
"Kabarku sangat baik, seperti yang kau lihat. Tidak kekurangan sesuatu halpun." Entah mengapa jawaban yang di lontarkan Sari terasa sebagai sindiran yang menegaskan jika wanita itu dapat hidup lebih baik tanpa dirinya.
Riza tersenyum kikuk. Atmosfer di ruangan itu terasa berbeda, Riza merasa Sari mantan istrinya begitu mahir bermain kata.
"Oh, Ya. Dimana istri dan anakmu?" Sari bertanya dengan tenang, bahkan perkataannya di srlipi senyuman ah sepertinya Sari memang tidak dendam padanya, Sari juga terlihat ramah.
"Mereka, mereka."
Riza bingung harus menjawab apa. Istri siri dan anaknya tidak ia perbolehkan ikut ke acara ini. Kejam sekali bukan pria ini, bahkan meskipun Citra istrinya satu-satunya tapi pria itu tidak mengesahkan pernikahan mereka bahkan putrinya sampai kini belum mempunyai akta lahir, lalu siapa yang tau alasannya?
"Sayang."
Jason mendatangi istrinya dan membawa sebuah kursi dari luar, yang berbahan dasar pelastik berwarna hijau botol.
"Duduklah, jangan terlalu lama berdiri, tidak baik untukmu dan bayi kita." Jason menuntun Sari untuk duduk, serta mengelus bahunya.
Jeder ...
Apa kata pria dewasa tadi sayang? Dan sari tidak menyangkalnya mustahil itu terjadi kecuali mereka ... Dan bayi apa maksudnya ini mengapa semuanya kalimat kakak ipar kakak kandungnya mengerucut ke arah jika mereka adalah suami istri benarkan begitu? Riza tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat ini.
"Ka-kalian." Riza memincingkan mata saat Sari mengelus punggung tangan Jason.
"Kami sudah menikah." pungkas Sari cepat.
Hek.
Terasa ada godam besar yang menghantam permukaan dada pria itu, ia terpaku dengan luka yang menganya perih, benarkah Sari telah di miliki pria lain? Lalu untuk apa dan siapa yang mau peduli dengan sakit yang menimpanya? Entah pada siapa Riza bertanya, nyatanya ia bisa membebaskan rasa yang tidak bertuan ini.
__ADS_1
"Se-sejak kapan."
"Sudah lebih dari dua bulan." jawab Sari lagi.
"Berbicaralah dulu, hmm, dengan mantan suamimu. Tapi ingat jangan terlalu dekat, kau tidak lupakan? Aku pria tua yang pecemburu." Jadon tersenyum bersahaja.
"Kau mau kemana? Kenapa tidak kau temani aku berbicara jika kau cemburu?" Sari menatap teduh suaminya, Riza iri pada Jason, tatapan yang wanita itu perlihatkan sekarang adalah tatapan yang selalu Riza dapatkan.
Tatapan yang sama, dari mata orang yang sama tapi pada pria yang berbeda. Tutur lembut itu juga sering balas dengan makian dan perbandingan di masa itu.
Riza sudah menyadari kesalahannya. Lalu bisakah waktu di tarik mundur?
"Aku mau menemui Kyai terlebih dahulu, ada beberapa hal yang mau aku tanyakan." Jason berbicara lembut, juga dengan senyuman yang menenangkan.
"Riza titip istriku sebentar."
Setelah kepergian Jason Riza kembali membuka suara.
"Aku mencarimu kemana-mana." Lirih Riza pelan.
"Untuk apa? Untuk mengabarkan jika hidupmu sangat sempurna?" Sari tersenyum kecut.
"Kau nampak berbeda."
"Tentu saja. Ada seseorang yang telah mengajarkanku cara bertahan hidup agar menjadi wanita tangguh, agar pria tidak membanding-bandingkan seongok tubuh ini. Maha suci Allah yang sudah mengganti apa yang aku miliki dengan hal yang lebih baik."
Bagai luka sayat terkena taburan garam, beuh perihnya luar biasa.
__ADS_1
Riza tak menanggapi sindiran mantan istrinya.
"Kenapa tidak bilang jika kau menikah dengan Bang Jason?"
"Ck, untuk apa? Agar kau meledek serta menertawakan aku, atau untuk membuktikan jika aku bisa hidup lebih baik tanpamu?" Benar kata Riza, Sari semakin cerdas bermain kata.
"Kenyataannya memang seperti itu kan?" Riza tertawa masam, sudut matanya terasa perih.
"Kau seperti orang terluka Za." Sari menertawakan pria di hadapannya, wanita itu sudah kehilangan rasa hormatnya sejak hubungan mereka berakhir.
"Memang. Memang aku terluka, aku terluka Sari saat ku tau orang yang kau tatap teduh seperti tadi bukan aku lagi. Aku bahkan menahan amarahku saat Bang Jason memegang pundakmu." jatuh sudah air matanya.
"Berhenti bertingkah seperti orang teraniaya Za. Dia memiliki hak untuk menyentuh dan perhatian padaku, dia suamiku. Kau juga bahkan melakukan hal legih gila dari itu saat bersama Citra, kau bahkan mengelus perutnya, kau mencium kepalanya saat aku melihatnya. Tidak bisa kah kau melakukan itu saat aku tak ada." Sari terpancing dengan teriakan mantan suaminya.
"Aku melakukan itu saat kami sudah menikah, kau itu berkata seakan-akan aku telah menghianatimu. Citra juga istriku" Riza juga membela diri.
"Ya, ya kau benar. Aku tidak memiliki hak apapun untuk mempertahankanmu. Dan Tuhan sangat baik padaku, Tuhanku tidak tahan mendengar rengekanku setiap sepertiga malam untuk memintamu kepada pemilikmu langsung. Tadinya ku pikir Tuhanku sangat pelit padaku, ternyata Tuhanku sangat dermawan. Setelah ia mengujiku selama tiga tahun aku di hadiahi sosok suami yang sangat menghargai aku. Tuhanku sangat pengertian sehingga ia tak melembutkan hatimu karna sudah terlanjur rusak. Tuhan memberikanku hati baru yang penuh kasih sayang. Kau tau aku sangat bahagia hidup dengan priaku. Aku tak malu lagi mengumumkan pada dunia jika priaku kali ini mengakuiku sebagai istrinya, dengan bangga dia memperlakukanku. Terimakasi."
"Sari."
Riza tak mampu menghentikan mantan istrinya.
"Lalu apa kabar dengan dirimu? Apa seperti yang ku lihat menyedihkan? Maafkan aku ya Allah, aku tau merasa bahagia di atas penderitaan seseorang adalah suatu kesalahan. Dan aku sadar sekarang aku tengah melakukan kesalahan, aku cukup bahagia melihatmu semenyedihkan ini." Sari menggelengkan kepala untuk menghentikan tawanya.
"Sari."
"Sayang cukup, mari istirahat." Jason membawa istrinya pergi dari sana.
__ADS_1