Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
menebus rasa bersalah


__ADS_3

"Haidar dan yang lainnya, mau tawuran sama SMA Nuansa woy!" Teriak Elsa setelah melihat foto yang terkirim di ponselnya entah dari siapa.


Alina yang mendengar nama Haidar langsung bangkit dan melihat foto tersebut dari ponsel milik Elsa.


Bener, disebuah jalanan sepi Haidar dan anak-anak sekolahnya sedang berdiri dengan alparo serta anak SMA Nuansa yang lain. Tak lupa juga ada anak yang memegangi senjata tanjam.


Alina panik dan langsung mengambil tas kecilnya di atas meja belajar.


"Lo pada mau ikut gak ngusulin mereka?" Ujar Alina saat sedang memakai sepatu nya.


Ikut? Mau ngapain? Bahaya Alina! Seru Meilla sambil melongo.


"Gue gak mau Haidar kenapa-napa pasti ini terjadi karena gara-gara gue." Sahut alinavyang sudah siap.


"Kenapa sih lo gser begitu, udah deh gausah macem-macem ke sana segala. Kalo Lo kena sabet tuh balok gimana? Bukan cuma hidung Lo yang berdarah tapi pala Lo juga." Marah meilla


Elsa mengangguk tetapi sebenarnya ia juga penasaran sama orang tawuran.


"Ya udah, Lo berdua tunggu disini gue pergi dulu sebentar urusan gue selesai gue langsung pulang kok." Ujar Alina.


Meilla menghela nafas nya, "emang dasar kepala batu." Batin Meilla.


"Illa, mending kita ikut aja sari pada Alina sendiri lebih berisiko kan kalau ada kita bisa terjaga tuh anak apa lagi ada lo, ketua karate!" Seru Elsa.


"Yelah yelah!" Sahut Meilla malas dan akhirnya bangkit dari tempat tidur dan segera menyusul Alina ke bawah.


Untung saja Alina belum pergi.


"Alina, kita ikut!" Teriak elsa.

__ADS_1


Alina tersenyum lalu mengangguk, "ayo!" Sahut Alina di dalam mobilnya.


"Tunggu, tapi lokasinya dimana ya?" Ujar Alina polos.


Meilla menepuk jidatnya, "Lo kira, Lo tau Lin sudah tau tujuan nya kemana ternyata ga tau," ucap Meilla.


Elsa melihat foto nyalagi dan berusaha meneliti dimana lokasi itu dan ga dia tau dimana terjadi.


"Ah ini mah jalan yang dekat tempat futsal itu, yang sepi loh!" Ujar Elsa dan langsung di anggukin oleh Alina.


***


Sedangkan di lokasi yang di sebut kan Elsa tadi, sudah sangat ramai. Bahkan suara makian dan kata-kata kotor sudah terdengar.


Haidar sebagai pemimpin disini berada di barisan paling depan, di samping kanan dan kirinya ada Edo dan Nanda dan di belakang nya ada Lio dan Alfin. Jangan lupakan anak SMA Garuda yang lainnya. Memang tidak ada nama kelompok khusus di antara mereka, yang jelas mereka suka berkumpul di basecamp yang Haidar buat.


Biasanya Aldo yang menjadi ketua di antara mereka bukan Alvaro dan Aldo pula lah yang berdamai dengan haidar. Tapi entah kemana sekarang Aldo bahkan tidak ada di tengah-tengah mereka.


"Ada masalah apa lagi? Bukannya kita udah damai?" Tanya Dimas yang berdiri di samping Alvaro.


Haidar hanya terdiam l, sambil terus menatap Alparo dengan tatapan tajam nya. Ia tidak akan melepaskan alparo sampe dia babak belur seperti apa yang dia lakukan ke Alina.


"Lo tanya sama ketua lo sekarang, dia banci! Bisa-bisa dia nonjok anak cewe di SMA Garuda sampe masuk ke rumah sakit!" Ujar Nanda sudah emosi.


Dimas menatap ke arah alparo seakan meminta penjelasan.


"Kita gak bisa selesaiin dengan cara lain tanpa ada keributan kaya gini? Gue gak mau melanggar janji gue sama almarhum Aldo karena ribut lagi sama SMA Garuda!" Seru Dimas dengan nada sedih.


Haidar dan yang lainnya kaget mendengar kabar itu, ternyata Aldo sudah meninggal. Karena apa? Kenapa mereka tidak mendapatkan kabar duka ini.

__ADS_1


"Aldo meninggal?" Ujar Lio.


Dimas mengangguk lesu, "iya, udah mau sebulan. Aldo meninggal di luar negeri, dia sakit makannya harus di rawat di sana. Jenazahnya pun di kuburin di sana." Jelas Dimas sedih mengingat itu semua.


Haidar terdiam, merenungi apa yang barusan di ceritakan oleh Dimas untuk tidak bertengkar lagi dengan SMA Garuda.


"Balik!" Seru Haidar tiba-tiba membuat siapa aja mendengarnya melongo tak percaya.


Gimana mau percaya, mereka sudah siap di jalannan yang sepi ini dengan atribut masing-masing lalu tiba-tiba di suruh balik.


"Balik? Emang dasar banci Lo!" Seru alparo tertawa mendengar ucapan Haidar tadi.


Nanda yang sudah emosi sejak tadi, langsung menghantam wajah alparo dengan keras hingga alparo mundur kebelakang beberapa langkah dan terdengarlah suara triakan kencang entah dari mana datangnya suara tersebut.


"Bangsat! Serang!" Teriak alparo dan langsung membuat keadaan ricuh.


Semua saling baku hantam, begitu pula dengan Haidar niatnya ingin menahan emosinya menjadi ikut emosi karena Andre yang memulai lebih dulu. Sedangkan Dimas hanya menggeleng lalu menepi ke arah trotoar bahkan tidak ada yang berani menghampiri untuk mengajak duel.


"Aldo, maafin gue karena ini semua terjadi lagi!" Ujarnya sedih sambil melihat ke atas langit.


Suara teriakan pun semakin terdengar keras membuat siapa saja semakin menggebu-gebu untuk menghabisi lawannya.


"Lo kenapa sampe ngelakuin ini semua, cuma karena belain Alina? Lo suka sama tuh cewek? Eh iya gue lupa, Lo kan ga suka sama cewek!" Cibir alparo di tengah baku hantam nya dengan Haidar.


Haidar diam saja tidak menanggapi omongan alparo tadi.


"Sebelum lo pacarin Alina, gue duluan yang bakalan pacarin tuh cewek. Soalnya kan lo selalu kalah sama gue!" Ledek alparo lagi.


"Berani Lo deketin Alina, gue habisin Lo detik ini juga." Ujar Haidar tajam, bukan takut Alparo malah tertawa.

__ADS_1


__ADS_2