Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Layaknya Sang Pahlawan


__ADS_3

Kahfi mengulum senyumnya. "Ikhlas ga nih. Kalo gak iklas percuma juga rasanya bakalan ngambang."


"Banyak omong kalo ga mau ga papa." Lexi hendak berbalik kembali tapi Kahfi langsung memerangkap dan mengunci pergerakan wanitanya.


Kahfi memang belum mengetahui apa penyebab Lexi merajuk tapi secepatnya ia akan mencari tau. Di mulai dari Kayla. Ya Kayla lah seharian bersama dengan istrinya.


Kahfi mulai mencium bibir istrinya, menyesapnya secara perlahan juga tangannya yang mulai menjelajah titik-titik yang Kahfi kehendaki.


Lexi mungkin tidak menolak tida pula membantah atas perlakuan suami. Tapi dalam hati Lexi benar-benar keberatan harus melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan. Tapi karna dirinya tidak mempunyai pilihan dirinya hanya bisa pasrah di bawah sentuhan Kahfi.


Di tengah aktifitasnya Kahfi menyadari sesuatu sejak tadi istrinya hanya diam tak merespon. Tak ada satu sentuhanpun yang di balas oleh Lexi. Jangankan membalas Lexi malah terkesan pasrah.


Kahfi menjauhkan wajahnya dari leher istrinya, ia menelisik wajah Lexi yang sepertinya memang enggan untuk menunaikan kewajibannya. Kahfi menghembuskan nafasnya ia pun turut berbaring di samping istrinya.


"Tidurlah! Aku tak akan memaksa." Kahfi bangun kembali ia beranjak dari posisinya berbaring, ia memilih memasuki kamar mandi. Mungkin mandi air dingin bisa meredamkan hasratnya yang sempat berkobar.


Ya sepertinya malam ini Kahfi akan menahan hasratnya karna Lexi sepertinya tak menginginkannya. Ia tak ingin memaksakan kehendaknya.


Sepertinya Kahfi harus menahannya. Ya Kahfi tak seegois itu.


Lexi hanya diam tidak membantah apa lagi bertanya.


.


Kahfa tengah berada di kamarnya. Ia tengah memindahkan data-data dari ponsel Lexi yang tadi hancur. Entah bagai mana Kahfa melakukannya yang jelas ia berhasil memondahkan data ke laptopnya. Kahfa amat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Lexi, tidak mungkin adik iparnya ngereog tanpa sebab.


Kahfa membolakan matanya dikala membuka sesuatu, terdapat beberapa foto serta sebuah vidio juga pesan terakhir yang masuk ke ponsel Lexi merupakan sebuah ungkapan seseorang yang menjatuhkan siapa saja yang membacanya.


ini tidak bisa di biarkan Kahfa tak ingin hubungan Kahfi dan adik iparnya hancur karna ulah temannya sendiri.


Kahfa mengambil ponselnya untuk menghubungi Kahfi, ia perlu membicarakan hal ini dengan adiknya. Jangan sampai terlalu larut di biarkan.


Beberapa kali Kahfa melakukan panggilan terhadap adiknya tapi Kahfi tidak menjawab panggilannya. Kahfa tidak putus asa ia melakukan panggilan kembali hingga di panggilan ke enam ponsel Kahfi di angkat.


Bukan Kahfi yang mengangkat panggilan melainkan Lexi adik iparnya.

__ADS_1


"Ada apa Bang? Mas Kahfi sedang di kamar mandi." ujar Lexi pelan.


"Lexi katakan pada suamimu untuk segera menemuiku di kamarku." ujar Kahfa tegas. "Sekarang!" tambahnya lagi.


"Iya Bang."


.


Setelah menunggu beberapa saat Kahfi mengetuk pintu kamar kakaknya dan Kahfa mempersilahkan Kahfi untuk memasuki kamarnya.


"Ada apa Bang? Sepertinya penting sekali." Kahfi duduk di ranjang Abangnya meski belum di persilahkah.


"Kesini Kahfi! Ada yang ingin aku tunjukan padamu." Dengan enggan Kahfi beranjak dan mendekat ke arah layar laptop Kahfa.


Kahfi di buat mematung dengan apa yang di lihatnya. Potret dirinya. Dan Zahra, lalu di mana Ghaza? Dia di sana bukan dengan Zahra saja.


"Tunggu dari mana Abang mendapatkan ini?" kahfi di buat terkejut dengan apa yang terpangpang di hadapannya.


"Itu." Kahfa menunjuk ponsel Lexi dalam keadaan setengah hancur.


"Ponsel Lexi kenapa?" Kahfi belum mengerti apa yang terjadi, pantas saja tadi saat ia menghubungi Lexi ponselnya tidak aktif.


'Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.'


'Kau tak akan bisa bersaing denganku.'


'Cintanya padaku bertahun-tahun, sedangkan kau memilikinya hanya beberapa waktu saja. Kahfi akan kembali pada pemiliknya yaitu Aku.'


