
Apakan semua anak kepo dan rasa penasaran sangat tinggi seperti Zayn, dan menuntut penjelasan yang masuk akal?
Atau hanya Zayn saja yang terlalu banyak bertanya.
"Mama kenapa keramas siang-siang?"
Zayn masih bertanya seakan jawaban gerah tak memuaskan untuknya.
"Ac di kamar tempat Mama tidur mati tadi." Bukan Lexi melainkan Kahfalah yang menjawab, Kahfa tak tega melihat Lexi yang kelabakan menjawab pertanyaan Zayn yang tanpa akhir.
"Ohh."
"Om Kahfa juga tidur di sini? Dengan Mama?"
"Itu- itu emmm, Ya." Jawab Kahfa pada akhirnya.
"Pantas saja tadi Om berkeringat." ujar Zayn mengangguk-anggukan kepalanya.
Mata Kahfa semakin membola, sifat Zayn sama sekali tidak mencerminkan Kahfi, melainkan sikaf Lexi persis.
__ADS_1
Ibu Kimmy sedari tadi melipat bibirnya, menahan agar tawanya tidak sampai pecah di hadapan Kahfa dan Lexi.
Ya Allah bolehkah Kahfa membungkam mulut mungil Zayn, agar bocah itu berhenti mengoceh, ia sangat malu saat bocah itu membuatnya mati kutu di hadapan ibunya sendiri.
"Zayn. Ayo makan." Lexi memilih mengakhiri pembicaraan tentang keramas siang-siang dari pada Zayn kembali bertanya macam-macam lagi.
.
Zayn merengek agar ibunya tetap tinggal di tempat kakek neneknya, Zayn merasa kesepian jika harus kembali ke rumah mereka. Meskipun ada beberapa anak yang sebaya dengan Zayn namun mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah dan tak banyak main di luar rumah.
Lexipun berpikir jika anaknya memang butuh lingkungan dan dukungan dari keluarganya. Tapi bagaimana mungkin jika ia harus tinggal kembali di rumah ibu Kimmy sedangkan Greendia juga tingfal disana. Ia tak ingin serumah dengan orang yang bukan mahram dari suaminya, sekalipun Greendia adalah adik seayahnya.
Lexi kini tengah berusaha memulai hidupnya kembali bersama suami yang lima tahun lalu ia tinggalkan.
"Kahfa, em maksudku Abang." Lexi meralat ucapannya, entahlah ia selalu ingin memanggil suaminya dengan sebutan nama saja.
Kahfa tengah berada di kamarnya, ia tengah membereskan dan mengganti seprai di kamarnya.
"Tidak apa, kau boleh memanggilku dengan namaku saja, aku menyukai namaku saat kau panggil." Kahfa mendekat kearah Lexi.
__ADS_1
"Ada apa? Kau ingin tidur sekarang?" Kahfa mengernyitkan dahi. Dengan wajah tersenyum jenaka.
Tidur yang di maksud Kahfa tentu saja tidur dalam tanda kutif. Ia bahkan ingin mengulang kegiatan tadi siang.
Lexi terdiam sebentar. Ia menimang-nimang kalimat mana yang sekiranya pantas untuk ia sampaikan.
"Bukan begitu. Kahfa, Zayn sudah besar ia ingin tinggal di sini bersama kakek dan neneknya. Lagi pula lingkungan di tempatku tinggal Zayn tak mempunyai teman sehingga ia terlihat kesepian."
"Lexi, memang sudah selayaknya Zayn tinggal dan besar di sini, sampai saat 18 tahun nanti Zayn baru boleh melanjutkan pendidikannya di luar pondok jika itu di perlukan."
"Aku juga akan kembali tinggal di sini jika kau dan Zayn kembali tinggal di sini. Tapi jika kau akan pergi ke kota tempat tinggalmu kemarin aku tak memberikan ijin." ujar Kahfa tegas.
"Ya, aku tau itu. Tapi ada hal lain yang membuatku tak nyaman jika harus kembali tinggal disini." Lexi berujar tak enak bahkan ia meremat kesepuluh jemari tangannya bergantian.
Kahfa mengambil alih kedua tangan Lexi dan mengecupinya satu persatu. Kahfa terlihat berbeda sifat setelah kejadian tadi siang. Tentu saja Kahfa bersikaf lebih lembut pada Lexi, jika Kahfa salah bersikaf bisa saja Lexi tak memberikan jatahnyakan? Itu tidak boleh terjadi!
Hey kalian tak lupa kan jika Kahfa baru saja merasakan hal baru, dan tentu saja ingin kembali untuk mengulangnya lagi.
"Katakan apa yang membuatmu tak nyaman jika kembali tinggal di sini?"
__ADS_1
"Greendia. Aku tak ingin tinggal seatap dengannya."
"Oke, jika itu alasannya malam ini juga aku pastikan Greendia pergi dari rumah ini." Kahfa mengusap wajah Lexi perlahan. Setelah kejadian dulu Kahfa bertekad akan selalu mengutamakan keinginan dan kenyaman Lexi. Kahfa belajar dari kesalahan di masa lalu tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.