Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Abang Bisa Jamin


__ADS_3

"Mas, ko gitu sih? Jika menunda pernikahan satu atau dua minggu lagi aku tak masalah. Tapi jika sampai dua tahun aku keberatan." Lexi berdiri dari duduknya.


"Jika kau keberatan lebih baik batalkan saja."


Apa maksudnya?


"Abang apa-apaan sih maen batalkan saja. Jangan karna hubungan Abang dan Aisyah berakhir maka kau menyuruhku untuk mengakhiri hubungan." Kahfi kesal, yang ingin ia tunda adalah resepsi pernikahan bukan nikahnya, ia sudah mengatur jika besok ia akan menikahi Lexi di rumahnya di bantu uwanya Risma dan omnya Riza.


Kahfalah yang meminta Kahfi untuk membatalkan pernikahan, ia tak tega melihat bagaimana kecewanya Lexi saat ini, ia sendiri menyaksikan bagai mana Lexi mencintai adiknya sehingga ia tak memiliki cara lain selain mengancam Kahfi seperti itu.


"Lalu apa maksudmu dengan cara menunda pernikahan sampai dua tahun."


"Aku tidak bilang seperti itu. Aku hanya akan menunda resepsinya bukan pernikahannya. Enak saja kau main batalkan." Kahfi berdecak kesal.


"Cih kelakarmu sudar terbaca Bang, saat aku pernikahanku batal kau akan menawarkan diri bukan menjadi penggantiku. Jangan coba-coba kau!" Aura permusuhan di mata Kahfi terlihat jelas.


Lexi sedari tadi menyangka jika yang akan di tunda adalah pernikahannya ia menjadi malu sendiri, ternyata Kahfi tetap akan menikahinya besok tempatnya sendiri Lexi belum tau, karna sepertinya mustahil mereka menikah di gedung sesuai rencana awal, tapi sayang Daddy tidak akan bisa hadir besok pagi karna Mommynya dan urusan lain yang tak dapat di tinggalkan.

__ADS_1


Cinta hanya diam sesekali menhutak-atik ponsel di tangannya, sepertinya ia tengah bertukar pesan singkat dengan temannya.


"Lexi jika kita sudah menikah, aku ingin mengajakmu menemui pak Ahmad, orang yang sudah menolongku saat aku kecelakaan, apa kau mau?" Kahfi selalu lembut dalam bertutur kata inilah yang tidak Lexi dapatkan dari siapapun.


"Tentu, aku akan menemanimu kemanapun kau membawaku." ucap Lexi kembali. "Bisakah kau seperti ini? Emh maksudku sampai nanti kita sudah berumah tangga, tolong jangan pernah meninggikan suaramu kepadaku sekalipun kau sedang marah." ucap Lexi.


Kahfi menggaruk tengkuknya yang tak gatal ia melirik ke arah Kahfa dan Cinta yang menatapnya seakan meminta jawaban.


"Aku tidak akan berkata kasar atau membentakmu, jika aku tak sengaja meninggikan suara kau boleh memelukmu dan menciumku sebagai hukuman."


"Hadeh, Bucin. Ayo kita pulang. Kau besok akan menikah jangan sampai kejadian yang sudah-sudah terulang." Kahfa meminta Cinta untuk mendorong kursi rodanya.


.


Meski malam sudah larut baik Kahfi maupun Lexi sama sama tak bisa memejamkan mata barang hanya sekejap. Mereka harap harap cemas menyaksikan esok pagi.


Tenda sederhana pun sudah di dirikan di lapangan, seluruh penghuni pondok akan menjadi saksi bersatunya kisah mereka besok pagi.

__ADS_1


.


Ghaza masih menunggui istrinya di ruang rawat, di temani ibunya Ayudia. Sedangkan Ridwan dan Kimmy baru saja pulang, mengingat esok pagi Kahfi akan menikah dengan Lexi.


"Sayang."


Ghaza bisa menarik sedikit bibirnya untuk menyunggingkan senyumannya. Saat kelopak mata Kayla bergerak secara perlahan, Istrinya sudah terbangun dari tidur panjangnya.


Kayla terlihat linglung dan bingun lalu ia berucap pelan. "Air."


Dengan telaten Ghaza memberikan minum pada Kayla menggunakan sedotan, hal itu tak luput dari pantauan Ayudia yang duduk di atas kursi sopa.


"Bang anak kita?" Luruh sudah pertahanan Kayla saat menyadari perutnya sudah kembali rata, airmatanya tak mampu ia bendung dan terus menganak sungai menyusuri permukaan pipinya.


"Yang ikhlas Kay, insya allah. Allah akan mengganti apapun yang di ambil dari kita, Allah adalah pemilik yang sesungguhnya. Selagi Allah masih membiarkan Abang memilikimu, Abang akan baik-baik saja." Ghaza memeluk tubuh ringkih yang masih terbaring.


"Tapi aku tak sudi jika Abang minta nikah lagi."

__ADS_1


"Abang bisa jamin itu tidak akan terjadi!"


__ADS_2