
Sudah jatuh tertimpa tangga! Mungkin itu lah kata yang pas untuk Meilla saat ini. Memang kemungkinan dia hamil atau tidak belum pasti karena meilla sendiri belum mengeceknya.
Tetapi pikiran meilla dan Alina pun tetap berarah ke sana. Karena, Meilla baru sadar kalau dia sudah telat haid selama 4hari. Meilla semakin menangis, karena takut dan khawatir. Biar bagaimanapun hubungan nya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Lalu bagaimana kalau ini benar terjadi padanya.
“Lin, gue takut!” cicit Meilla pelan sambil terisak.
Alina menggeleng dan berusaha untuk tidak khawatir dan panik juga di kondisi saat ini.
“Lo tenang ya, ehem lo udah pernah cek?” tanya Alina berhati-hati takut kata-katanya menyinggung Meilla.
Meilla menggeleng.
Alina menarik napasnya, “Kalay di cek sekarang, Lo mau?”
Meilla menggeleng lagi, “Gue takut, Lin!” seru Meilla.
Alina mengangguk, mengerti bagaimana perasaan Meilla karena dirinya pun ikut takut. Tetapi bagaimana, ini semua harus di cek.
“Tapi Lo harus tetap cek, gue telepon Elsa untuk beliin testpack nya ya?” seru Alina karena ia tak mungkin meninggalkan meilla, takut terjadi sesuatu nantinya.
Apalagi minta tolong Eni yang membelikan, nanti yang ada menjadi huru hara karena salah sangka.
Meilla mengangguk pelan.
Alina segera mengambil ponselnya di atas meja belajar, dan langsung mendial nomer Elsa untuk meminta tolong membelikan testpack untuk Meilla.
“Halo, Sa. Lo dimana?”
“....”
“Tolongin gue dong, ke apotik beliin testpack!”
“....”
“Hust, berisik lo! Udah cepetan, belinya sendiri aja terus langsung ke rumah gue. Jangan ajak Lio dulu ya!”
“....”
“Nanti Lo juga tahu, udah buruan!”
“....”
Bip
Setelah mematikan panggilan nya, Alina kembali ke Meilla yang sedang berbaring di tempat tidur dan membantu mengoles minyak angin pada perutnya.
__ADS_1
“Alina, kalau ini bener terjadi sama gue gimana?” cicit Meilla dengan suara pelan karena lemas.
Alina menggengam tangan Meilla dengan erat, “Gue sama yang lain akan selalu menemani lo, La!” hanya itu yang bisa Alina katakan.
Meilla menggeleng, “Rasanya gue mau bunuh diri aja Lin, kalau itu bener terjadi! Gue malu Lin, malu!”
Alina langsung mengusap kepala Meilla sambil bergeleng, “Lo gak bisa berpikir seperti itu Lin, lo egois berarti. Kalau emang itu terjadi, anak yang di dalam perut lo kan gak bersalah. Lo tega ngehancurin dia gitu aja?”
Meilla terdiam.
“Lo gak perlu takut, gue sama yang lain tetap akan nemenin lo, gimana pun kondisi lo! Asal Lo gak berbuat yang aneh-aneh!” pesan Alina.
Meilla hanya bisa terdiam.
Tak lama, Elsa telah tiba karena memang kebetulan ia sedang di jalan bersama Lio. Elsa meminta Lio mengantarkan nya ke apotik, beralasan ingin membeli obat batuk untuk Alina. Setelah itu Elsa meminta Lio untuk pulang lebih dulu, karena ia ingin main di rumah Alina.
“Lin, ini testpack-” seru Elsa setelah menutup pintu kamar Alina.
Elsa terkejut saat melihat Meilla yang sedang berbaring di sana, dengan Alina yang memijit kepala sahabatnya itu.
“Meilla?” seru Elsa saat sudah berdiri di samping kasur milik Alina.
Meilla yang sedang menutup matanya, langsung terbuka dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Sa.” cicit Meilla lalu kembali menangis.
“Lo kenapa?” tanya Elsa dan langsung di tepuk bahunya oleh Alina dengan pelan.
Sekarang Elsa tahu, untuk siapa testpack yang di belinya ini. Kejadian di hotel memang Elsa tidak tahu, tapi Elsa sudah mendengar semuanya dari Lio yang dapat informasi itu dari Nanda.
“Lo cek dulu ya?” seru Alina.
Meilla menggeleng, “Takut!”
Elsa membantu Meilla untuk bangun dari tidurnya, “Gak perlu takut, di cek dulu biar tahu hasil pastinya!” seru Elsa.
Meilla bangkit dan melangkah ke arah kamar mandi untuk melakukan tes di sana. Raut wajah Alina dan Elsa tidak bisa di pungkiri kalau mereka pun sama takutnya dengan Meilla.
“Kalau beneran Meilla hamil, gimana Lin?” cicit Elsa dengan pelan agar Meilla tidak mendengar.
