
Lexi berteriak dengan panik dan terus meminta tolong kepada orang, termasuk para santri dan santri wati yang langsung mendatangi Lexi.
"Tolong! Kahfi Daddy dan Mommyku muntah-muntah." teriak Lexi panik ia sangat ketakutan.
Lexi memasuki rumah dan amat sangat di buat syok, saat suami serta kedua orangtuanya dalam keadaan kejang-kejang.
Muntahan di mana-mana.
Lexi menangis dan meronta mencoba menormalkan ketakutannya yang justru semakin tak terkendali, saat Lexi melihat ketiga orang yang amat ia cintai mengeluarkan busa dari mulut mereka.
Semua orang membantu Kahfi serta Sami dan istrinya, menuju rumah sakit.
Saat ke tiga orang tengah menjalani tindakan. Kayla, Ghaza serta Kahfa tiba di sana.
Entah siapa yang menghubungi mereka. Ibu Kimmy dan Ayah Ridwan masih di perjalanan.
Lexi terlihat berantakan dengan jejak air mata di wajahnya.
"Lexi." Kahfa memanghil lembut. Sedangkan Ghaza masih memeluk Kayla yang juga tengah menangis.
"Bang tolong katakan! Suami dan orang tuaku pasti bertahankan?" Lexi butuh dukungan, jiwanya sedang tidak baik-baik saja.
"Ya mereka pasti baik-baik saja. Apa lagi adikku dia seorang yang kuat! Kau menyaksikan sendiri bukan ketangguhannya saat dia menghilang."
Meski ragu Lexi tetap menganguk.
Setelah dua jam berlalu.
Dokter keluar dari ruang tindakan.
Dokter membawa kabar duka Daddy dan Mommynya tidak dapat di selamatkan. Sedangkan keadaan Kahfi masih kritis.
"Tidak. Tidak mungkin." Lexi berteriak dan mengamuk bahkan memukuli kepala dan tubuhnya sendiri.
Kahfa yang khawatir Lexi terluka juga bayi yang ada di kandungannya segera memeluk Lexi dengan erat.
__ADS_1
"Momm dan Daddyku tidak boleh pergi. Mereka sangat sehat dan senang saat akan mendapatkan cucu pertama dariku. Tidak mungkin mereka pergi secepat itu." Lexi perlahan melemah seiring matanya yang juga terpejam rapat.
Dokter menjelaskan dari hasil lab, yang di mana samplenya di ambil dari cairan tubuh ketiga pasien. Jika terdapa racun yang di namakan sianida.
Sianida adalah zat kimia yang bekerja cepat dan sangat mematikan. Sianida berada dalam berbagai bentuk, yakni sebagai gas yang tidak berbau seperti hidrogen sianida (HCN) atau sianogen klorida (CNCl), atau berbentuk kristal seperti natrium sianida (NaCN) atau kalium sianida (KCN). Sianida seringkali berbau “almond pahit”, akan tetapi sianida tersebut tidak selalu mengeluarkan bau dan tidak semua orang dapat mendeteksi baunya.
Sebenarnya, sianida dihasilkan oleh bahan-bahan natural pada beberapa makanan dan tanaman tertentu, seperti singkong dan almond. Selain itu, biji-bijian dari buah-buahan, seperti aprikot, apel, dan buah persik juga memiliki sejumlah kandungan kimia yang di metabolisme menjadi sianida. Asap rokok dan produk pembakaran plastik juga mengandung zat sianida.
Dalam usaha manufaktur, sianida digunakan untuk membuat kertas, tekstil, dan plastik. Disamping itu, sianida juga pernah digunakan sebagai senjata perang dalam Perang Dunia II dan dalam serangan Irak terhadap penduduk Kurdi pada tahun 1980.
Seseorang dapat terpapar sianida apabila menghirup udara, meminum air, mengonsumsi makanan, atau menyentuh tanah yang mengandung sianida. Sianida masuk ke dalam air, tanah, atau udara akibat proses alami maupun proses industrial. Merokok mungkin menjadi sumber utama paparan sianida pada orang-orang yang tidak bekerja pada sektor industri yang berhubungan dengan zat tersebut.
Tingkat keparahan racun sianida bergantung pada jumlah sianida yang terpapar pada seseorang, jalan masuk racun, dan berapa lama waktu seseorang terpapar. Menghirup gas sianida adalah yang paling berbahaya, akan tetapi menelan sianida juga sangatlah berbahaya. Di dalam tubuh manusia, sianida yang masuk ke dalam aliran darah akan dengan cepat beredar ke semua organ dan jaringan tubuh. Sianida akan berikatan dengan enzim sitokrom oksidase dan mencegah sel-sel tubuh dalam menggunakan oksigen. Apabila hal ini terjadi, sel akan mati.
