
Banyak yang bilang, masa SMA itu adalah masa paling indah. Masa di mana kita mulai beranjak dewasa, masa dimana kita mulai mengenal apa arti pertemanan dan persahabatan dan masa dimana akan mengenal namanya cinta.
Hari Senin, tepat adalah hari di mana ujian kelulusan akan berlangsung untuk siswa dan siswi kelas 12 di seluruh Indonesia. Semua siswa dan siswi di wajibkan untuk ikut ujian sebagaimana syarat kelulusan nantinya.
Setelah hampir 5 bulan lamanya, mereka terus di gencar dengan berbagai ujian, mulai dari try out, ujian praktek, ujian sekolah sampai yang akhir adalah ujian nasional atau ujian kelulusan.
Nilai yang di dapat di ujian ini sangat berpengaruh nantinya untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, entah masuk universitas atau untuk ngelamar kerja.
*
Pagi ini sangat cerah, secerah senyuman Alina. Bisa di bayangin aja ya hehe.
Alina melangkah berjalan menuju ruangan yang ia dapatin untuk ujian nanti, begitu pula dengan Haidar. Mereka berjalan berdampingan, desas desus terus terdengar sampai mereka tiba di depan ruangan Alina.
“Lo ruangan berapa?” tanya Alina pada Haidar.
“Ruang 6.” jawab Haidar dan di anggukin oleh Alina.
“Ya udah sana masuk, gue juga mau masuk mau ngulang materi lagi.”
Haidar menggeleng, “ikut.” seru nya membuat Alina tersenyum kecil lalu mengangguk.
Alina memasuki ruangan di ikuti oleh Haidar di belakangnya, Alina duduk di bangku yang sudah bertuliskan namanya di sana. Begitu pula dengan Haidar yang duduk di kursi milik orang lain.
“Lo semalem belajar gak?” tanya Alina dan Haidar hanya menggeleng.
“Kenapa? Ah iya lupa, lo kan juara 2 paralel ya ngapain belajar.” seru Alina mengingat Haidar memiliki otak yang cukup cerdas.
“Lo juara satunya.” sahut Haidar membuat Alina terkekeh.
Iya, benar. Alina juara 1 paralel dan Haidar juara 2 nya. Pasangan yang serasi bukan? Sama-sama memiliki otak yang cerdas dan wajah yang cantik dan ganteng. Bayangkan mereka sampai menikah.
Tak lama terdengar suara deringan ponsel dari saku rok Alina, dengan cepat Alina menerima panggilan tersebut.
“Hallo, Alvaro.”
“....”
__ADS_1
“Lo juga ya, semangat!”
“....”
Bip
Haidar yang mendengar itu masih tetap emosi, padahal Alina sudah sering bilang pada Haidar tidak perlu cemburu dengan Alvaro karena ia tak memiliki rasa apapun pada Alvaro tetapi tetap saja.
“Alvaro lagi?” tanya Haidar ketus.
Alina mengangguk jujur, “Iya, stop gak usah marah!” ujar Alina to the point.
“Stop berhubungan sama Alvaro!” seru Haidar kembali menyeruakan isi hatinya.
Alina menggeleng, “Kita mau ujian, gak perlu bahas masalah ini terus!”
Tanpa menjawab Haidar bangkit dari duduknya lalu keluar ruangan Alina begitu saja, Alina hanya menghela napasnya.
“Nanti juga baik sendiri.” ujar Alina pelan lalu melanjutkan belajarnya.
Tak lama datang seseorang yang menghampiri mejanya, Alina melihat ke arah orang tersebut, dan ternyata adalah Vanesa. Mau ngapain ini orang batin Alina.
Alina hanya mengangguk lalu tersenyum, sejauh ini menurut Alina ia tidak memiliki masalah apapun pada gadis didepannya.
“Alina, setelah ujian nanti, papahnya Haidar mau ketemu sama Lo, Lo bisa gak?” ujar Vanesa tiba-tiba membuat Alina kaget.
“Lo gak usah ngomong sama Haidar ya, dia pasti gak akan izinin lo ketemu sama bokapnya.” ujar Vanesa lagi.
Alina bingung harus jawab apa, kalau ia tolak sama aja gak sopan gak sih? Apalagi ini orang tua kandung cowok yang selama ini ia suka, biar bagaimanapun dia tetap papahnya Haidar kan?
“Bisa kok, nanti lo kasih tahu gue aja mau ketemu kapan.” jawab Alina pada akhirnya.
Vanesa mengangguk, “Thabks ya Lin, nanti gue samperin ke papah kalau lo bisa ketemu sama dia.” Alina mengangguk.
