
"Jangan pergi sebelum aku selesai." Kahfa berlalu ke kamar mandi dengan menenteng handuknya.
Kahfa bertekad untuk membuat Lexi kembali berbicara setelah ini. Ia lelah di diamkan oleh istrinya.
Lexi meneliti tempat tidur Kahfa yang terlihat berantakan. Sebenarnya semalam Kahfa bertempur atau bagaimana? Melihat bantal dan guling yang tidak beraturan, juga dengan seprai yang tidak terpasang dengan sempurna membuat tangan Lexi gatal untuk membereskannya.
Lexi bukanlah seseorang yang amat rapih, tapi melihat sesuatu yang berantakan jelas ia tak nyaman. Akhirnya Lexi membereskan tempat tidur suaminya juga memungut dan mencium satu persatu pakaian yang tercecer dan memasukannya kembali ke keranjang kotor pakaian.
Kahfa memperhatikan Lexi yang tengah membereskan tempat tidurnya. Lexi terlihat kewalahan saat memasang seprainya, bisa Kahfa pastikan jika ini adalah mengganti seprai pertama yang di lakukan Lexi mengingat Kahfi selalu memanjakan wanita itu.
"Masya Allah, ini tak semudah dugaanku." Lexi menggerutu pelan. Ia juga mengipasi wajannya sendiri yang terasa memanas.
Kahfa tak lantas membantu Lexi dirinya lebih menikmati kelincahan wanita itu dalam bergerak. Lexi tidak bisa melakukan apapun tapi ia dan adiknya menyayangi wanita itu.
"Akhirnya." Lexi terduduk di atas ranjang saat dengan masih mengatur nafasnya.
"Mana bajuku?" Kahfa sudah berdiri menjulang di hadapannya, dengan bertelanjang dada.
Seandainya saja Lexi sudah membuka hatinya mungkin ia akan mendekat dan meraba dada dan perut bidang itu, menjelajahi permukaan kulit indah itu dengan jemarinya. Sayang sekali Lexi belum mampu move on dengan semuanya.
Lexi berdiri dan menuju lemari tempat fi mana pakaian Kahfa berada. Jika soal mengambilkan pakaian Lexi sudah mahir melakukannya.
"Ini." Lexi menyodorkan pakaiannya tepat di hadapan tubuh Kahfa.
Tak langsung mengambil pakaiannya, Kahfa malah melihat Lexi yang nampak biasa saja melihatnya, tak Kahfa lihat rona merah jambu yang menyembul di antara pipi gadis itu. Padahal sebelumnya Kahfa selalu menikmati rona malu-nalu yang selalu Lexi tampilkan di hadapan adiknya. Ada sedikit ngilu di ulu hatinya mengingat dirinya tak di inginkan wanita itu.
Tapi Kahfa sudah bertekad akan membuat Lexi jatuh hati padanya.
Lexi sudah pegal karna tangannya sedari tadi menyodorkan pakaian suaminya tapi tidak segera di raih oleh Kahfa.
Akhirnya Lexi menyerah. Ia meletakan satu stel pakaian Kahfa tepat di samping pria Itu, lengkap dengan underweernya.
Saat Lexi hendak berbalik dan berlalu, Kahfa meraih tangan kanan Lexi, dengan sekali tarikan kasar Lexi terjerembab di pangkuan Kahfa. Secepat kilat pula Kahfa menahan Lexi agar tetap berada di pangkuannya. Kahfa membelitkan tangannya di perut Lexi, pria itu juga membenamkan wajahnya di antara perpotongan leher istrinya, menghirup lamat-lamat aroma tubuh yang mulai menjadi candu untuknya.
"Ku mohon. Ku mohon, hentikanlah waktu sejenak." Kahfa memejamkan matanya, menikmati tubuh mungil yang terasa hangat dalam dekapannya.
Lexi memberontak kecil di antara pelukan Kahfa yang semakin lama terasa semakin mengerat.
Ini salah! Ini tidak di benarkan, ia harus melepas pelukan Kahfa.
"Apa yang kau lakukan?" Lexi ters mencoba meloloskan dirinya dari tubuh yang mendekapnya.
"Ku mohon. Diamlah sebentar, biarkan aku seperti ini." Kahfa terdengar memelas. Membuat Lexi menghentikan gerakannya. Ia membiarkan tubuh kekar itu menelannya dalam pelukan hangatnya.
"Aku minta maaf soal semalam." Kahfa berujar lirih. "Aku tak bermaksud untuk menyalahkanmu. Aku yang salah terlalu menekanmu. Maaf!" Lirihnya kembali.
"Aku masih kesal padamu. Biarkan aku seperti ini sampai kesalku hilang. Jangan memaksaku, aku tak pandai berpura-pura hanya untuk menjaga perasaan orang lain." Lexi masih mengingat seberapa keras Kahfa membentaknya semalam.
"Tolong jangan diamkan aku." Kahfa melonggarkan pelukannya dan membalik tubuh Lexi menghadap ke arahnya.
"Abang ..." Lexi merasa tak nyaman kala Kahfa semakin mengikis jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Ada apa?" mata Kahfa terlihat sayu tatapannya juga terlihat melembut.
"Lepas."
"Tidak akan."
"Aku bilang lepaskan."
"Tak akan sebelum kau memaafkanku."
"Aku tak nyaman. Tolong menjauhlah!" Lexi menahan dada Kahfa menggunakan kepalan tangannya.
"Ingat kontraknya Bang. Kau bisa mendapat pelanggara dan harus membayar denda karna hal ini." Lexi melotot kala Kahfa memangkas jaraknya, bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.
