
"Abang ih mana? katanya mau kasih Kay hadiah!" Kayla mengerucutkan bibirnya dengan menyilangkan tangan di perutnya. Ia merasasa di bohongi oleh Ghaza. Ya suaminya menjanjikan hadiah tapi meski sudah dua hari menunggu hadiah itu tak kunjung di berikan oleh suaminya.
"Barang kali Abang lupa."
"Ya Allah, Abang beneran lupa Kay. Sebentar." Ghaza berjalan ke kamar tamu di rumah mereka. Kayla mengikuti langkah kaki suaminya sampai ke arah lemari kamar tamu itu.
Kayla mulai menebak-nebak apa yang akan di berikan suaminya. Perhiasan kah? Atau mungkin mobil baru. Atau album boy band favoritenya.
"Kay janji harus memakainya salah satunya malam ini."
Memakai salah satunya. Itu tandanya tidak hanya satu hadiah yang akan Ghaza berikan padanya. Dan ia yakin bukan mobil baru atau album boy bandnya. Lalu apa?
Mungkin saja perhiasan. Tentu itu yang ada dalam pikiran Kayla.
Namun semua itu terbantahkan kala Ghaza membyka lemari dan mengambil satu buah keranjang dengan banyaknya linggerlie di dalam keranjang berwarna coklat tua itu.
"Hah .."
Kayla menjatuhkan rahangnya ia tak percaya Ghaza memang benar-benar semesum itu sekarang.
"Ya Allah Abang."
Kayla dapat menebah harga yang tak murah dari barang-barang di keranjang itu, terlihat dari berbagai merk brand yang .terkenal di manca negara.
"Sekedar informasi, abang sangat menyukai warna merah dan hitam." Ghaza menajan tawanya agar tak lepas, melihat ekspresi Kayla yang srperti yengah menelan biji kedondong.
"Abang, Astaghfirullah. Nyebut Bang. Untuk apa Abang membeli benda menjijikan sebanyak ini." Kayla mengibarkan salah satu di antara banyaknya baju dinas yang bawa suaminya.
Kayla merasa geli sendiri lantara suaminya membelikannya berbagai macam pakaian tempur berajam jenis dan warna. Kayla menebak ini lebih dari selusin. Sampai warna ungu kesukaan Kayla ada di sana sepertinya Ghaza benar-benar niat untuk memberikannya kejutan.
"Abang ini semua Abang yang beli?" Tanya Kayla setengah tak percaya.
"Tentu saja iya. Kau pikir siapa yang akan membelikannya Kahfa kan tak mungkin? Yang tau besarnya kan hanya Abang." Ghaza meloloskan tawanya yang renyah sehingga Kayla pun ikut tertawa.
"Mari Abang tunjukan hadiah yang lain."
Ghaza mengajak istrinya memasuki kamar mereka Kayla sampai tersedak kala di kamar utama terdapat sofa baru. Sofa bentuk yang sangat menggelikan menurut Kayla, seperti alat musik kecapi pikir Kayla.
Dan Kayla tidak bodoh kursi itu kerap kali di gunakan untuk acara 18++.
Kayla bertanya-tanya kapan Ghaza membeli ini? Perasaan tadi pagi belum ada benda ini di kamarnya. Dan sialnya warna kursi itu warna ungu. Warna kesukaan Kayla.
Lalu bagai mana tanggapan orang tua serta keluarganya jika mereka mengetahui jika ia memiliki benda nyeleneh itu di kamar mereka. Jangan sampai Lexi tau atau sepupunya itu akan bertanya dengan detail kegunaan benda sialan itu.
"Bang. Abang yakin tak menderita kelainan?"
Ghaza di buat tertawa sampai terpingkal-pingkal karna penuturan Kayla yang amat polos. Tapi ia sejenak berpikir apa benar ia menderita kelainan mengingat fantasi bercintanya samgat luas dan kerap kali muncul ide-ide yang menurutnya semakin menantang.
__ADS_1
"Sepertinya iya Kay, Abang menderita kelainan." ucap Ghaza. "Apa Kay akan meninggalkan Abang Karna ini?" Ghaza meletakkan keranjang yang ia pergunakan untuk menamlung banyaknya pakaian dinas istrinya. Dan duduk di sofa baru itu.
Tanpa di duga Kayla duduk di pangkuan Ghaza dan menangkup pipi suaminya agar menghadap ke arahnya.
"Selama Abang melakukannya hanya dengan Kay, Kay akan tetap mengimbangi Abang, asalkan sesuai dan syariat agama kita."
Cup
Kayla mengecup permukaan bibir tebal Ghaza.
"Bahkan Abang berpikir apakah harus Abang berobat Karna menurut Abang juga ini tak wajar. Abang bahkan meminta pada Kay hampir setiap malam. Abang takut Kay bosan dan terpaksa." Ghaza menarik jarum pentul di hijap istrinya sampai hijab itu terurai.
"Abang pernah konsul dengan dokter kenalan Abang. Dan menurutnya kasus yang di alami Abang adalah Gen. Itu artinya hal ini Abang warisi dari ayah kandung Abang Pak Jaelani." Ghaza membuka kerudung dan ciput yang di kenakan Kayla juga ikat rambut istrinya.
"Jujur Abang takut Kay meninggalkan Abang karna ini."
"Kay tidak akan meninggalkan Abang. Selagi Kay satu-satunya wanita di hidup Abang. Sang ratu akan menemani dan melayani rajanya selagi rajanya tak menghadirkan ratu ataupun selir lain."
Eskipun Abang minta jatahnya tiap hari." tanya Ghaza memastikan.
