
Lexi hanya duduk di kursi sopa yang tersedia di ruang inap Kahfa. Menyaksikan dan mendengarkan keluarga ustad Zaki yang meminta maaf pada keluarga Gus Ridwan.
"Karna tindakan plin-plan anak kalian kedua putraku harus celaka. Bahkan sampai sekarang putraku Kahfi masih hilang." Kimmy menatap mantan calon menantunya Aisyah dengan sorot penuh kekecewaan.
"Kahfaku harus menderita patah tulang." Kimmy terisak. "Seandainya saja Aisyah dapat berpikir dan memutuskan sebelum pernikahan terjadi, bukan malah membatalkan pernikahan secara sepihak dan mendadak seperti ini. Kau lihat Aisyah akibat yang kau lakukan." Kimmy semakin menatap geram gadis berjilbab panjang itu.
Aisyah sendiri hanya menunduk, menyadari kesalahannya.
"Sudah Sayang." Ridwan mengelus tangan istrinya.
"Ning Kimmy ini semua sudah takdir dan ketetapan Allah." ujar Ustadz Zaki.
"Ustadz Zaki berbicara demikian karna musibah tidak mendatangi keluarga kalian. Kau tidak berpikir bagai mana tertekannya putraku saat Aisyah membatalkan pernikahan itu, malu juga emosi. Amarahnya sebagai manusia normal pasti muncul. Sehingga menyebabkan kecelakaan itu." Kimmy sudah mulai membentak. Dan mendorong bahu Aisyah.
Kahfa hanya diam ia bahkan muak menengok ke arah mantan calon istrinya itu.
"Tante sudah. Tenang Tante," Lexi memeluk tantenya. "Lihat Lexi! Semua akan baik, Gus Kahfa akan sembuh, dan menikah suatu hari nanti dengan wanita baik. Okay semua akan baik-baik saja." Lexi menenangkan Kimmy dengan pelukannya.
"Lalu bagai mana dengan dirimu Lexi?"
"Tante, Hey. Aku tidak papa, Allah hanya sedang mengujiku saja. Penciptaku hanya sedang cemburu terhadapku karna aku terlalu menyayangi Mas Kahfi. Tuhanku hanya sedang merajuk terhadapku, jika aku merayunya pasti Allah tak akan marah lagi. Allah akan mengembalikan Mas Kahfi pada kita. Lexi janji akan merayu sang pemilik takdir." Ajaib kalimat Lexi mampu menenangkan Kimmy.
"Cih,,, mana ada Allah merajuk sampai kekanakan seperti ini." Tanpa sadar Kahfa mencibir dalam hatinya.
"Kata Mas Kahfi yang dapat merubah takdir hanya do'a, entah lah yang jelas Lexi percaya." Lexi menerbitkan senyumnya ia mulai berdamai dengan keadaan. Ia akan menunggu sampai Kahfi kembali.
"Masih tersisa satu hari untuk memperbaiki semuanya. Aku akan menikah dengan Gus Kahfa besok sesuai rencana." Aisyah berubah pikiran. Mungkin saja dengan ia mau melanjutkan pernikahan Keluarga Ustadz Ridwan akan memaafkannya.
"Tidak tau malu." Cibir Kahfa. "Setelah banyak kekacawan yang kau ciptakan, apa menurutmu aku sudi menikah denganmu. Kau pikir siapa dirimu? Seenaknya memainkan perasaan orang lain." Kahfa terlihat emosi.
"Ustadz Zaki saya mohon tolong pulang lah dulu." Ridwan selalu menjadi wasit. Jika Kimmy masih mengebu-gebu Ridwan terlihat lebih kalem, meskipun siapa sangka pikirannya tengah berceceran di tempat lain mengingat putranya.
Akhirnya keluarga ustad Zaki pamit undur diri.
__ADS_1
"Maafkan aku." lirih Aisyah.
Selepas kepergian keluarga Ustadz Zaki, Ridwanpun kembali pamit pada istri, anak serta keponakannya untuk mencari keberadaan putranya.
"Lexi kau sedang apa?"
Kimmy bertanya pada keponakannya yang berkomat-kamit sendiri setelah melihat ponselnya. Tak jelas apa yang di katakan gadis itu, yang Pasti Kimmy mengulang-ulang hal itu.
"Hehehe, ini Tante Lexi sedang menghapal." Lexi menunjukan surat Al-kautsar di ponsel pintarnya.
"Oh."
"Lexi."
"Ya Tante."
"Bagai mana jika Kahfi tidak ditemukan sampai waktu yang sangat lama?"
