Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Di Tolak


__ADS_3

Kahfi tengah pergi dengan Omnya Riza. Sedangkan Ghaza dan Kayla tengah menghabiskan waktu bersama. Entah kemana pengantin itu pergi, bahkan Lexi di buat kagum oleh nasib Kayla sepupunya, bagai mans Ghaza memperlakukan Kayla layaknya seorang ratu dalam hidup pria itu.


Lexi sering berdoa agar suatu hari nanti ia mendapatkan jodoh mirip-mirip Ghaza lah, tapi jangan mirip bangat, perhatian, hangat, tampan, paham agama dan Lexi mengenal keluarga calon imamnya. Agar Allah tidak bingung Gus Kahfi saja saja Ya Allah pinta Lexi lancang.


Sungguh Lexi gambaran gadis tidak tau diri menyarankan Tuhan untuk menjodohkannya dengan Kahfi, dengan alasan agar Allah tidak bingung. Ck itu lebih dari konyol melainkan mendekati sinting. Untung saja permohon Lexi yang tau hanya kalian bukan orang lain.


.


Kahfa beserta kedua orang tuanya. Juga dengan ustadz Zaki dan keluarganya kini berada ruang makan menunggu Lexi yang belum bergabung meski sudah kembali di panggil.


Setelah beberapa kali di panggil Lexi kini menghampiri meja makan dengan wajah di tekuk membuat Kahfa mengernyitkan binhung, cepat sekali mood gadis itu berubah.


"Kau kenapa, wajahmu lebih kusut dari taplak meja kantin pondok?" tanya Kahfa akhirnya ia masih dendam pada Lexi yang mengatakan semoga jodohnya makin jauh.


Lexi hanya diam tanpa berniat menjawab. Ia kesal saat melihat postingan Kayla di story wa nya tentang keromantisan pasangan itu di atas wahana permainan. Kapan dia bisa seperti itu dengan Gus kahfi pria tampannya.


"Kau tuli?" Kahfa bertanya sarkas. Aisyah yang duduk di sebrang Kahfa sampai terjengkit, ia tak menyangka seorang Gus dapat berkata sekasar itu pada seorang gadis.


"Bukan urusanmu." Saut Lexi.


"Ku rasa selain aneh kau juga memiliki kelainan." ucap Kahfa datar.


"Gus Kahfa perhatikan ucapanmu. Di sini bukan hanya ada keluarga kita, ada juga keluarga calon istrimu." Sarkas Lexi.


Pernyataan cerdas Lexi semakin membuat Ibrahim terkagum dan memunculkan niatnya kembali di hatinya untuk memperjelas pertanyaan uminya untuk meminang gadis itu. Tak masalah Lexi adalah orang awam, justru ia semakin terpanggil untuk menunjukan jalan kebenaran pada hamba yang ingin memeluk agama Allah.


Lexi memperingati Kahfa, sampai pria itu terbatuk beberapa kali untuk menetralkan rasa perasaannya yang kadung malu.

__ADS_1


"Ayo kita mulai makan." Ridwan menengahi perdebatan antara putra sulung dan keponakannya sebelum terjadi perdebatan semakin jauh.


Perbincangan ringan mereka lakukan di antara kesibukan mereka menikmati makanannya.


Hanya Aisyah yang terlihat satu-satunya orang pendiam di sana, Lexi bahkan sudah kembali ceria saat Kahfi menanyainya sudah makan siang atau belum. Pertanyaan sederhana itu mampu mengubah kembali keceriaan Lexi seperti sediakala. Ya begitula netralnya seorang wanita, begitu sederhana dalam kebahagiaannya.


Sampai tiba-tiba suasana di meja makan terasa horor saat Ibrahim mulai berbicara serius.


"Om Ridwan! Mengenai pernyataan ibuku tadi, aku ongin memperjelasnya. Jika Lexi belum memiliki calon imam, saya bersedia menjadi calon suaminya saya akan bertanggung jawab atas diri Lexi di dunia maupun di akhitrat. Jika sekiranya lamaran saya di terima, mohon katakan jika ada syarat atau mahar tertentu yang harus saya penuhi." Ibrahim dengan lugas dan jelas mengatakan niatnya tak ada keraguan dalam bicaranya.


Harusnya Kahfa yang berkata itu pada Aisyah tapi Gus muda itu hanya diam sedari tadi. Aisyah bertanya-tanya dalam hatinya sebenarnya ini lamaran siapa untuk siapa.?


Ridwan mulai menimang-nimang jawaban atas pertanyaan putra temannya, ini di luar dugaan serta rencana mereka. Bukan ini maksud Ridwan mengundang Zaki bersilaturahmi di rumahnya, tapi harus bagaimana lagi semuanya berjalan seperti ini.


"Nak Ibra begini-" Ridwan sudah memulai berbicara tapi Lexi dengan sopan memotongnya.


"Silahkan Nak." ujar Ridwan mempersilahkan.


"jangan katakan jika Lexi akan sok cantik menerima setiap lamaran yang datang padanya mengingat Ibra juga adalah pria shaleh dan mapan." gunam Kahfa dalam hati, wajar saja ia berburuk sangka pada wanita masa kini. Kan memang itu faktanya.


"Saya tersanjung Mas mengajukan pinangan untuk saya." Lexi menjeda kalimatnya.


"Tuh kan wanita aneh yang di sukai Kahfi mulai bertingkah. Aku harus merekamnya agar Kahfi sadar jika wanita yang ia sukai seorang wanita plin-plan." Kahfa sudah mengambil ponselnya dan menekan rekaman suara, ini akan ia pergunakan sebagai bukti untuk adiknya.


"Maaf jika perkataan saya sekiranya menyinggung Mas Ibra dan keluarga. Saya bukan seorang wanita baik bahkan sangat jauh dari kata shaliha, saya hanya wanita akhir jaman yang entah sebanyak apa dosa yang saya perbuat dengan sengaja."


Ibrahim menyela ucapan Lexi sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Kita bisa belajar sama-sama." ujar Ibra.


"Maaf Mas, sebenarnya saya tengah menunggu pinangan seseorang."


Cess.


Hati Ibra terasa dingin terasa tersiram air es.


"Kau memiliki kekasih?" tanya ibra.


"Tidak, tidak saya hanya mengaguminya saja." Jawab Lexi malu-malu. "saya mengagumi sepupuku sendiri." Aku Lexi jujur.


Hah.


Semua terkejut termasuk Aisyah, gadis dewasa yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


"Kau menyukai Gus Kahfa?" tanyanya setengah tak percaya.


"Aku tau ini memalukan tapi aku tidak bisa berbohong."


Aisyah menatap Kahfa yang masih menampilkan ekspresi datarnya.


"Bukan. Aku menyukai Gus Kahfi."


"Jadi lamaranku di tolak?" ujar Ibra lesu.


"Maaf." Cicit Lexi pelan.

__ADS_1


__ADS_2