
Riza sudah selesai menenangkan diri di sebuah mesjid yang ia temukan di perjalanan, stelelah ia bisa mengendalikan emosinya kini lah saatnya Riza kembali ke rumah sakit untuk menemui istri pertamanya. Ralat, mantan istri karna sekitar dua jam lalu pria itu sudah menceraikannya Sari.
Namun saat tiba di ruangan tempat istrinya di rawat, kamar rawat itu kosong, hanya ada petugas rumah sakit yang tengah membereskan tempat itu.
"Maaf, mbak pasien yang ada di sini sudah pulang sekitar dua jam lalu."
"Dua jam lalu?" itu artinya Sari keluar tak lama saat dirinya pergi.
"Ya pak, saya permisi."
Riza terbengong di tempatnya, Sari sepertinya tidak main-main dengan ucapannya, wanita itu benar-benar sudah tidak ingin jadi istrinya lagi. Air mata Riza kini kembali berjatuhan, meskipun ia tidak mencintai istrinya tapi perpisahan ini cukup membuat mentalnya terpukul mundur.
...*...
"Dek, sudah lima hari kita pindah kan?"
"Ya."
Ridwan segera memboyong istri beserta anak kembarnya yang sudah ia persiapkan sejak lama, Abi bahkan memohon agar Ridwan tetap tinggal dengannya. Tapi Ridwan masih tetap pada pendiriannya dari pada ia harus mengambil resiko kembali kehilangan istrinya, sungguh waktu delapan bulan adalah hal paling mengerikan dalam hidupnya.
"Dek, sunahan yuk!" ajak Ridwan memelas.
Kimmy hanya mengulum tawanya, dengan kuat ia melipat bibirnya agar tidak tergelak.
"Dek, Masmu ini sudah puasa selama delapan bulan, kau tidak kasihan?"
"Lalu aku harus apa?"
__ADS_1
"Kau dengar kata dokterkan, di usia kehamilanmu yang sudah memasuki hari perkiraan lahir harus sering-sering di tengokin ayahnya, speermaa itu mengandung induksi alami yang bisa membantu merangsang untuk kontraksi, lagi pula ibadah yang satu ini bisa membuka jalan lahir untuk si kecil.
"Ya, aku tau."
"Eh gimana apa Sari udah di temukan?"
"Belum. Biarkan saja biar tau rasa si Riza itu aku sangat kesal padanya."
"Kenapa kau kesal padanya?"
"Nanti aku jelaskan. Sekarang ada hal lain yang lebih penting dari itu semua." Ridwan menuntun tangan istrinya ke tenpat gairahnya berpusat. Daging hidup itu kini sudah berdiri dengan tegak, seakan menantang mengibarkan berdera perang menuju nirwana.
"Bismillah."
Pria tampan itu segera menjalankan aksinya, menyentuh di titik-titik yang ia kehendaki.
Ridwan melucuti helaian pakaian yang di kenakan istrinya, ia sudah lama menantikan ini selama ia berpisah dengan Kimmy tidak sekalipun Ridwan mengeluarkan cairan yang berbau kenikmatan itu.
Sentuhan demi sentuhan membuat Kimmy menggila, Ridwan merindukan rasa dari surga yang ia rindukan, Ridwan membenamkan kepalanya di lembah yang selalu membuatnya candu, sesappan, jillatan, serta lummatan tak ada kelopak yang ia lewatkan.
"Ahh."
"Ridwan, berhenti, aku sudah lama tidak mencukurnya karna kesulitan oleh perutku. Aku takut di sana kotor." meskipun Kimmy berkata seperti itu tapi tangannya semakin menekan kembali kepala suaminya.
Ridwan menghirup dalam-dalam aroma itu, sedangkan Kimmy masih pasrah dengan nafas memburu setelah ia sampai pada pelepasannya.
Ridwan membenahi bantal dan guling untuk mengatur kenyamanan istrinya.
__ADS_1
"Aku akan mulai, jika kau tak nyaman katakan padaku."
Ridwan memulai penyatuannya.
"Ahhh."
"Ridwan."
Ridwan memaju mundurkan pinggannya dengan lembut dan tempo yang sangat pelan karna takut Kimmy merasa tak nyaman.
"Apa sakit?"
"Tidak."
Kimmy merasa nanggung dengan apa di lakukan suaminya ia pun memberanikan diri untuk memerintah suaminya.
"Lebih cepat."
"As you wish!"
Setelah mengatakan itu Ridwan memacu tubuhnya dengan cepat dan kencang. Hanya suara desahaan dan teriakan penuh kenikmatan yanGb memenuhi seluruh sudut kamar.
"Kimmy."
"Kimmy."
Berkali kali Ridwan meneriaki nama istrinya.
__ADS_1
Hingga gelombang dahsyat itu tiba, Ridwan membenamkan miliknya lebih dalam berbarengan dengan geraman beratnya.
.