Setelah itu Vanesa pergi dari meja Alina dan berjalan ke arah mejanya sendiri, tak lama Lio masuk ke dalam ruangan menghampiri meja Alina.
“Lin, lo Alain si Haidar? Manyun noh di ruangannya!” seru Lio memberitahu kondisi Haidar yang sedang merajuk padanya.
__ADS_1
“Bodo ah Yo capek gue bilangin tuh orang! Di bilang gue gak ada apa-apa sama Alvaro, tapi nyuruh gue jatuhin Alvaro terus!” gerutu Alina.
“Yah lo lagian, Haidar sama Alvaro itu musuh dari dulu, wajar kalau Haidar marah, Lo masih deket-deket sama Haidar.”
“Permusuhan itu gak akan hilang kalau kita masih terus nyimpen dendam Yo, seharusnya mereka sudah menjadi sahabat lagi, karena kejadian itu udah lama banget!”
Lio terdiam tidak menjawab ucapan Alina, karena apa yang Alina katakan itu benar. Lagi pula yang salah disini bukan nya Haidar? Kan dia yang mengambil Diana dari Alvaro? Atau ada masalah lain sebenarnya makanya Haidar masih belum bisa memaafkan Alvaro?
“Lin, sebenarnya perasaan lo sama Haidar itu gimana sih? Dulu lo ngejar-ngejar dia, sekarang saat dia ingin lo jadi pacarnya tapi lo tolak terus! Bingung gue!” Lio yang memang bingung dengan hubungan Alina dan haidar.
“Apa karena lo udah tau tentang masalah keluarga Haidar, yang hancur nanya seakan lo coba untuk ngejauh dari tuh anak?” ujar Lio mengira-ngira.
Alina langsung melayangkan buku paketnya tepat di depan wajah Lio, membuat Lio mengaduh karena buku paket itu sangat tebal.
“Sialan lo!” gerutu Lio.
Alina menghela napasnya, “Kenapa lo nuduh gue begitu jahat?” seru Alina dengan nada dramatis.
“Yah gue heran aja sama lo, dulu lo sampe rela putusin urat malu lo sama haidar, di kacangin, di teriakin, di ketusin tetap aja ngejar Haidar!”
“Gue begini karena udah tau masa lalu dia, bukan karena keluarganya ya, tapi karena dia masih nyimpen Diana di hatinya. Gue tahu Diana itu udah gak ada lagi di bumi ini tapi gue gak bisa kalau sayang Haidar terbagi. Lo ngerti gak sih maksud gue?”
Lio mengangguk, “Ngerti Lin, ngerti. Tapi kesannya lo egois gak sih? Lo gak rela hati Haidar terbagi pada orang yang jelas jelas udah gak ada, yang gak ada akan gak akan pernah gangguin hubungan lo sama Haidar nantinya.”
“Gini deh simplenya, apa lo juga gak rela kalau sayangnya Haidar terbagi buat ibunya?”
Alina nampak berpikir, sebelum suara Lio kembali berseru, “Lin, semua punya porsi nya masing-masing, Haidar gak bisa lupain Diana bukan berarti karena rasa cinta dia yang belum hilang tapi karena rasa bersalah. Gue yakin, Haidar sudah nepatin Diana di ruang berbeda di hatinya, begitu juga Lo.”
“Gue rasa lo gak perlu khawatir tentang ini, Lin. Semua orang pasti punya masa lalu, termasuk lo kan? Memang Haidar pernah nanyain masa lalu atau permasalahan masa lalu lo? Engga kan?”
“Gue harap lo bisa mikirin apa yang tadi gue bilang, jangan bikin lo nyesel nantinya. Semua orang pasti punya batas kesabaran bukan, kaya li aja, gue tau sebenarnya Lo sempat jenuh kan dan milih buat ngejauhin Haidar, eh sekarang waktunya malah terbalik.”
“Kita gak tau kan rencana Tuhan ke depannya gimana, gue harap lo sama Haidar bersatu. Bukan karena Haidar temen gue makanya gue bela dia, tapi gue rasa Lo memang orang yang tepat buat dampingi hidup dia yang hancur selama ini.”
Tepat saat akhir pembicaraan Lio tadi, suara bel masuk terdengar. Sebelum Lio menuju tempat duduknya, Lio menepuk kepala Alina dua kali lalu tersenyum.
“Thanks yo.” ujar Alina dan di anggukin oleh Lio.
__ADS_1
“Sekarang fokus ujian dulu, jangan di pikirin dulu omongan due tadi setelah ujian selesai baru boleh lo pikirin, oke” Alina mengangguk.