
Tiap pagi Kahfi dubuat mabok dan muntah-muntah, ia juga merasa mual serta pusing tiap kali mencium bau sesuatu. Sudah bermingu-minggu ia merasakan ini dan menurut dokter yang menanganinya mungkin saja ini efek dari sakit yang ia derita.
Lexi selalu menawarkan dan mengajah Kahfi untuk menemui dokter. Lexi merasa kasihan pada suaminya yang kehilangan nafsu makannya. Kahfi juga merasa berat badannya semakin menyusut hingga untuk beberapa waktu Kahfi mengerjakan pekerjaannya di rumah.
Kahfi tak membicarakan penyakit yang di diagnosa dokter kepada keluarganya. Yang Kahfi takutkan keluarga justru merasa panik.
Kahfi juga sudah tak mengkonsumsi obat-obatan yang di berikan dokternya. Menurut tubuhnya, keadaannya malah semakin melemah setiap kali meminum obat dari dokter Ferdy.
"Mas aku merasa perutku kedutan mulu sejak kemarin." Lexi mengeluh pada suaminya.
"Mungkin asam lambungmu naik. Ayo mas antar ke dokter!" Kahfi mengapit tangan istrinya.
"Sekalian mas priksa ya." Lexi menggenggam tangan Kahfi.
"Ay, sepertinya Mas ada urusan Mas tinggal dulu ya. Ayang periksa sama ibu." Selalu saja Kahfi menolak jika di ajak ke dokter oleh istrinya ada saja alasan yang mengharuskan Kahfi menolak ajakan istrinya.
Lexi di buat semakin curiga juga ia bertekad mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuknya.
Lexi tidak menemukan apapun di kamar mereka sehingga ia memutuskan untuk pergi ke ruang kerja suami juga kakaknya.
sepertinya Allah memang sedang berpikak padanya di sana ada Kahfi juga Ghaza yang tengah berbincang masalah pekerjaan.
"Gus Ghaza, Abang tolong bantu aku. Aku merasa Mas Kahfi menyembunyikan rahasiah dariku." ujar Lexi terus terang.
"Maksudmu apa Lexi jangan menuduh sembarangan aku mengenal adikku. Ia tak mungkin bermmain gila di belakangmu" Kahfa hanya tak ingin Lexi berpikir buruk tentang adiknya.
"Apa maksudmu Lexi, aku setiap hari bersama Kahfi. Aku bersaksi dia tidak melakukan hal macam-macam di luar sana." Ghaza ikut membela kakak iparnya.
"Bukan itu maksudku."
Lexi menjelaskan tentang perbincangan dengan Kahfi tempo hari juga dengan Kahfi yang selalu menolak saat mau di bawa ke pusat kesehatan. Juga tentang obat-obatan yan Lexi temukan hari itu Lexi mengucapkan semuanya agar para iparnya mau membantunya.
Lexi sempat membaca kemasan obat itu dan saat di sercing oleh Kahfa ternyata obat itu adalah obat khusus untuk orang penderita kanker.
Jantung Lexi mencelus seketika saat ia membaca deretan informasi di laptop kakak iparnya. Hampir saja Lexi oleng jika Ghaza tidak sigap dan membantunya duduk.
"Tenang Lexi. Minumlah Dulu." Kahfa menyerahkan segelas air pada adik iparnya.
Jangankan meraih atau meneguk air itu, Lexi masih bergeming dengan air mata yang menganak sungai melewati pipinya. kerudung yang ia kenakan bahkan basah karna air matanya semakin membajir.
Ia merasa menjadi wanita paling tolol di muka bumi ini. Mengapa ia tidak menyadari jika Kahfinya sakit. Tapi memah Kahfi terlihat sehat hanya berat badan yang menurun juga nafsu makan yang berkurang.
Lexi juga kerap kali terbangun di waktu malam, Kahfi tidur dengan nyenyak. Apa itu hanya rekayasa yang di lakukan Kahfi untuk menutupi sakitnya?
"Tidak mungkin. Tidak mungkin Kahfiku sakit." Lexi sudah terisak pelan memeluk lututnya sendiri.
__ADS_1
"Bang dia bahkan ingin memiliki anak dariku." lirih Lexi pelan. Ia tak bisa berkata-kata lagi saat bayangan tentang Kahfi akan meninggalkannya untuk selama-lamanya memenuhi pikirannya.
"Kahfiku tidak boleh kemanapun. Jika ia sakit ia akan sembuh. Aku belum membahagiakannya. Aku selalu merepotkannya." Lexi kembali menangis.
Saat Kahfi hilang saja Lexi nyaris kehilangan kewarasannya, apa lagi saat ia mengetahui jika kemungkinan besar Kahfinya sakit parah.
"Ya Allah. Lexi ada apa?" Kayla memeluk iparnya yang terisak di lantai tangisannya terdengar sangat menyayat hatinya.
"Kahfiku sakit Kay. Dia sakit parah dia tidak mengatakan ini padaku. Dia sakit sendirian, aku istrinya tapi aku bodoh karna tidak mengetahuinya. Katakan bagai mana caraku agar aku bisa menemui Allah, aku ingin menawarkan penawaran dengannya. Kata Kahfiku Allah sangat pemurah aku rela menukar apapun yang ku miliki asal Kahfi tetap bersamaku." Kayla yang tak tahan mendengar celotehan iparnya turut menitikan air mata begitu juga dengan Ghaza dan Kahfa yang juga turut merasakan luka yang sama dan merasa terhianati karna Kahfi merahasiahkan keadaannya.