"Aku akan menunggunya tak perduli berapa lama ia pergi. Aku akan menunggunya hingga ia kembali." Lexi menunduk dengan tatapan sendu, setetea air mata kembali terjatuh di pangkuannya.
Kimmy menguatkan hatinya untuk kembali bertanya, dan berdoa semoga ini tidak terjadi.
"Bagaimana jika Kahfi tak kembali?" Tanya Kimmy hati-hati, ia menatap raut Lexi yang nampak menerawang jauh entah ke dunia mana.
Hening.
Hanya ada suara hati dari ketiga orang yang berada di sana.
"Jika itu terjadi Lexi tak akan menikah sampai kapanpun!"
Deg ...
Yang paling terpukul di sana adalah Kahfa, secara sengaja ialah penyebab hilangnya Kahfi, jika dirinya tidak memaksa Kahfi di malam itu Kahfi pasti tidak akan hilang. Kahfa menyalahkan dironya sendiri.
__ADS_1
Kahfa berjanji hanya meminjam Kahfi untuk sebentar hingga sudah berlalu saru hari Kahfi masi belum kembali. Lalu harus dengan apa Kahfa mengganti Kahfi? Kahfa membisu di tempatnya menatap nanar sosok gadis yang baru mengenal Tuhannya, gadis yang tengah mencari jati dirinya sendiri.
"Lexi kau sadar apa yang barusan kau katakan?" tanya Kahfa tak suka, untuk pertama kali setelah sekian lama mereka sering bertengkar, kali ini Kahfa bertanya lembut.
"Ya aku menyadarinya. Entahlah aku rasa aku memang benar-benar mencintai Mas Kahfi, pantas saja Allah cemburu dan menyembunyikannya." Lexi terkekeh dengan ucapan konyolnya yang terlihat percaya diri. Siapa dirinya sampai Allah mencemburuinya.
"Kau tak berniat menikahi pria shaleh lainnya." tanya Kimmy.
"Mas Kahfi terlanjur mengikat dan membawa hatiku, Tante. Sepertinya aku kehilangan hasrat untuk menyukai ataupun tertarik dengan pria lai." Aku Lexi jujur.
"Adakah gadis lain yang seperti Lexi." pikir Kahfa.
...
Di sinilah Kahfi berada di sebuah rumah sederhana di salah satu desa jauh dari tempat kejadian.
Malang bagi Kahfi setelah bertemu pengendara bermotor sebelum ia tak sadarkan diri, orang itu sama sekali tidak menolongnya melainkan hanya meninggalkan Kahfi di pinggir jalan setelah mengambil jam tangan mewah milik Kahfi.
Setelahnya kebetulan seorang pria tua yang membawa sebuah gerobak menghentikan gerobaknya, menolong Kahfi dan menaikan tubuh lemah Kahfi pada gerobak butut miliknya. Pria itu membawa Kahfi ke rumahnya yang sederhana.
Membutuhkan waktu semalaman untuk pria tua itu membawa tubuh Kahfi ke rumahnya. Pria tua itu kebingungan kemana ia harus membawa Kahfi, ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membawa Kahfi berobat, juga tidak ada identitas apapun di tubuh Kahfi.
Pria tua bernama Ahmad itu hidup sebatang kara setelah sebelumnya putranya meninggal dua bulan lalu karna kecelakaan.
Pekerjaan sehari-harinya adalah penjual sayur keliling di sekitar tempatnya tinggal. Sedangkan ia saat menemukan Kahfi secara kebetulan itu karna ia baru selesai mengunjungi makam putranya yang berada di dekat terjadinya kecelakaan Kahfi.
Kahfi tak sadarkan diri hampir dua hari, luka-luka Kahfi di obati alakadarnya oleh Pak Ahmad, tapi pergelangan kaki Kahfi terlihat membengkak, meskipun tidak patah sepertinya kaki Kahfi mengalami cidera cukup parah sehingga ia kesulitan untuk sekedar berdiri di saat ia sudah sadar dari komanya.
"Pak, terimakasih karna sudah menolong saya. Semoga Allah membalas kebaikan bapak." ucap Kahfi tulus. Terputus-putus pula Kahfi berbicara.
"Aamiin Nak. Maaf Bapak tidak bisa membawamu kerumah sakit. Semoga kau cepat pulih." Pak Ahmad menyuapkan bubur encer pada mulut Kahfi yang pucat serta di hiasi dengan kulit bibir yang mengelupas. Kahfi belum bisa banyak bergerak tubuhnya juga masih lemas.
Tapi hatinya masih memaku pada Lexi, akankah gadis itu menunggunya untuk kembali, atau memilih menikahi pria lain di saat ia tidak bisa memberi kepastian kapan ia akan pulang.
__ADS_1