Sianida dapat sangat berbahaya bagi jantung dan otak dibandingkan organ-organ lain, sebab jantung dan otak memerlukan banyak oksigen untuk berfungsi secara maksimal.
Seseorang yang terpapar sejumlah kecil sianida yang terhirup, terserap melalui kulit, atau tertelan dapat menunjukkan tanda dan gejala dalam hitungan menit saja. Diantara gejala-gejala akibat sianida tersebut, yakni:
Pusing atau rasa melayang
Mual dan muntah
Napas cepat
Jantung berdebar
Gelisah
Lemas
Selain itu, paparan sianida dalam jumlah yang besar dapat menimbulkan gangguan kesehatan berupa:
Kejang-kejang
Hilang kesadaran
__ADS_1
Tekanan darah rendah
Kerusakan paru
Gagal napas yang berujung pada kematian
Denyut nadi lambat
Dosis mematikan (dosis lethal) dari HCN (hidrogen sianida) diperkirakan sekitar 50 mg, sedangkan dosis lethal kristal sianida adalah 100-200 mg.
Kimmy dan Ridwan sudah sampai di rumah sakit mereka amat terpukul dengan kehilangan kakak serta kakak iparnya yang sekaligus merangkup menjadi besan mereka.
Saat Lexi sadar. Kembali gadis itu mengamuk juga menangis meraung.
Kehilangan kedua orang tua sekaligus dengan cara tiba-tiba menghancurka jiwa dan hatinya. "Mengapa Tuhan tak adil padaku? Ayah katakan Tuhan yang beberapa bulan ini ku imani mengapa tega melakukan semua ini terhadapku. Apa dirinya menghukumku atas dosa yang tidak ku ketahui pasti atau Tuhan hanya tengah menunjukan padaku jika dirinya bisa berlaku seenaknya terhadapku Ayah?" Lexi berteriak di hadapan mertuanya yang memandang Lexi prihatin. Jujur Ridwan juga tengah merasa ragu dan ketakutan putra keduanya juga tengah kritis.
"Lexi ini semua ujian untukmu Nak, kau pasti mampu untuk melewatinya." Ridwan memeluk tubuh menatunya air mata pria itu turut menganaak sungan melihat kehancuran di wajah menantunya.
"Katakan apa yang akan ku dapatkan dari ini ayah." Lexi terisak dengan suara yan bergetar. Kahfa yang biasanya selalu tak acuh, kali ini ia tak dapat membendung air matanya, Kahfa turut menasil di tengah kelalanya yang tertunduk semakin dalam.
"Nak semakin tinggi pohon akan semakin kencang anginnya. Allah tengah berusaha meninggikan derajatmu. Menempatkan dirimu pada golongan orang-orang shalih."
"Ini sama sekali tak menghiburku Ayah, sekalipun aku harus di hinakan tak masalah asal kedua orang tuaku di hidupkan kembali dan suamiku kembali di pulihkan. Aku bersedia melakun apapun Ayah." rasanya Kimmy tak sanggup lavi mendengar kalimar demi kalimat yang terlontar dari bibir menantunya.
"Sayang. Iklaskan kedua orang tuamu. Allah lebih menyayangi mereka." Kimmy mengusap wajah sayu Lexi dan turut memeluk wanita hamil itu.
"Lalu apa Allah pikir aku tidak menyayangi mereka! Aku mengimani Allah pun karna mereka juga Ibu."
"Lexi. Aku mengerti kau terluka. Tapi kau jangan berburuk sangka terhadap Allah. Allah pasti memiliki rencana yang lebih baik." Kahfa ikut berbicara, mengingatkan Lexi akan batasannya.
"Kau tak akan mengerti Kahfa Omar. Seorang manusia tidak akan mengerti luka manusia yang lain jika dirinya tidak menderita luka yang sama." Lexi menyela ucapan kakak iparnya. Ada amarah di sana, jika Lexi sudah menyebut nama lengkap seseorang dengan penuh penekanan itu artinya ia benar-benar marah.
"Aku tau sedari awal kau tidak menyukaiku. Tapi untuk kali ini saja! Ku mohon berhenti menyudutkanku!" Kahfa memejamkan matanya, Lexi yang terlihat tak berdayadan memohon seperti itu membuat ia semakin terluka. Akan lebih baik jika Lexi memaki dan mengomeli dirinya. Ia juga tak ingin om dan tantenya tiada terlebih ke adaan adiknya yang kritis.
"Ya Allah. Jika tak ada yang bisa di rubah dari takdirku. Ku mohon selamatkan Kahfiku, jika kau ingin mengambil sema yang ku miliki tak apa, asalkan biarkan Kahfiku selamat. Kasihani aku dan bayiku ya Allah. Aku janji akan taat kepadamu." Lexi berucap pelan seraya bersimpuh dan menengadahkan kedua tangannya keatas. Sekali lagi Lexi mengalah dengan takdir.
__ADS_1