Ada juga beberapa pesan lain yang menurut Kahfi ini keterlaluan. Bahkan ada kebersamaan dirinya Zahra. Sedangkan pada saat makan siang mereka bertemu tanpa sengaja, di sana ada Ghaza juga.


"Kau tau apa yang ku pikirkan? Juga Lexi!"


"Foto itu bukan editan atau rekayasa. Pakaian yang kau kenakan hari ini juga sama dengan yang kau kenakan di foto itu. Bisa di pastikan kau menemui Zahra hari ini." tuding Kahfa tepat sasaran.


"Aku memang bertemu dengannya tapi aku tidak menemuinya Bang. Saat aku dan Ghaza tengah makan siang tiba-tiba dia datang menemuiku dan duduk di sampingku. Tak mungkin juga kan aku mengusirnya dia temanku juga." Kahfi membela diri yang justru malah membuat Kahfa tersenyum sinis.

__ADS_1


"Setelah kau menikah tidak ada namanya teman wanita Kahfi! Satu-satunya teman wanita yang kau muliki adalah istrimu." Kahfa meninggikan suara di hadapan adiknya. Ini tugasnya memperingatkan Kahfi agar tidak tersesat semakin jauh.


"Bang aku tak ada hubungan apapun lagi dengannya." Kahfi tetap membela diri.


"Mau kau ngomong sampai berbusapun percuma! Kau pikir Lexi akan percaya." Kahfa malah semakin menjadi memojokan Kahfi.


"Kau tau reaksi Lexi saat menerima pesan itu. Dia bahkan meremukan gelas di genggamannya dan membuat ponsel pintarnya rusak. Sudah pasti tangannya terluka cukup parah Kahfi. Sadar sebelum semua terlambat peringatkan si Zahra itu."


Kahfi diam ia mulai menghubung-hubungkan diamnya Lexi dengan apa yang terjadi, juga dengan tangan Lexi yang di perban. Ternyata itu bukan hanya sekedar tergores seperti apa yang di katakan Lexi padanya.


Kahfi mengscrool kembali memeriksa foto itu. Nomor tidak di kenal yang mengirimkan semua ini, juga foto yang di ambil dengan sengaja.


"Menurutmu ini hanya kerjaan orang iseng?" Kahfa bertanya sarkas ia ingin mengetes ketololan adiknya.


"Tidak Bang ini sengaja. Dan pengambilan foto ini tampak sempurna dari sisi manapun sepertinya ini memang sengaja di lakukan." Jawab Kahfi polos ia pikir Kahfa benar-benar bertanya tanpa ada maksud terselubung.


"Ternyata kau cukup pintar kahfi. Peringatkan Zahra dan berbuatlah tegas jangan sampai semuanya terlambat."


"Bang ini semua tidak seperti yang terlihat, aku makan siang dengan Ghaza dan Zahra menghampiri kami. Pertemuan tak sengaja ini juga tidak lama hanya sekitar sepuluh menit. Tidak ada hal penting yang kami bahas selain sejumlah uang yang ku kembalikan padanya, Lexi sudah berhutang padanya. Makanan yang di berikan pada santri adalah uang Zahra dan ia memintaku untuk terus bertemu meski ku menolak. Tanpa sengaja kami bertemu di Caffe itu." Kahfi berbicara jujur pada Kahfa berharap Abangnya tak menyalahkannya lagi.


"Jelaskan semuanya kepada Lexi."


"Apa kau bertanya penyebab Lexi meminta Zahra yang membayar makanan untuk para santri?"


Kahfi menggeleng pelan.


"Bodoh." Kahfa menoyor kepala Kahfi.


"Kau pikir istrimu semiskin itu untuk merugikan orang lain jika orang itu tidak mengusiknya." Kahfa memijat pelipisnya, ia di sini berperan menjadi media untuk suami istri menjadi lebih terbuka, sedangkan dirinya sendiri masih lajang. Miris sekali.


Betbaik sangkalah pada Allah semoga saja setelah ini Kahfa mendapat jodoh yang shaliha.


"Kau itu polos sekali Kahfi. Tidak mungkin kalian bertemu dalam momen yang sudah di atur sedemikian rupa. Itu artinya Zahra memang berniat mengguncang rumah tangga kalian."


"Apa yang harus aku lakukan Bang?"

__ADS_1


Untuk kali ini tak salah Kahfa mengatakan Kahfi bodoh. Dia memang terlihat bodoh.


"Pertama minta maaflah pada Lexi. Jelaskan yang terjadi padanya ini hanya kesalah pahaman saja. Yang kedua temui Zahra bawa sekalian Lexi dan peringatkan Zahra untuk tidak lagi terlibat denganmu, apalagi menemui dan menghubungimu." Kahfa layaknya sang pahlawan memberikan petuah pada adiknya.


__ADS_2