Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Ghaza! tataplah limpahi aku dengan cintamu


__ADS_3

Benar apa yang di katakan Dylan bahwa rindu itu berat, ini juga yang di alami kedua orang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Kahfi dan Ghaza, semejak menikah ini adalah kali pertama mereka meninggalkan pasangan mereka dalam waktu yang terbilang cukup lama. Beberapa minggu bukanlah waktu yang sebentar untuk mereka menahan rindu pada pasangan masing-masing. Tapi ini lah hidup yang harus mereka lakukan.


Kini mereka tiba di daerah tempat mereka tinggal jika Kahfi langsung bertolak kerumah orang tuanya lain halnya dengan Ghaza. Ghaza segera pergi kerumah ibunya, karna kekasih hatinya berada di sana.


Meskipun dengan keadaan malam yang semakin malam, juga rintik gerimis yang menemani perjalanannya menuju rumah sang ibu tak ia hiraukan. Ghaza melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, pukul satu lebih dua puluh menit. Baginya mobil terasa melambat padahal dalam batas kecepatannya tergolong normal. Sehingga Ghaza meminta drever yang mengantarnya supaya mempercepat laju kendaraan.


Dari mobil menuju rumah Ghaza berlari, membiarkan barang bawaannya di bawa oleh security yang bekerja di rumah ibunya.


Tok ... Tok ...


Ghaza langsung mengetuk pintu, tak perduli ia mengganggu tidur para penghuni rumah, ia amat merindukan Kaylanya. Wanitanya satu-satunya.


Yang kebetulan yang membuka pintu adalah ibunya sendiri. Ibu Ayufia sepertinya baru selesai melaksanakan shalat malam terlihat dari mukena yang masih ia kenakan.


"Assalamu'alaikum ..." Ghaza langsung mencium penggung tangan ibunya.


"Wa'alaikumsalam."


"Ghaza kau pulang Nak? Kata Kay esok pagi kau pulang!"


"Tadinya begitu Bu, tapi aku dan Kahfi memutuskan pulang malam ini saat pekerjaan selesai. Bagaimana keadaan ibu?" Kahfi meneliti wajah ibunya yang masih di hiasi bekas luka Kibat cacar air yang ia derita.


"Ibu sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya dan rasa gatalnya saja."


"Bu, aku harus menemui Kay."


Ayudia menggelengkan kepala, oa merasa lucu dengan tingkah putranya itu.


Ghaza langsung memasuki rumah dan hendak menaiki anak tangga, baru beberapa anak taangga yang ia pijak Ibunya menghentikan langkahnya.


"Ghaza kau mau kemana?"


"Menemui Kay Bu!"


"Kay tidur di kamar Ibu. Kau itu ada-ada saja, nanya dulu makanya."


Ghaza tersenyum kikuk, ia juga menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa malu sendiri. Dengan terburu-buru Ghaza menuruni anak tangga yang ia tapaki tadi.


"Semenjak menginap di sini Kay tidur di kamar ibu, dia penakut di tempat baru sepertinya."


"Ya bu, dia memang begitu."


Ghaza dan ibunya memasuki kamar Ibu ayudia terlihat gadis cantik yang sangat Ghaza rindukan meringkuk di atas kasur lantai lebih tepatnya di bawah ranjang utama.

__ADS_1


"Jangan salah sangka Nak, penyakit ibu menular, ibu tak ingin Kay tertular jika tidur bersama ibu." ucap Ayudia, ia tak ingin putranya berpikir macam-macam apa lagi berpikir buruk padanya.


"Iya Bu, terimakasih ibu sudah peduli pada istriku!"


Ghaza berlutut dan satu-satunya yang ia lakukan adalah mengecek hidung Kayla, untuk memastikan istrinya masih bernafas, juga memegangi nadi istrinya.


"Ghaza ibu tidak melakukan hal buruk pada istrimu!"


"Ghaza tau Bu!"


"Lalu kenapa kau seakan memastikan jika Kayla masih hidup atau telah tiada?"


"Di kehidupan ini Ghaza sudah terlalu kehilangan banyak hal. Dan satu-satunya yang tersisa hanya Kay yang aku miliki, aku tak ingin kehilangannya." Ghaza meneteskan air matanya seiring matanya yang tertutup.


"Kau juga masih memiliki Ibu Nak, " Terdengar nada getir di suara Ayudia yang bergetar.


"Saat dimana ibu meninggalkan Ghaza, Ghaza merasa tidak di inginkan dan di butuhkan siapapun." Ghaza terisak pelan.


Ia mengingat kembali masa masa yang ia lalu selama dua puluh tujuh tahun lebih. Selama itu ia tak pernah melihat wajah ayahnya. Yang ia ketahu dari banyak orang tentang ayah biologisnya yang bernama Jaelani adalah seorang ustadz tampan meskipun sudah tidak lagi muda. Namun catatan merah pria tua itu mencoreng nama baik dan keluarganya.


Ibu Ayudia, ibu yang membawanya lahir kedunia ini juga turut menghilang di saat Ghaza membutuhkan sosok orang tua. Anak itu justru tumbuh dengan belas kasih orang lain yang tidak terikat hubungan darah dengannya.


