Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Kau senang?


__ADS_3

"Kau itu kenapa sih Bang, makin kesini makin kesana. Kay tidak suka Abang cium-cium." Kayla memakai pakaiannya dengan cepat. Setelahnya ia berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Jangan sentuh Kay, Kay punya wudhu." Kayla mengacungkan sebelah tangannya agar Ghaza mengerti, dan berhenti untuk mendekatinya.


"Ya, Kanjeng Ratu." goda Ghaza lagi.


Kayla menunaikan Shalat malamnya sebanyak dua rakaat. Ia juga memohonpengmpunan untuk dirinya sendiri dan kedua orang tuanya, serta memohon perlindungan untuk keselamatan keluarganya.


"Kay, nggak doain Abang?"


"Ih, untuk apa? Abang doa sendirilah.


"Lah, kok gitu? Abang suami suami Kay lah, dulu aja Kay ngelamar Abang." Ghaza meledek istrinya.


"Itu dulu,, saat aku patah hati sama kekasihku. Harusnya abang sadar diri Abang itu sebagai pelarian. Salah abang sendiri menolak Kay, jika saja waktu itu cinta Kay Abang sambut mungkin aku tak berputar haluan pada Taeku." Jelas Kayla panjang lebar.


"Udahlah Abang sana, pergi kemesjid. Kay mau nulis dulu mumpung pikiran masih fresh." usir Kayla


Kayla terduduk kembali di atas ranjang sambil menunggu subuh tiba, ia meraih ponsel pintarnya ia menulis di jejaring sosial miliknya, entahlah Kayla lebih nyaman menulis menggunakan ponselnya di bandingkan dengan menggunakan laptopnya, tapi terkadang Kay juga menggunakan Laptop tapi jarang-jarang.

__ADS_1


Kaki Kay yang semula bersila kini ia selonjorkan membuat Ghaja merasa terundang untuk merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya. Dan Ghaza benar-benar meletakkan kepalanya di pahaa istrinya.


"Ih, Abang apaan sih pegel tau?" Kayla menggerak-gerakan kakinya.


"Jangan menolak pahala, ini ibadah paling ringan." Ghaza srmakin menempelkan wajahnya di perut rata istrinya.


"Kalau aku terpaksa tetep saja ga jadi ibadah." Kayla meletakan ponselnya kembali di atas ranjang. Semua ide yang tadi menghampirinya sekarang berlarian entah kemana gara-gara pria mesum di pangkuannya.


Ghaza masih diam menikmati aroma yang menguar dari tubuh di dekapannya.


"Abang kenapa sih, saat Ayah mengatakan aku sebagai pengantin pengganti calon istri Abang, Abang malah diam saja." Kayla masih penasaran akan hal itu.


"Harusnya Abang menolak, di saat aku tak bisa menolaknya." Kayla menengadahkan wajahnya agar airmatanya tidak jatuh.


Ghaza yang menyadari suara Kay sedikit bergetar menyudahi mengendus perut istrinya. Wajahnya ia arahkan untuk menatap wajah yang mendongak.


"Kay menyesal menikah dengan Abang?" tanya Ghaza pelan. Sebenarnya ingin Kayla berteriak dihadapan wajah pria itu jika ia sangat menyesal menikah dengan Ghaza, tapi ia tak se nekad itu ia tak tega jika harus melukai perasaan Ghaza disaat pria itu terluka atas hinaan calon mertua tak jadinya.


"Bukan seperti itu, Bang. Kay itu masih muda Kay masih ingin bebas menikmati hidup, melakukan banyak hal tanpa harus merasa terbebani, em maksud Kay tanpa harus terfokus dengan rumah tangga. Kay belum siap menjadi istri, Kay juga belum ingin jika harus memiliki anak di saat Kay masih ingin melakukan bersenang-senang versi Kay." Kayla mengatakan keinginannya.

__ADS_1


Ghaza menatap dalam wajah istrinya.


"Meskipun Kay istri Abang, Abang tidak akan membatasi apa yang Kay sukai, Kay masih bisa meraih mimpi-mimpi Kay. Jika Kay belum siap jadi istri sesungguhnya Abang akan siap menunggu. Abang juga tidak memaksa Kay agar segera memiliki anak, semua itu bisa di rencanakan." ucapan Ghaza sedikit menenangkan hati Kayla.


"Janji?"


"Janji Kay sayang."


"Lalu kenapa saat itu Abang malah terlihat bahagia saat calon istri Abang di ganti olehku." Kayla nampak penasaran.


"Apa Abang harus menolak? saat Ayah menawarkan seorang bidadari untuk menjadi istriku. Rugi sekali Abang." Rega menjawil dagu istrinya.


"Dasar itung-itungan. Tapi aku masih kesal pada calon istri Abang yang mepermalukan Abang di hadapan semua orang. Jadi aku juga tak tega jika harus menolak Abang di hadapan banyak orang." Tanpa sadar Kayla memainkan rambut hitam suaminya, Ghaza terasa di manja saat ini. Sudah dua puluh tahun lebih ia tak merasakan di manja seperti ini oleh ibunya. Dimana Ibunya berada sungguh Ghaza merindukannya.


"Tapi kau menolak Abang di hadapan Ayahkan? aku harus berterima kasih pada idol favoritemu jika bukan karna mereka mungkin kau juga akan menolak Abang."


"Abang senang?"


"Tentu saja." Ghaza mengecup singkat telapak tangan istrinya.

__ADS_1


Suara Adzan subuh akhirnya terdengar menghentikan perbincangan keduanya.


__ADS_2