
Pagi yang cerah di hari kedua ujian kelulusan pada tahun ini, seperti biasa Alina selalu menebarkan senyumannya pada Setio orang yang melintas di depannya.
Tetapi bedanya hari ini, Alina berangkat sendiri membawa motor. Entah mengapa hari ini Haidar tidak menjemputnya bahkan sejak semalam tidak ada jawaban atau balasan dari chat nya.
Alina sampai bertanya pada Edo, Nanda dan Lio tetapi mereka semua pun tidak sedang bersama Haidar malam itu.
Alina melangkah ke ruangan Haidar dengan hati riang, baginya gak masalah tidak di jemput pagi ini toh memangnya Haidar tukang ojek pikirnya.
Saat sampai di depan ruangan Haidar, ternyata Haidar belum sampai ke sekolah. Itu informasi dari Edo yang tengah duduk di ruangan nya bersama Nanda.
“Kayaknya tuh anak kesiangan deh.” ujar Edo
Alina mengangguk, “Berarti dia gak jemput gue bukan karena marah, tapi karna kesiangan mungkin.” ujar Alina dalam hati.
Saat hendak pamit dari sana, Alina melihat Haidar yang sedang berjalan ke arahnya alias ke ruangannya dengan Lio di sampingnya.
Alina langsung tersenyum dan menunggu Haidar sampai di depannya, tetapi sayang Haidar melewati nya begitu saja, tidak ada sapaan bahkan tidak melirik Alina sama sekali.
Alina membalikkan badannya lalu melangkah menuju Haidar tengah bergabung dengan sahabatnya yang lain, belum sampai di depan Haidar, suara Haidar membuat Alina menghentikan langkahnya.
“Gue masuk.” pamit Haidar lalu pergi ke dalam ruangan tanpa melihat ke arah Alina sedikit pun.
Edo dan Nanda yang melihat respon Haidar seperti itu pun bingung, ada apa sebenarnya? Apa mereka sedang ada masalah? Pertanyaan mereka dalam hati.
Sedangkan Lio yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya, Lio sudah tahu masalahnya dan Lio sudah memberi masukan pada Haidar tetapi tidak di jalankan.
“Lo lagi ada masalah sama Haidar?” tanya Edo pada Alina yang sedang melihat ke arah pintu ruangan Haidar.
Alina menggeleng, “Lo yakin gak sih Haidar marah sama gue cuma karena gue gak bales chat dia?”
Edo menggeleng, “Gue rasa Haidar gak separah itu deh!”
“Apa lo semua lagi nge-prank gue ya? Mau ada sesuatu ya buat gue makanya di bikin skenario kaya gini?” ujar Alina sangat percaya diri.
Nanda, Edo dan Lio langsung menggeleng cepat, menghilangkan apa yang Alina pikirkan karena itu semua tidak benar.
“Gye samperin jangan nih temen lo?” tanya Alina meminta solusi dari sahabatnya Haidar.
“Coba aja samperin, kasih Haidar penjelasan!” sahut Lio dan membuat Nanda dan Edo bingung.
“Penjelasan apa?” tanya Nanda.
“Yah tadi Alina kan bilang kalau dia gak bales pesan haidar, siapa tau Haidar salah paham tentang itu?” elak Lio membuat Alina mengangguk lalu menghampiri Haidar.
Edo menatap Lio curiga, “Lo udah tau ya masalah mereka?” tuduh Edo langsung.
Lio mengangguk lalu menceritakan semuanya apa yang tadi Haidar ceritakan padanya. Nanda dan Edo terkejut dengan cerita itu dan tidak langsung percaya begitu saja karena menurutnya Alina bukan tipe cewek yang seperti itu. Pasti ada alasan Alvaro melakukan itu pada Alina di balik perlakuannya semalam.
Alina masuk ke dalam dan langsung menghampiri meja Haidar, sedangkan pemilik meja sedang membuka aplikasi game kesukaannya dan ingin memulai permainan.
__ADS_1
“Haidar.” sapa Alina.
Haidar tidak menjawab sapaan itu dan juga tidak menoleh sedikitpun ke arah Alina yang duduk di hadapan dengannya.
“Haidar, gue salah ya?” tanya Alina lagi.
Tetap saja tidak ada suara langsung dari Haidar alias Haidar kembali ke mode yang dingin seperti dulu.
“Haidad, sorry semalam gue ketiduran jadi gak bales dan angkat telepon dari lo!”
Alina menghela napasnya, capek. Entah capek dalam hal apa tetapi ia merasa seharusnya masa ini sudah lewat dan gak ke ulang lagu. Tetapi ia salah, Haidar kembali seperti dulu dan bukannya itu sama saja Alina mempermainkannya?
Saat hatinya sudah percaya lagi pada Haidar, dan saat itu pula hatinya di buat patah. Alina harus bagaimana kalau seperti ini?
Dulu sudah berniat mundur untuk ini semua tetapi seperti dia tarik lagi ke dalam dunia Haidar, eh setelah semua berjalan dengan baik sampai Alina pikir Haidar mau memperjuangkan nya malah akhirnya seperti ini.
“Ya udah kalau lo gak mau ngomong sama gue lagi! Gue rasa memang lo gak sepenuh hati buat bikin gue percaya lagu sama lo.” ujar Alina.
“Cuma karena gue gak bales pesan dari lo, Lo bisa semarah ini? Anak kecil banget njir!” cibir Alina lalu bangkit dari duduknya ingin keluar lagi dari ruangan itu.
Belum sempat melangkah, suara Haidar terdengar.
“Lo bohong!” teriak Haidar membuat siswa yang berada di kelas melihat ke arah mereka.
Siswa yang lain sampai menggeleng-gelengkan kepala, karena tak habis pikir dengan kisah Alina dan Haidar yang tidak pernah ada ujungnya.
