edo.


"Saya juga mau mba." sahut Alfin lagi dan lagi kembali ditatap oleh Haidar.


"Kalau saya apalagi, ikhlas lahir batin malah, saya akan buat Alina bahagia terus gak kaya sekarang yang selalu di tolak." sahut Nanda dan lagi-lagi jadi tatapan tak suka Haidar.


Keempat cowok itu hanya bercanda, hanyap ingin melihat ekspresi dari Haidar. semua sadar kalau tadi mereka ditatap oleh haidar. tetapi mereka pura-pura tidak peduli.


"Eh appaan emang gue barang! inget ya gue cuma mau sama Haidar bukan sama kalian." ujar Alina sambil menatap wajah Haidar.


"Denger tuh." sahut Haidar dan semuanya melongo.


"Emang dasarnya tuh bocah, harusnya dipancing dulu baru mau ngomong!" kesal Edo.

__ADS_1


"Yaudah ah, mba kabur aja dari sini. kayaknya mba gak ada kesempatan buat dapet salah satu diantara kalian soalnya kalian berebut mau sama neng Alina." cibir Eni


__ADS_2