Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Pengakuan Kahfa


__ADS_3

Lexi berjalan dengan perlahan-lahan juga dengan kepala yang celingukan bisa malu dirinya jika ada yang mendapati dirinya menenakan bendera untuk melewati jalan menuju rumah tantenya.


Untung saja dari sekian banyak orang yang berlalu lalang di sana tidak ada yang menyadari jika dirinya mengenakan bendera untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Syukurlah." Lexi mengusap lega dadanya. Dengan tubuh yang bersandar di pintu. Ia merasa seperti seperti terbebas dari himpitan masalah yang memerangkapnya.


"Sedang apa Kau?" Kahfa tiba-tiba datang megejutkan Lexi yang bersandar di daun pintu. Sampai Lexi sedikit meloncat karna kaget.


"Astaga, Kau mengejutkanku." Lexi masih memegang dadanya yang berpacu dengan cepat, ia berani bersumpah jika ia terkejut oleh perbuatan sepupunya.


"Kau habis melakukan kejahatan?" Kahfa memandang Lexi penuh selidik, seakan Lexi adalah seorang tersangka yang siap untuk di hakimi. Astaga apakah ada tampang kriminal pada wajah Lexi? mengapa kedua bersaudara itu seakan memfitnahnya?


"Hey. Kau seorang ustadz ahli agama tak baik menuduh orang seperti itu!" Lexi memperingati saudara sepupunya yang tampan. Ia tak sedikitpun mengalihkan tatapan dari wajah yang ada di hadapannya.


"Aku hanya bertanya bukan menyangka dirimu sebagai pelaku kriminal." Kahfa memahami maksud kalimat Lexi. Beberapa kali Kahfa membuang wajah serta tatapannya saat mendapati Lexi menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Nanya dang Nyangka itu beda tipis Gus. Terggantung cara kau menyampaikannya." Lexi masih menatap Kahfa dengan rasa kagum yang membuncah, ia sampai melupakan Bendera yang membalut tubuhnya dari pinggang ke batas perpotongan lututnya.


"Lexi apa yang kau lihat? Jangan memandangku seperti itu. Aku merasa tak nyaman." Kahfa menggaruk beberapa kali tengkuknya yang tak gatal, ya seorang Kahfa Omar kini tengah salah tingkah di hadapan seorang gadis muda yang juga sepupunya sendiri.


"Aku sedang melihat karya Tuhan sekaligus mengaguminya." Tak tau malu. Lexi benar-benar jujur mengungkapkan apa yang ia rasakan.


"Astaghfirullah." Jantung Kahfa berdetak beberapa kali lipat lebih cepat dari biasanya, darahnya mengalir diantara uratnya dengan perasaan sulit untuk ia jelaskan. Gadis muda ini terlalu bahaya untuknya, tapi Kahfa beberapa kali memperingati dirinya sendiri jika Lexi bukan tipenya. Ia hanya akan menikahi seorang wanita yang berilmu serta baik agama. Bukankan bibit bebet bobot dalam memilih pasangan adalah hal yang penting.

__ADS_1


Lexi memilih berbalik dan hendak berlalu dari sana, di samping Lexi yang terlalu mengagumi Kahfa, dirinya juga tak ingin kehilangan kendali akan ketampanan saudaranya, Lexi tak janji imannya yang setipis kulit bawang akan tahan lama melihat wajah tampan dan tubuh tegap yang di balut baju koko itu. Bisa-bisa Lexi mencium pria itu. Lexi sadarlah jika ia harus membersihkan diri. Buru-buru Lexi melangkah, sebelum Kahfa memanggilnya kembali.


"Tunggu!"


"Ya Tuhan apa lagi?" Lexi mengerang frustasi saat Kahfa memanggilnya, imannya benar-benar di uji kali ini. Kahfa dan Kahfi adalah ujian terberatnya saat ini.


"Darimana kau mencuri bendera itu?" Kahfa melihat bendera yang terikat di pinggang Lexi.


"Aku tidak mencurinya. Gus Kahfi yang melakukannya. Permisi." Lexi buru-buru berlalu meninggalkan Kahfa yang tengah kebingungan.


.


"Kahfi."


"Kau mencuri sebuah bendera dan kau berikan pada Lexi?"