Alina mengangkat bahunya, ia pun tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui fakta yang sebenarnya nanti.
“Gue cuma gak bisa bayangin gimana sedihnya jadi Meilla, lo tahu gak kalau hubungannya sama Edo lagi ada masalah karena orang tua mereka ternyata.
Elsa menggeleng, “Lo serius?”
__ADS_1
Alina mengangguk, “Iya, dia datang ke sini karena mau cerita tentang itu.semalam kan mereka pertemuan keluarga dan sampai sekarang Edo gak bisa di hubungin!”
“Ya ampun, serumit itu kah. Kasihan banget Meilla, terus kita harus gimana Lin?”
Belum sempat Alina menjawab, terdengar suara tangisan kencang dari arah kamar mandi. Tanpa berpikir lagi, keduanya langsung berlari ke kamar mandi untuk mengetahui kondisi Meilla.
“La, gimana?” tanya Alina sambil mengelus punggung Meilla.
Hasil testpack yang sudah di cek oleh Meilla, langsung di berikan kepada kedua sahabatnya dengan berat hati. betapa terkejutnya mereka dengan hasil yang menunjukkan garis dua, alias positif hamil.
Tangis Meilla semakin kencang, tanpa di sangka Alina dan Elsa pun ikut menangis. Seakan merasakan bagaimana sedihnya menjadi Meilla saat ini.
“Gue hamil Lin, Gue hamil Sa! Gue hamil!” teriak Meilla sambil memukuli perutnya.
Alina dan Elsa berusaha untuk menghentikan pergerakan Meilla itu, takut malah berdampak pada janin di dalam perut nya.
“Lo tenang, La. Lo gak sendiri, lo ada kita ada yang lain juga! Lo yang sabar!” seru Elsa.
Meilla menggeleng, “Ayah dari bayi ini aja gak ada kabarnya Sa, gimana gue bisa tenang!” seru Meilla sambil terisak.
“Gue malu, gue takut! Gue mau bunuh diri aja! Gue gak sanggup lewatin ini semua!” teriak Meilla menggebu-gebu.
Elsa dan Alina masih terus berusaha menenangkan Meilla. “La, Lo gak bisa berpikir kaya gitu. kasihan anak lo,please La, lo tenang dulu ya!” seru Elsa dan begitu pun Alina.
Setelah mendudukkan Meilla di kasur, Alina segera mengambil ponselnya untuk mencoba menghubungi Edo dan memberitahu kondisi Meilla saat ini.
Tapi sayang, Edo tidak menjawab panggilan itu padahal Alina sudah mengulang nya hampir tiga kali panggilan.
“Gue harus gimana sekarang? Gue takut papi gue marah dengan ini semua Lin, Sa! Gue udah buat malu keluarga gue! Gue takut Lin, gue ngerasa udah gak ada guna lagi gue hidup!” seru Meilla.
Elsa dan Alina memeluk Meilla bersama sambil menangis bersama, sedih rasanya mendengar ucapan dari Meilla tadi.
“Gue yakin, Lo bisa ngelewatin ini semua La! Di sini ada kita, gue sama Elsa akan selalu ngelindungi lo dan berada di samping lo sampai kapanpun!” seru Alina.
Elsa mengangguk, “Iya, lo jangan pernah merasa sendiri ya. Gue kan selalu ada buat lo kapan pun lo butuh, lo harus kuat demi calon bayi lo ya?”
Meilla terdiam dan semakin menangis, mendengar kata CALON BAYI yang di sebutkan Elsa tadi. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong tahu gak sih! Tidak pernah Meilla berpikir sedikit pun tentang ini, tetapi mengapa semua ini terjadi padanya.
Di bilang gak sanggup melewati ini semua, tapi ia harus merasa sanggup karena memang ada calon anak yang tidak berdosa di dalam perutnya saat ini.
Lalu bagaimana dengan Edo? Bagaimana dengan hubungan nya? Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Bagaimana dengan pendidikan nya? Semua hancur! Semua malu karena insiden ini. Meilla bingung harus menyalahkan siapa saat ini!
Yang jelas saat ini, Meilla harus berusaha untuk terus menghubungi Edo dan memberitahu kondisi nya saat ini. Meilla bersyukur karena memiliki Alina dan Elsa yang mengerti dengan kondisi saat ini. tidak meninggalkan nya karena merasa jijik dengannya.
Meilla harus kuat, Meilla harus bisa melewati ini semua. ia tidak sendiri, ada Alina dan Elsa yang bilang akan selalu bersama dengannya. ada Nanda dan Lio serta Haidar yang akan menjadi garda terdepan untuknya.
__ADS_1
Dan yang paling penting ada calon anaknya, yang menjadi sumber kekuatan nya saat ini dan nanti untuk menghadapi masalah besar yang akan timbul sebentar lagi.
Sedih ya jadi Meilla:(