Di masa lalu Ghaza adalah bocah malang sebatang kara. Ia di besarkan langsung oleh Kyai Sulaiman ayah dari Gus Ridwan. Ghaza sangat menyayangi Kyai Sulaiman, tapi Allah lebih menyayanginya sehingga Kyai Sulaiman di panggil oleh sang pemilik seluruh makhluk.


"Ibu tau? Setelah aku menikah dengan Kayla. Aku kerapkali terbangun di waktu malam untuk memastikan Kaylaku tidak melarikan diri dariku. Tidak hanya itu, aku juga selalu mengecek denyut nadi juga pernafasannya. Aku ingin memastikan Kaylaku baik-baik saja! Aku tak ingin kehilangan kembali! Aku takut Kayla tiada Bu."


Ghaza menunduk bukan hanya sebulir dua bulir air mata yang jatuh. Cairan bening itu kini menganak sungai di pelukuk matanya, layaknya bendungan air yang jebol. Semenderita ini Ghaza di masa lalu, bahkan bayang-bayang penderitaannya tak hilang sepenuhnya dari dirinya.


"Ghaza maafkan ibu! Ibu adalah ibu paling buruk-"


"Stt ... Tidak apa Bu, Ghaza sudah memaafkan dan berdamai dengan semua takdir Ghaza Bu." Ghaza memeluk erat tubuh ibunya juga melabuhkan ciuman di kening sang ibu.


"Ghaza hanya tak ibu salah paham karna tindakan Ghaza tadi."


Ghaza melepas pelukan ibunya. Ia duduk di atas matras yang di tiduri Kayla.


"Bu Ghaza bawa Kayla kekamar ya?"


"Iya Nak." Ibu Ghaza mengangguk.


"Kay. Abang pulang!" Ghaza berbisik dan sudah menyelinapkan kedua tangannya di antara perpotongan lutut dan di bawah ketiak Kayla. Belum sempat Ghaza berdiri untuk membopong Kayla, wanita itu sudah terbangun dari tidurnya.


"Ada apa?" Kayla mengerjap membuka sebagian matanya yang menyipit.

__ADS_1


"Abang ..."


Kayla mengerutkan kening juga mengucek matanya beberapa kali. Dan di saat pandang matanya menangkap kebenaran Ghaza.


"Ternyata ini bukan mimpi. Abang benar-benar pulang?"


"Iya ini Abang."


"Abang ... Kay kangen." Kayla menghujani wajah Ghaza dengan begitu banyak ciuman, sampai pria tampan itu memejamkan matanya menikmati hujaman cinta yang tak terhingga.


Awalnya Kayla tak menyadari keberadaan ibu mertuanya. Tapi saat ia menyadarinya Kayla segera melepas ciumannya.


Ghaza tak bisa membendung kerinduannya ia meraih tengkuk istrinya dan melabuhkan satu ciuman dalam di bibir istrinya. Ghaza sudah memiringkan kepalanya berniat memperdalam ciuman. beruntung Kayla menyadari kehadiran ibu mertuanya sehingga ia melepas paksa ciuman suaminya. "Abaang ih, ada ibu."


Ya Allah inikah nafsu dunia, sampat Ghaza melupakan keberadaan ibunya. Jika saja Kayla tida menghentikannya bisa saja Ghaza kehilangan kendali dan melucutu istrinya di sini.


Wajah Ghaza sudah memerah, bisa-bisanya ia lupa mereka tengah berada di mana.


"Ayo kita pindah Abang mau ngasih upah untuk istri cantik Abang." Bisik Ghaza.


Ghaza membopong tubuh istrinya dan ia bawa dengan setengah berlari.


"Bu kami ada urusan." Teriak Ghaza saat mencapai ambang pintu.


.


"Mana hadiahnya?" Kayla bertanya.


"Hadiahnya sudah di bawa Kahfi ke rumah kita. Tapi upahnya ada pada Abang."


"Upah?"


"Hu'um Abang sudah lama tidak menyenangkanmu." Ghaza mengecupi leher istrinya.


"Abang sudah menghitung dengan tepat. Kay sudah boleh Abang datangi." Setelah berdo'a Ghaza merebahkan istrinya di ranjang empuk miliknya.


"Sayang bolehkan? Abang mendatangimu." Ada apa dengan suara Ghaza yang serak itu. Meskipun Ghaza tengah tegang-tegangnya, pria itu tetap meminta ijin pada istrinya. Di banding dengan apapun, kenyamanan Kay adalah sesuatu yang paling utama untuknya.


"Datanglah. Kay akan menyambut Abang dengan sepenuh hati."


Dua jiwa yang melebur jadi satu tanpa paksaan dari pihak manapun apa lagi rasa inirasa yangmereka rindukan dalam beberapa waktu. Kayla berharap cinta Ghaza akan tetap sama di ruang dan waktu yang berbeda.


"Kayla Omar, aku mencintaimu dengan amat sangat." berulang-ulang Ghaza menyatakan cintanya.

__ADS_1


"Ghaza, tetaplah limpahi aku dengan cintamu."


__ADS_2