Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Lexi Ingin Apa?


__ADS_3

"Bang Kahfa." Cicit Kayla.


Lexi sendiri menelan salivanya ia malu pada kakak sepupunya itu pasti Kahfa mendengar perbincangan mereka pikir Lexi.


"Lexi jangan menyukaiku! Jika kau nekad aku bisa menjamin kau akan patah hati." Kahfa selalu berkata datar pada, berbeda dengan Kahfi. Adik kembar Kahfa itu selalu berkata lembut dan di barengi dengan semburat merah muda di pipinya saat berbicara pada Lexi.


"Tidak masalah Gus, menyukaimu adalah hakku dan tidak membalas perasaanku adalah hakmu. Kau tidak usah merasa bersalah seperti itu."


Hah, Kahfa di buat cengo oleh ungkapan saudari sepupunya, ungkapannya yang mana yang menyatakan dirinya merasa bersalah. Benar yang Kahfi katakan sepupunya memang unik.


Kayla mengerutkan keningnya bingung.


"Lalu type wanita yang Gus Kahfa inginkan seperti apa?" Lexi malah duduk di samping Kahfa, sama seperti Kayla.


Eh.


"Lexi kenapa kau duduk di dekatku?" Kahfa menatap kesal pada Lexi.


"Kenapa? Kayla saja boleh kenapa aku tidak?"


"Kayla adikku. Sedangkan kau adik sepupuku. Itu berbeda Lexi ada batasan-batasan dalam agama kita yang tidak di perbolehkan untuk berdekatan dengan lawan jenis meskipun kita masih terikat saudara." Mendengar apa yang di sampaikan Kahfa, Lexi langsung menjauh ia yang awam akan agama langsung menututi ucapan Kahfa tanpa menunggu dalil maupun hadits akan ucapan saudaranya.


Kayla yang menyadari jika kakaknya risih langsung paham. Dan menggelengkan kepalanya.


"Lexi katamu, kau mau pindah keasrama wanita tapi sampai hari ini kau masih tinggal di sini."


Lexi bisa menyimpulkan jika Kahfa tak menyukainya, em dan Lexi tidak bisa memaksa setiap orang untuk menyukainya bukan.


"Em. Kata Tante Kimmy, aku lebih baik tinggal di sini supaya lebih mudah belajar dengan Tante dan Kayla. Tenang saja Gus, aku akan jaga jarak sesuai agama kita." ujar Lexi kemudian, Lexi berpindah tempat duduk di kursi yang lain.


Ting ... Ting ...


Dua notifikasi memasuki ponsel yang ia taruh di atas meja sedari tadi. Lexi meraih ponselnya dan mengerutkan kening, saat membaca nama kontaknya. 'Gus Kahfi' nama pengirim ponsel itu.

__ADS_1


'Assalamualaikum.'


Kahfi mengirimkannya salam dan langsung di balas Lexi, karna kata Om Ridwan menjawab salam itu wajib hukumnya.


'Lexi sedang apa?'


Kahfi kembali mengeriminya pesan sampai Lexi tersentak kaget. Ada angin apa sepupunya begitu perkatian padanya? Pria tampan itu menanyakan ia sedang melalukan apa omg-omg ini terasa mimpi, di saat Kahfa mewanti-wanti Lexi agar membatasi interaksinya dengan Kahfa justru si Kahfi ini terasa tengah nendekatinya.


Kayla mendekat karna mendengar pekikan dari saudarinya.


"Kay. Pukul aku." Lexi terasa mimpi saat Kahfi mengiriminya pesan sehingga ia meminta Kayla untuk memukulnya, agar menyadarkan jika ia tidak sedang bermimpi.


Bukk


"Aw. Aku bukan mimpi." pekiknya kembali. Kexi ingin memarahi Kayla karna ibu hamil itu terlalu terlalu kencang memukulnya. Tapi ia sadar karna dirinya yang menyuruh sepupunya memukul.