"Kemana Kahfi?" kahfa bertanya dengan suara parau.
"Katanya pergi sebentar. Ada urusan, entah itu sebagai alibinya karna aku mengajaknya ke rumah sakit."
"Lexi berpura-pura lah kau tak mengetahui apapun. Agar Kahfi tidak merasa tertekan, atau terbebani." Ghaza berpendapat.
.
Bodoh Kahfi tak ingin memeriksakan dirinya kedokter lain. Ia cukup tertekan dengan apa yang menimpanya, jika saja ia tak mencurigai hal janggal mungkin saja ia akan selamanya berada di dalam kebodohan.
Sore itu ia melihat dokter Ferdy dokter yang menanganinya selama ia sakit belakangan ini di sebuah Caffe, Kahfi berniat mendekat dan menyapanya, tapi urung saat seorang wanita menghampirinya. Wanita yang sangat Kahfi kenali meskipun ia melihat dari belakang, ya wanita itu adalah Zahra.
Kebetulan pula Kahfi mengenakan masker sehingga ia bisa leluasa duduk di meja terdekat.
"Semuanya berjalan sesuai rencanamu Ra. Kahfi percaya dirinya sakit parah. Bahkan ada hal lain yang tidak kita rencanakan. Kahfi mengalami mual dan muntah. Tiap pagi dan saat mencium bau makanan tertentu. Dia juga merahasiahkan ini dari keluarganya, menyangka dirinya benar-benar sakit, dia benar-benar polos Ra, asal Kahfa tidak mengetahui hal ini semua pasti aman." Dokter Ferdy berkata bangga sedangkan Kahfi sudah mengepalkan tangannya.
Selama ini dia di bohongi. Dan di buat berpikir yang tidak-tidak dengan sesuatu yang tidak terjadi.
"Kau masih memberikan obat diet agar nafsu makannya turun?"
"Ya, bahkan aku memberikannya obat yang dapat memicu kegelisahan dengan rasa kantuk dan lelah." ujar dokter Ferdy.
"Apa semuanya aman?"
"Sangat aman, aku sudah mengganti semua kemasannya."
Nafas Kahfi memburu, juga dengan jantung yang tak terkendali. Inikah penampakan teman sebenarnya dan dokter itu sudah bersekongkol dengan Zahra.
"Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?" Dokter itu bertanya lagi.
"Pengaruhi Kahfi untuk menceraikan istrinya. Setekah itu tugasmu bebas. Aku akan menyerahkan bayaran yang sangat tinggi untukmu." Zahra tersenyum penuh kemenangan.
"Aku akan menikahinya setelah ini." ujar Zahra kembali.
Sudah sejak lama Zahra merencanakan ini dan selangkah lagi ia akan berhasil.
__ADS_1
Kahfi menyimpan rekaman itu di ponselnya juga mengkopinya menjadi beberapa agar jika terjadi sesuatu ia masih memiliki copyannya.
Jika kalian melihat marahnya orang kasar yang pemarah menyeramkan. Maka marahnya orang lembut lebih mengerikan dari dugaan.
"Kurang ajar." Kahfi kehilangan kendali. Ia memukuli beranjak dari meganya dan
Bugh
Bugh
Kahfi memukuli dokter berkepala polontos itu. Zahra di buat ketakutan dengan diri Kahfi versi lain di hadapannya.
Tanpa pandang bulu, Kahfi juga memukuli Zahra menampar wajah gadis itu beberapa kali. Sampai sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah.
Krak ...
Terdengar suara patahan dari tangan dokter yang di pegangi Kahfi. Hingga dokter itu menjerit di buatnya. Semua tamu Caffe berkerumun di sana menonton adegan yang bagi mereka merupakan hiburan gratis.
Kahfi bahkan mengangkat tubuh Zahra menggunakan satu tangannya. Bukan di gendong melainkan di cekik.
Zahra kesulitan bernafas sampai wajahnya yang ayu berubah menjadi merah denga lidah yang sedikit menjulur.
Dua orang keamanan tak mampu menghentikan tindakan Kahfi.
"Kau benar-benar iblis Zahra! Namamu tidak mencerminkan kebaikan sama sekali."
Brak ..
Kahfi menghempas tubuh Zahra hingga gadis itu terbatuk-batuk dan segera beringsut. Zahra sangat takut melihat Kahfi dengan versi lainnya.
"Ini pelajaran kecil. Setelah ini aku akan menghancurkan kalian hingga ke akar." Kahfi menendang kaki Zahra.
Sedangkan dokter Ferdy tak mengucapkan sepatah katapun ia terkejut dengan apa yang terjadi tangannya yang patah tak ia hiraukan.
"Profesi mulia yang kau emban tidak berarti apapun. Kau akan menyesal." Kahfi meludahi wajah dokter gila di hadapannya.
"Lexi."
Kahfi beranjak ia merindukan Lexinya.
.
Saat tiba di rumah semua orang menyoroti Kahfi dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa kau membohongiku." Lexi memeluk erat tubuh Kahfi.
__ADS_1