Sahabat Haidar yang sedang berada di luar pun melihat kejadian itu.
“Haidar, lepasin tangan Alina!” teriak Nanda.
Bukannya di lepas, Haidar malah menarik tangan Alina menuju ruang musik. Sedangkan yang lainnya masih terus berusaha membantu Alina yang sudah menangis karena menahan sakit. Sampai akhirnya tangan Haidar bisa di lepaskan.
Mereka berada di depan tangga, belum sampai ke ruang musik. Membuat mereka kembali jadi perhatian di sekolah.
“Lo kasar banget!” teriak Nanda tak suka perlakuan Haidar pada Alina.
Alina menangis sesegukan menahan perih di pergelangan tangannya dan juga menahan perih di hatinya.
“Gye udah kasih saran sama lo, bicara baik-baik dengerin penjelasan dia bukan malah kaya gi i!” tegas Lio mengingatkan haidar.
“Banci tau gak si lo!” ujar Edo menimpali.
Tak lama dari arah bawah tangga, datang Elsa dan Meilla. Keduanya bingung melihat semua temannya berada di depan tangga dengan posisi Alina sedang menangis.
Dengan cepat keduanya menghampiri Alina dan menanyakan apa yang terjadi, tetapi Alina tidak menjawabnya.
“Jelasin!” ujar Haidar membuat Alina bingung
Lio yang paham kalau Alina bingung harus menjawab apa langsung memberi clue agar Alina menjelaskan hal itu.
__ADS_1
“Tentang Alvaro semalam.” sahut Lio membuat Elsa dan Meilla menoleh ke arahnya, bingung.
Alina kaget dengan pernyataan itu, dari mana Lio tau kalau Alvaro berada di rumahnya semalam. Apakah Lio sengaja memata-matai nya dan mengadukan ini pada Haidar. Makanya Haidar bisa semarah ini?
“Lo tau dari mana?” tanya Alina masih dengan sesegukan nya.
“Gue lihat sendiri!” ujar Haidar.
Alina melotot tak percaya.
“Ternyata lo bukan cewek baik seperti apa yang orang lain bilang!” cibir Haidar.
“Maksud Lo?”
“Apa yang Lo lakuin sama Alvaro semalam?”
Alina menghela napasnya, ia sudah tahu sekarang Haidar semarah itu pasti dia melihat kejadian di mana Alvaro memeluknya tadi malam. Belum sempat menjawab suara Haidar kembali terdengar.
“Gue udah bilang sama lo, gue gak suka lo Deket sama Alvaro Lin, tapi apa? Lo malah pelukan bahkan sampai di cium kepala lo dan lebih parahnya lagi lo diem aja gak nolak ataupun marah sama dia!”
“Gue udah berusaha buat lo percaya lagi sama gue, apapun gue akan lakuin buat li tapi setelah gue melihat kejadian itu gue jadi mikir kalau lo yang mainin gue disini!”
“Gue tau Lin, perjuangan gue belum ada apa-apanya di banding perjuangan lo dulu buat gue, atau mungkin juga perjuangan gue kalah sama Alvaro yang lebih ngerti gimana lo!”
Alina menggeleng, “Lo salah, seharusnya lo bisa dengerin dulu penjelasan gue baru Lo bisa bicara kata gini, Dar.”
“Tapi kayaknya percuma deh, gue udah jelek juga kan di mata lo dan percuma juga gue jelasin apa yang sebenarnya terjadi.” ujar Alina yang entah kenapa hatinya sangat sakit.
Alina pergi begitu saja dari sana tanpa menoleh lagi ke arah mereka.
Sedangkan asih di tempat yang sama. Meilla langsung menghampiri Haidar dan tanpa di duga Meilla malah menampar pipi Haidar.
“Gue udah sering bilang Haidar, lo kalau gak bisa nerima Alina setidaknya lo gak nyakitin dia!” marah meilla.
“Sekarang lo lihat, bahkan bukan hatinya doang yang lo bikin sakit tapi fisiknya juga. Lo gak lihat tadi pergelangan Alina luka pasti itu ulah lo kan!” ujar Meilla lagi.
Edo langsung menarik Meilla menjauh dari sana. Saat Meilla sudah pergi, Lio yang mendekat ke arah Haidar dan menepuk bahu Haidar dua kali.
“Gye udah bilang, minta penjelasan baik-baik sekarang lihat Dar, Lo seakan menghakimi Alina dengan kata-kata Lo yang belum tentu bener!”
“Gue juga jadi ragu sama lo Dar, bener apa yang Lo tadi bilang ke Alina. Perjuangan lo mah mah masih kecil menurut gue, bahkan gak terlihat sama sekali keseriusan Lo buat Alina, gak kaya Alina yang benar-benar ngelakuin itu semua dengan tulus!” timpal Nanda.
“Gye rasa kisah li cukup sampai di sini aja deh Dar, gue gak mau ngelihat sahabat gue lebih sakit dari ini nantinya.” ujar Elsa.
Lio menggeleng, “Kita gak bisa ngelarang begitu Sa, semua keputusan ada di tangan mereka. Kita sebagai teman, cuma bisa mendukung apa keputusan mereka nantinya. Tapi kayaknya untuk sekarang, lebih baik lo gak usah deketin Alina dulu deh, biarin dia nenangin dirinya dulu.”
“Semoga lo paham maksud gue!” ujar Lio lalu mengajak Elsa dan Nanda pergi dari sana.
Lio tahu rasanya jadi Alina dan ikutan sedih melihat kondisi Alina tadi. Kalau saja ia bisa mengejar Alina saat itu tanpa membuat Elsa marah ia pasti akan lakukan untuk sahabat nya Alina.
__ADS_1