Kahfa menatap heran tingkah Lexi.


Lexi sudah mengetikan balasan, untuk Kahfi tapi ia menunda untuk mengirimkannya.


'Lexi, sedang sibuk?'


'Lexi sudah makan belum?'


'Em. Aku sedang di luar bersama Ghaza, mau ku belikan sesuatu?'


'Lexi kenapa tidak membalasnya?'


Tangan Lexi bergetar, sebagian tubuhnya juga menggil ia tremor. Sungguh ia sudah berkeringat dingin. Ini bukan pertama kalinya Lexi tertarik dengan seorang pria, tapi mendapatkan pertanyaan dari pangeran pondok membuat kewarasannya terasa di obok-obok.


"Gus Kahfa, apa hukum membalas pesan seorang pria?" tanya Lexi hati-hati. Belum sempat Kahfa menjawab ponsel Lexi kembali berdering. Dan kali ini panggilan masuk.


Kayla menyipitkan mata saat membaca nama kontak di ponsel Lexi.

__ADS_1


Lexi sampai berdiri dari duduknya.


"Ha-hallo." Gagap Lexi setelah mengangkat panggilan. Ia sampai lupa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." terdengar salam dari sebrang sana dengan suara berat nan lembut, menggelitik pendengaran Lexi. Maha suci Allah yang sudah menciptakan pria selembut Kahfi. Puji Lexi dalam hati.


"Wa-waalaikumsalam." Lexi masih tergagap, sampai Kayla cekikikan di sampingnya.


"Lexi, aku dan Ghaza tengah di luar karna ada urusan. Kau ingin di belikan apa saat pulang nanti.?" lemas sudah seluruh lutut Lexi, kakinya tak dapat menopang tubuhnya lebih lama lagi, Lexi terduduk kembali di kursinya. Melehoy Gus.


Tak langsung menjawab. Lexi mengipasi wajahnya yang terasa panas menggunakan sebelah tangannya. Membuat Kahfa mengernyitkan dahinya heran.


"Jika tidak repot aku ingin martabak telur." ucap Lexi pelan.


"Baiklah. Tanyakan pada Kayla juga, dia ingin apa? Dari tadi Ghaza menghubungi ponselnya tapi tidak di angkat." ujar Kahfi jujur dari sebrang sana, entah di mana hanya ada suara kendaraan saja.


Lexi mengalihkan tatapan pada Kayla dan menanyai wanita hamil itu.


"Kay, kata Gus Kahfi, Gus Ghaza menelpon sejak tadi tapi tidak diangkat. Katanya-" Belum sempat Lexi menyelesaikan ucapannya Kayla sudah berlalu dari sana.


"Katakan pada suamiku aku akan segera menghubunginya kembali." teriak Kayla sabil berlalu.


Membuat Kahfi terkekeh di ujung sana.


"Lexi ingin apa lagi?" tanya Kahfi kembali.


"Sudah itu saja Gus."


Setelah beberala waktu berbasa basi Kahfi menutup panggilannya.


"Ya Allah, apa katanya tadi. Lexi mau apa? Astagha, suaranya selembut sentuhan kalbu. Limpahkanlah pahala yang banyak bagi Gus Kahfi karna dia sudah menyenangkanku." Aamiin, Aamiin. Lexi mengusap wajahnya beberapa kali.


Lexi yang sangat senang langsung meloncat-loncat di situ ia tak sadar jika Kahfa masih berada di sana. Dan saat Lexi menyadari keadaan maka seketika perasaannya menjadi awokawrdr, situasi yang membagongkan kata Lexi dalam hati.

__ADS_1


Lexi segera berlari dari sana meninggalkan Kahfa dengan mulut menganga "Astaghfirullah. Gadis seperti itu yang Kahfi sukai. Gadis aneh tak jelas." Kahfa menggelengkan kepalanya pelan.


__ADS_2