Sumpah demi apapun Kahfa rela jika harus membayar denda berapapun asalkan ia bisa sedekat ini dengan Lexi.
Lexi baru sadar dengan posisi intimnya tangannya yang bahkan melekat di dada bidang Kahfa.
Kahfa tak kuat lagi.
Tanpa permisi lagi Kahfa menekan tengkuk Lexi dan segera membenamkan ciuman tepat di bibir wanita itu.
Mel-umat dengan rakus bibir seorang wanita yang baru ia ketahui rasanya sekarang, Kahfa tak ingin menghentikan ini sekalipun Lexi masih berusaha membebaskan diri. Beberapa kali Lexi memukul dada Kahfa tapi pria itu tidak terpengaruh sama sekali. Tak ada cara lain Lexi menggigit kuat bibir bagian bawah Kahfa sehingga Kahfa mengakhiri ciumannya.
"Lexi kenapa kau menggigit bibirku?" Kahfa memegangi bibirnya yang terasa perih dan mengeluarkan darah di sumber perih itu.
"Kau menciumku sialan." Lexi marah ia terlihat mengumpati suaminya.
"Kau itu bagai mana? Kitakan sudah membuat kontrak, kau membuat pelanggaran dan kau harus membayar denda Kahfa." Lexi bersungut-sungut saat berbicara dengan pria itu. Enak saja Kahfa mencium bibirnya tanpa ijin.
"Tidak masalah aku akan membayarnya." ujar Kahfa ringan. Ia tampak bangga saat melihat penampakan bibir istrinya yang terlihat lebih mengembang dari sebelumnya. Ia menji-lat bibirnya sedikit yang terdapat rasa setrawbery di sana. Sangat manis melebihi buah aslinya.
"Dasar licik. Manulatif. Perjaka tua!" Maki Lexi kesal.
"Ah, aku dapat ide bagai mana jika kita sama-sama melepas keperjakaanku." Ucapan Kahfa seakan menyiram amarah Lexi dengan solar yang mana malah mengundang makian yang lebih pedas.
"Sialan kau. Tak sopan berbicara seperti itu di hadapanku. Dari pada kau berpikir macam-macam lebih baik kau mencari orang untuk mengasah golok karatanmu. Aku tak mau bisa-bisa aku terkena penyakit tetanus jika melakukan hal gila denganmu." Lexi berkacak pinggang di hadapan Kahfa yang justru terlihat menggemaskan di hadapan Kahfa. Alih-alih tersinggung Kahfa justru semakin tertantang untuk menggoda istrinya.
"Ah kau ini. Kau tak menyayangkan suami tampanmu ini melepas keperjakaannya dengan wanita lain." Kahfa menatap ke arah selatan miliknya sendiri membuat Lexi bergidik geli. Ia belum terpikirkan untuk kembali melakukan hubungan suami istri dengan orang lain.
"Berhenti berbicara Kahfa, semakin kesini kau semakin ke sana. Dasar mesum kau!" Lexi menghardik suaminya sendiri.
"Lah aku mesum karna kau istriku. Sebelum kau menjadi istriku mana pernah aku berkata di luar batasan."
Ia juga sih, Kahfa bertindak demikian baru kali ini.
Kahfa mengenakan pakaiannya tanpa canggung di hadapan istrinya.
Dengan jelas Lexi dapat melihat tanda lahir berwarna coklat tua di antara paha kanan atas bagian dalam pria kekar itu.
"Kau beneran tak tahan ingin begini.?" Lexi bertanya juga dengan kedua tangan yang di buat seperti bertepuk tangan dengan cepat. Dan Kahfa sangat paham akan pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
Dengan semangat Kahfa mengangguk.
"Ya Lexi sudah dua puluh delapan tahun aku tak pernah menyentuh wanita manapun."
"Kau perjaka asli jika begitu."
"Ya dan kau yang mendapatkan ciuman pertamaku. Meskipun bibirku harus berdarah."
"Ya aku merasakan ciumanmu yang kaku." ujar Lexi ringan.
"Ya Karrim."
"Katakan bagaimana kriteria wanita pujaanmu?"
"Seperti kau!" ucap Kahfa penuh maksud. Ia berharap Lexi peka kali ini dan menyadari jika dirinya menginginkan Lexi.
"Sepertiku?"
"Hu'um."
"Apanya yang ingin sepertiku?"
"Semuanya."
"Aku bukan gadis Kahfa!"
"Aku tau, dan itu tidak masalah."
"Kau perjaka." lirih Lexi, mencoba mencari siapa wanita yang mirip dengannya.
"Kahfaaa."
Entah mengapa Kahfa sangat menyukai Lexi memanggil namanya langsung tanpa embel-embel Abang maupun Gus.
"Ya ada apa?"
Lexi mundar-mandir tak jelas, dengan sebelah tangan di pinggannya, ia tengah berpikir dengan otak konyolnya untuk mencarikan istri kedua untuk suaminya tapi siapa?
"Benarkah kau ingin wanita sepertiku untuk melepas keperjakaanmu?" tanya Lexi kembali.
Kahfa menganguk dan ia semakin berharap Lexi menyadarinya.
"Siapa ya?" Lexi masi berpikir. Kahfa sudah berteriak dalam hati jika wanita yang di maksud nya adalah Lexi istrinya sendiri.
Lexi menjentikan jari.
"Ya aku tau calon madu ku siapa!" Lexi bertepuk tangan.
"Greendia!"
Satu nama itu mengingatkan Kahfa akan sesuatu.
__ADS_1