"Ya sekalipun rajaku minta tiga kali sehari hamba siap." ujar Kayla cekikikan.
"Pandai kau menggoda suamimu ya." Ghaza menggelitik tubuh istrinya.
"Tentu saja."
Kahfi di buat kelabakan, dua hari Lexi tak mengajaknya bicara. Selama dua hari pula Kahfi di buat uring-uringan.
Kahfi berkali-kali mengucapkan maaf tapi istrinya masih bertingkah acuh padanya.
Kahfi juga sudah membelikan ponsel keluaran terbaru untuk istrinya tapi Lexi benar -benar keras kepala wanita itu tidak terpengaruh sama sekali.
Sampai ia tak tahan dan meminta saran dari Kakaknya. Dan Kahfa menyarankan agar Kahfi mempertemukan Zahra dan Lexi. Ia harus tegas pada Zahra. Bahkan Kahfa mengajari kalimat apa yang seharusnya Kahfi katakan pada teman lama mereka.
Kahfi mengundang Zahra kerumahnya dengan tujuan yang baik mendamaikan teman lama dan istrinya.
Kahfa sampai mengikuti mereka dan menguping di balik pilar untuk memastikan jika adiknya tidak melakukan kekeliruan saat berucap pada teman lama mereka.
Seperti biasa Kahfi selalu berucap dengan nada yang lemah lembut dan mendayu membuat yang mendengar terasa nyaman saat mendengarkan Kahfi berbicara tidak terkecuali Zahra gadis itu tersipu-sipu saat Kahfi membahas pertemaman mereka yang berjalan beberapa tahun.
Lexi sendiri malah muak dan bedecak untuk mengekspresikan ke jengahannya.
"Katakan saja intinya Mas. Tidak usah membahas masalalu kalian." ucap Lexi sarkas Kahfa bahkan menggelengkan kepala di balik pilar.
Kahfi sendiri berkata demikian karna tak tega jika langsung melukai Zahra dengan kalimat yang di ajarkan Kahfa padanya.
"Begini Zahra. Antara kau dan aku tidak ada hubungan apapun, dan dengan ini aku melepas semua hubungan pertemanan kita di masa lalu teman wanitaku satu-satunya hanya istriku saja. Berhenti mengganggu dan mengaku-aku seakan kau adalah wanita yang kucintai. Aku hanya mencintai istriku saja." Kahfi berkata lembut tapi ketegasan di dalamnya benar-benar menyayat perasaan Zahra.
__ADS_1
"Apa maksudmu kita tidak boleh berteman?" tanya Zahra memastikan.
"Ya kita tidak bisa berteman."
"Jangan mengganguku lagi Zahra, antara kau dan aku sudah selesai sejak empat tabun yang lalu. Mari saling melupakan. Huduplah dengan baik!" Kahfi kini beralih menatap Lexi yang hanya diam membisu. Sebenarnya ia menatap bayangan seseorang di balik pilar rumah mereka dan Lexi yakin itu adalah Kahfa.
"Kahfi. Aku tidak papa kau menikah, hanya saja kita tak harus merusak pertemanan kita kan?"
"Cukup Zahra aku tak nyaman dengan pertemanan kita."
"Apa ini karna istrimu?" tanya Zahra tak tau diri. Sebenarnya ia tengah merasa kacau saat teman prianya memutus hubungan.
"Ya aku mencintai istriku."
"Baiklah." Zahra beranjak dari tempatnya tadi, tanpa pamit gadis itu berlalu begitu saja.
"Lexi. Udah ya, berhenti marahnya Mas lelah. Mas janji tidak akan ada wanita atau Zahra lainnya." Kahfi berlutut di hadapan istrinya.
"Zahra hanya masa lalu sedangkan kau adalah masa depanku." Kahfi mengecup kedua tangan istrinya bergantian.
Kring ... Kring ...
Ponsel di saku celana Kahfi berdering, pria itu pamit untuk mengangkat telponnya.
Hal ini Lexi pergunakan untuk menghampiri orang yang mengumpat di balik pilar tinggi.
"Abang terima kasih." Lexi tersenyum lembut. Senyum yang tak pernah tampilkan untuk Kahfa berhasil membius pria itu dalam pesona Lexi, sehingga Kahfa membuang muka dan dan memperingati dirinya sendiri.
"Terimakasih Abang sudah menjadi media agar hubunganku dan Kahfi baik-baik saja. Aku tau Kahfi bisa tegas karnamu." Lexi menghentikan ucapannya sejenak. Kahfa masih membuang pandangan ke arah samping.
"Sebelumnya Allah selalu mendengarkan do'a ku. Karna Abang sudah berbuat baik aku berdoa semoga Allah segera menjodohkan Abang dengan wanita yang Abang inginkan. Aamiin." Lexi berujar polos yang justru membuat Kahfa melebarkan mata dengat terkejut ia juga membatin.
'Semoga doamu kali ini tidak terkabul Lexi, meski aku menyukaimu. Aku masih cukup waras untuk tidak melukai perasaan siapapun.' Kahfa hendak berlalu tanpa menanggapi ucapan Lexi lebih jauh.
"Bang mau ku kenalkan dengan dosenku tidak? Dia cantik juga insya allah shaliha." Lexi menawarkan dengan gaya cerianya yang mulai kembali.
"Tidak usah Lexi."
"Bang ayolah dia wanita baik."
"Tidak Lexi."
"Ish, Abang. Ya sudah terserah jika kau ingin menjadi perjaka tua."
"Tidak masalah."
"Dasar perjaka tua."
__ADS_1