
Di perlakukan layaknya ratu membuat Kayla merasa sangat tersanjung. Kayla merasa semangatnya kembali, dengan segala kekurangannya Ghaza tak mempermasahkannya. Prianya terlihat sangat mencintainya.
"Sayang. Simpan ini sebagai jaminanku!" Ghaza menyerahkan sebuah map dengan isi selembaran dokumen di dalamnya.
Kayla yang penasaran membuka dan membaca dengan teliti setiap poin dan huruf yang tertera di kertas tersebut. Dan matanya membulat, saat satu pertanyaan tertera di sana.
'Pihak pertama tak akan membawa sepeserpun uang atau harta, atau apapun selain pakaian yang ia kenakan, saat terbukti menghadirkan pihak ke tiga baik sengaja ataupun tidak di sengaja.'
"Apa maksudnya ini?" Kayla menunjuk deretan kalimat di kertas itu. Terdapat tanda tangan Ghaza di sana. Sedangkan Ghaza hanya cengo menatap istrinya dengan tatapan heran. Ghaza bahkan menggaruk sebelah pipinya dengan telunjuknya.
" Jangan-jangan Abang mau berselingkuh dan dengan terang-terangan rela meninggalkan semua kerja keras Abang demi seorang wanita!" Kayla berkata dengan nada menyolot juga dengan nada suara yang naik satu oktaf.
"Haaahh ..."
Ko bisa Kayla berpikir sampai kesana.
"Ya, Robii. Bukan itu maksudnya Kay." Ghaza mrng erang frustasi Kaylanya memang ajaib. Tapi anehnya ia tak dapat berpaling dari istri yang penuh kejutannya.
"Lalu?"
"Itu sebagai jaminan jika Abang tak akan macam-macam."
"Ohh ..."
"Ini juga surat pengalihan harta Abang, yang Abang buat dengan ke adaan sadar sesadar-sadarnya. Jika Abang bertingkah kau berhak mengusai hatra Abang, tanpa ada istilah gonogini." Ghaza menunjukan selembaran lain di bawah dokumen pertama. Rupanya dalam map hijau toska itu berisi dua dokumen sekaligus.
"Oh begitu. Hihihi ... Kirain Kay Abang mau macam-macam." Kayla terkekeh, merasa lucu dengan pemikirannya sendiri.
"Jangankan macam-macam Kay. Satu macam saja Abang kesulitan. Abang tak berniat mencari kesenangan di luar sana, jika yang di rumah mampu memberikan semuanya pada Abang. Lagi pula jika kau tak maupun Abang akan tetap memintanya." Ghaza mendekat. Memangkas jarak di antara keduanya.
Ghaza membelah bibir ranum istrinya menggunakan jempol tangannya. Bayangan kesenangan di rumah sakit yang Kayla berikan melintas begitu saja membuat otaknya tak nyaman karna di sergap bi rahinya sendiri.
"Kay ..." suara selembut kulit bayi itu mengalun indah mendayu, dengan suara serak nan merdu.
"Hmm." Kayla hanya bergunam tertahan. Ia dapat membaca apa yang di inginkan Ghaza darinya. Raut wajah Ghaza yang seperti menahan pesakitan dengan tatapan sayu sangat mudah terbaca oleh Kayla. Hanya pada Kayla Ghaza menunjukan wajah itu.
"Abang mau!" Ghaza memasukan ibu jarinya dan menekan lembut lidah Kayla.
"Abang mau ini, kembali menyenangkan Abang." Ghaza berbisik dengan sengaja meniupkan nafas hanyat di telinga istrinya.
"Yang mulya. Ratuku! Hamba sahayamu ini menginginkan kesenangan dari ratunya. Ku mohon!" Ghaza memelas dengan nafas memburu saat Kayla tidak merespon.
"Kau tengah berlakon menjadi budakku, atau tawananku?" Kayla menangkup rahang tegas suaminya.
"Apapun itu ratuku, yang jelas aku ingin ratu sendiri yang melakukannya."
__ADS_1
"Kau tau? Ratu hanya akan melakukan kegilaan terhadap Rajanya, bukan hamba sahaya atau siapapun." Kayla tak suka saat Ghaza merendahkan dirinya sendiri di hadapannya demi sebuah kesenangan.
"Baiklah. Aku adalah Rajamu, dan ku perintahkan kau Ratuku satu-satunya untuk menyenangkanku. Dan perintahku adalah mutlak." ujar Ghaza kembali, mereka sama-sama berperan demi menciptakan suasana baru.
"Dengan senang hati." Kayla menjalankan tugas dari rajanya dengan patuh. Tak ada keraguan sedikitpun, ini adalah kewajibannya.
"Setelah kau pulih, dan halal untuk ku miliki kembali. Lihat saja Rajamu ini akan kehilangan kendali." Ancam Ghaza dengan seringai.
"Ratumu menunggu Rajaku."
Baik Kayla dan Ghaza sama-sama larut dalam buaian surga dunia mereka.
