
"Tidak usah di bahas. Aku sudah melupakannya."
Kahfa berdiri, ia segera membuka kancing kemejanya, dengan sangat santai di hadapan Lexi.
"Kau mau apa?" Lexi beringsut dari duduknya.
"Mendatangimu. Kita masih suami istri. Tidak mungkin kau lupa." ucapnya datar.
"Kalimatmu sungguh ambigu Kahfa." Lexi beranjak hendak keluar namun pintu kamarnya benar-benar di kunci Kahfa. Yang kini tengah tersenyum kepadanya dengan raut menyebalkan.
"Semenjak menikah kita belum pernah melakukan ritual suami istri. Ayolah Lexi, jangan membuat aku memaksamu." Kahfa mendekat dengan bagian tubuh atas yang sudah tak tertutup apapun.
Lexi membolakan matanya. "Jangan nekad Kahfa, aku memperingatimu!" Lexi mengacungkan satu tangannya sebagai peringatan supaya Kahfa tidak mendekatinya.
Kahfa benar benar Nekad kali ini pria itu bahkah sudah meraih pinggang Lexi, dan menahan Lexi agar tetap merapat ke tubuhnya.
“Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa”. Kahfa menyucapkan do'a itu pelan tepat di atas ubun-ubun Lexi.
Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Lexi semakin di buat beringsut kala Kahfa mengucapkan doa itu, Lexi bahkan sudah hapal do'a itu karna almarhum suaminya yang mengajarinya dulu.
__ADS_1
"Kahfa lepas!" Lexi semakin memberontak. Ia tau tindakannya salah, tak seharusnya ia terus menghindar saat suaminya meminta haknya. Namun ia tak bisa melakukannya jika moodnya tengah buruk, namun pria itu adalah Kahfa ia tak mungkin sepengertian Kahfi mereka berbeda dan Lexi tak bisa menyamakan mereka.
"Sekalipun kau memohon untuk ku lepaskan aku tak akan mengabulkannya." Kahfa meraup bibir istrinya membawanya pada ciuman panas.
Kahfa benar-benar mendatangi istrinya, mendatangi Lexi dengan kesadarannya penuh.
Lexi tak dapat menolak apa lagi mengelak. Ini memang kewajibannya.
Untuk pertama kalinya Kahfa mereguk indahnya syurga yang banyak orang perbincangkan, ternyata rasanya memang semenakjubkan itu.
"Lexi ..."
Kahfa meneriaki nama istrinya berulang kali. Sampai ia mencapai di akhir permainan dengan mata yang terpejam dengan mulut yang menganga, sekujur tubuhnya bergetar hebat menghantarkan pelepasan pertamanya..
Tak Lexi pungkiri, permainan Kahfa sangat lembut sehingga membuatnya nyaman meskipun di awal Kahfa terlihat grasa-grusu dan tergesa-gesa. Namun di tengah permainan Kahfa melembut dan berulang kali menanyakan kenyamanan istrinya, meski Lexi tak sepenuhnya menerima, tapi ia tak menolak kala Kahfa mendatanginya dengan beberapa dalil yang ia miliki, sungguh Lexi berada dalam di lema yang luar biasa.
Di samping ia lega karna dapat melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk Kahfa, tanpa bayang-bayang Kahfi.
Lexi membalik tubuhnya untuk membelakangi Kahfa, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kuharap kau memaafkanku juga untuk hal ini. Aku pria dewasa, tak selamanya aku bisa memendam hasratku. Aku juga butuh pelepasan untuk menuntaskannya." Lirih, Kahfa, seandainya Lexi marahpun ini resikonya.
__ADS_1
"Ya aku mengerti."
Kahfa hendak membelitkan tangannya ke tubuh Lexi, namun ketukan pintu serta suara adzan dzuhur sudah berkumandang.
Kahfa memakai bajunya juga celananya dengan cepat.
"Kahfa ..." terdengar suara Kimmy yang memanggilnya.
"Mama." Kahfa menebak jika Zayn juga bersama ibunya. Mati Kahfa apa yang harus ia bicarakan pada bocah itu.
Kahfa membuka pintunya sedikit dan segera keluar dari kamar itu, ia tidak membiarkan sedikit celahpun, agar Lexi tidak ketahuan oleh bocah itu.
Ibu Kimmy yang mengetahui dan bisa menebak apa yang terjadi ia hanya menyulum senyumnya.
"Kata Nenek, Mama tidur karna kelelahan ya Om." tanya Zayn polos.
"Ya, Nenekmu benar." Kelelahan dalam arti lain, ucap Kahfa dalam hati.
"Om, ayo kita ke mesjid dengan Kakek." Zayn sudah memegangi tangan Kahfa, beruntung bocah itu tak menanyakan keberadaan ibunya lebih jauh lagi, Zayn percaya ibunya memang tidur karna kelelahan.
"I-iya Zayn duluan pergi sama Kakek. Ya. Papa harus mandi dulu." Kahfa terlihat gelagapan menjawab Zayn.
__ADS_1
"Mandi? Om habis ngapain? Om berkeringat?" Mati Kahfa, kali ini ia benar-benar di sekak mati oleh seorang bocah lima tahun, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia habis mengerjai Mamanya kan?