"Ya Allah, Abang tuduhan macam apa yang kau layangkan pada adik tampanmu ini?" Kahfi mendrama keadaan. "Lihatlah Bu, putra sulungmu menuduhku!" Kahfi mengadu pada ibunya.


"Kahfa jangan seperti itu." Kimmy memperingati putra sulungnya.


"Aku berkata sebenarnya Bu, Lexi mengenakan Bendera di pinggangnya, dan gadis itu mengatakan jika Kahfi yang memberinya bendera." Kahfa menatap penuh selidik pada adik kembarnya.


Kahfi yang di tatap justru malah menimbulkan semburat merah muda di pipinya membuat Kimmy dan Kahfa penuh curiga.

__ADS_1


"Itu, itu. Anu Bu." harus seperti apa Kahfi menjelaskannya? Tidak aetetic kan jika Kahfi mengatakan ia memberikan bendera itu pada Lexi karna agar Lexi tidak malu.


Kimmy menyadari raut merona pada wajah putranya, Kimmy bukanlah orang tua yang abai pada setiap eksperi yang di tunjukan putranya. Tapi Kimmy harus menghargai Kahfa terlebih dahulu, ia harus menanyai putra tertuanya bagaimana pendapat Kahfa tentang keponakan cantiknya.


"Kahfa bagai mana menurutmu mengenai Lexi?" Kimmy mengalihkan tatapannya pada Kahfa. Kahfi sendiri menghembuskan nafas lega, saat ibunya mengalihkan pembicaraan.


"Lexi gadis baik." Jawab Kahfa datar.


"Apa kau menyukainya?"


Kahfa diam sejenak. "Aku menyukainya tidak membencinya sama sekali." Kedataran dan ketenangan Kahfa membuat Kahfi iri.


"Maksud Ibu kau menyukainya sebagai wanita atau tidak?" tak habis pikir Kimmy pada Kahfa putranya itu pura-pura bodoh atau bagai mana. Di umur Kahfa yang memasuki Dua puluh tujuh tahun pria itu belum membicarakan seorang gadis padanya.


"Aku tidak tertarik pada Lexi, Bu. Lagi pula dia sepupuku aku sudah menganggapnya adikku sama seperti Kayla." Kahfa menekan sedikit rasa yang mencuat di hatinya, sebisa mungkin ia menekannya. Demi seorang gadis yang shaliha yang akan membawanya kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kahfa menantikan bidadari surga yang akan Allah kirimkan padanya.


"Kau yakin tidak ingin melamar putri Ommu?" Kimmy memastikan kembali pada putra sulungnya.


"Tidak Bu, aku menginginkan wanita yang tepat untuk calon anakku kelak. Aku menginginkan wanita yang latar belakang agamanya berilmu serta dapat memimpin dirinya sendiri pada jalan Allah. Bukan seperi Lexi, dia bahkan buruk menurutku Bu, tidak mengenal siapa penciptanya. Aku masih percaya jika seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anakku kelak." Kahfa masih berucap dengan tanpa ekspresi, seakan menjelaskan pada ibunya jika Kahfa tak memiliki rasa lebih pada Lexi.


"Kau menyinggung Ibumu Kahfa." Kimmy tersinggung dengan ucapan putra tertuanya. "Aku memang bukan wanita baik dan cerdas. Begitu juga dengan keponakanku Lexi. Jika kau menginginkan wanita baik itu memang hakmu, tapi kau tidak berhak mengangap Lexi sebagai wanita buruk. Dan lagi, pernikahan bukan mengenai soal cinta tapi jodoh dan ketentuan dari sang maha pencipta, ibu cukup kecewa dengan jawabanmu tapi Ibu juga menghargai kejujuranmu." Kimmy sedikit bernafas lega setidaknya tak ada Lexi di antara perbincangan mereka. Jika ada Lexi di sana Kimmy menjamin gadis itu akan terluka akan pengakuan Kahfa.


"Maafkan Kahfa, Bu. Kahfa tida bermaksud." Kahfa menunduk dengan raut penuh sesal, sungguh ia tak bermaksud menyinggung ibunya, pengakuan jujurnya secara tak sengaja melukai ibu kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2