Saling memberi dan menerima.
.
Lexi tertawa senang di kamarnya ia bahkan melompat-lompat saking senangnya.
"Mampus, kau tante tua!"
Puas hati rasanya Lexi dapat menguras dompet perawan tua itu. harga jutaan bukan harga yang murah untuk makanan apa lagi tidak di makan olehnya sendiri. "Anggap saja sedekah." Lexi kembali melebarkan senyumannya.
Ceklek.
Pintu terbuka dari luar.
Ini luar biasa, inilah yang di impikan Kahfi sejak lama pulang bekerja yang langsung di sambut oleh senyuman serta pelukan gadis di hadapannya, gadis cantik dengan status halal dari lebel KUA.
Rasa lelahnya yang seharian tertumpuk sedari tadi perlahan menguar begitu saja entah kemana.
Kahfi mengendusi leher istrinya tempat ini paling ia sukai, setelah dada sintal dan bibir sensual gadisnya.
"Mengapa semakin hari kau semakin cantik sih?" Kahfi menggigit pelan di sertai se sapan kuat di leher istrinya.
"Egh ..." Lexi mele nguh pelan nan tertahan.
Hingga meninggalkan jejak kepemilikan berwarna merah keunguan di leher putihnya.
"Wah ... Kau ku jadikan kelinci percobaan tapi aku langsung pro menciptakan ini." Kahfi menunjukan hasil karyanya tepat di cermin kamarnya. Lexi hanya tersenyum malu-malu, terlihat lucu seperti bayi babi.
"Hehehe ..." Kahfi terkekeh puas merasa bangga dengan percobaannya.
"Kau yakin ini yang pertama?" Lexi menyentuh jejak kepemilikan di lehernya.
"Tentu saja. Kau pikir aku pernah melakukannya dengan siapa hemm?" Kahfi semakin gencar melabuhkan kecupan bertubi-tubi di pipi Lexi.
__ADS_1
Dalam hati ia merasa bahagia saat mengetahui dirinya yang pertama di sentuh oleh prianya.
"Apa aku juga gadis pertama yang menciummu seperti ini?" Lexi melu mat bibir prianya dengan sangat menuntut.
"Ya, Dan kau juga gadis pertama yang ku rem as seperti ini." Kahfi mere mas kedua bukit Lexi yang terasa pas di genggamannya.
Ya Tuhan, Kahfi baru sadar jika dirinya semesum ini. Astaghfirullah Lexi memang membuatnya berada di atas garis normal.
Kelelakiannya kerap kali tak tau diri selalu, tegak menantang. Membayangkannya saja selalu membuat Kahfi tak sabar.
Tubuh jangkungnya hampir dua meter, sehingga Lexi seperti gadis mungil saat di pelukannya. Padahal tinggi gadis itu seratus enam puluh lima centi meter, setandar jika menghitung wanita asia.
"Sudah ah, aku mau mandi. Lama-lama bersama dengan gadis cantik membuatku ingin meninaboboin Ayang." Kahfi mengecup sekilas bibir istrinya sebelum berlalu ke kamar mandi.
Kahfi mandi memang lumayan lama sehingga Lexi membuka Laptopnya untuk mengerjakan tugas campusnya, setelah sebelumnya menyiapkan pakaian suaminya.
"Ayang lagi apa?"
Tanpa memakai baju terlebih dulu Kahfi naik ke atas ranjang dengan masih mengenakan handuk sebatas pinggang. Memamerkan tubuh kekar yang terlatih dengan otot-otot dan urat yan menyembul di permukaan dada, perut maupun pinggang dan pungguh Kahfa. Wah seksih sekali pemirsah.
"Lagi belajar biar pintar. Biar suamiku bangga."
"Ih, apa sih Ay, tak perlu kau menjadi pintar. Cukup dengan mengerjakan hal wajib dalam agama kita Mas sudah amat bangga." Kahfi memeluk Lexi dengan tubuh setengah telan jangnya.
Ya Allah, Ya Allah jantung Lexi tak aman.
"Kok Mas keramas lagi sih? Rajin bener kayak abis nganu?" ujar Lexi tanpa Filter.
"Nganu apa? Hayoo!"
"Ngak jadi ntar Mas pengen lagi.",
Kahfi menuntun tangan istrinya menuju selatan tubuhnya. Pada bukti gairahnya.
"Iya Mas memang udah pengen banget. Mau pembuktian. Bener apa enggaknya kata orang hoho ..." Kahfi terbahak.
"Ko keras banget sih?"
"Dia siap masuk Ay ..."
"Mas ..."
"Biasanya Ayang datang bulan berapa hari?" Kahfi merasa tak sabar.
"Seminggu mungkin." ujar Lexi ragu.
__ADS_1
"Baru dua hari Ay, Mas udah ga tahan. Padahal selama dua puluh tujuh tahun abang ga kebelet-kebelet amat ko."
"Hah, Mas kebelet?"