
"Mengapa ibu mengijinkan mereka pindah?" Tanpa sadar Kahfa menyentak ibunya ia sudah di buat khawatir dan langsung menyambar kunci mobilnya.
"Kau mau kemana?" Lexi turut berdiri.
"Menjemput Zayn dan Lexi."
"Ayah memberi ijin. Karna Lexi mengatakan tak ingin ada fitnah."
Kahfa berpikir apa ini karna pernyataan randomnya yang mengatatakan akan memper-kosah Lexi, sehingga janda itu pindah.
"Katakan mereka pindah kemana Bu?"
"Mereka pindah ke rumah mes bekas ustadz Ari, ayah sudah merenopasinya." ujar Kimmy.
"Syukurlah." Kahfa menghembuskan nafas lega setidaknya hanya beberapa langkah dari rumahnya Kahfa masih dapat mengawasi keponakan dan ibunya.
Kahfa bersyukur karna Lexi menurut padanya untuk menolak lamaran Ibrahim. Jika saja Lexi sampai menerima lamaran pria itu, Kahfa akan menggeret paksa Lexi ke kantor urusan agama.
.
Malam harinya Lexi mengetuk pintu rumah ibu Kimmy, membawa serta bayinya.
Sebenarnya sebelum Lexi mengetuk pintu Kimmy fan Ridwan juga mau menginap di rumah yang di tempati Lexi, tapi ibu satu anak itu sudah lebih dulu mengunjungi rumahnya.
Oekkk ... Oekkk ...
Zayn terus menangis.
Setelah mengucapkan salam Lexi langsung mengatakan jika bayinya terus menangis, badan bayi itu juga terasa hangat, dan sepertinya Zayn demam.
"Ibu, Zayn demam. Antar aku kedokter Bu." Lexi berujar panik.
Kimmy meraih cucu pertamanya dan mengecek suhu badan Zayn.
"Tidak perlu ke dokter Nak. Sepertinya Zayn tak menyukai tempat baru. Zayn menangis bukan karna demam. Zayn ingin tinggal di sini. Ini rumahnya! Kau lihat Zayn langsung diamkan."
Lexi mengerutkan kening, memangnya bisa seperti itu?
"Zayn pinter ya. Zayn tak mau tinggal di rumah kecil. Pengap ya. enakan di sini dengan Om dan Nenek." Kahfa malah mengompori keponakannya yang tersenyum di pelukan ibunya.
Akhirnya Lexi menginap kembali di rumah ibu Kimmy.
Pagi-pagi Lexi kembali kerumahnya.
Kahfa selalu merindukan keponakannya, meskipun sudah rapih ia akan mengunjungi Zayn terlebih dahulu.
Kahfa beranjak ia ingin menemui Zayn, belum sehari Zayn pindah lagi ia merindukan bayi kecil itu.
Tok ... Tok ...
__ADS_1
Kahfa bertamu kerumah sederhana yang di tempati Lexi.
Ada piring di meja ruang tamu Lexi, dan Kahfa bisa menyimpulkan wanita itu tengah makan sembari menggendong bayinya.
Kahfa kemudian membuka lebar pintu rumah itu. Tujuannya jelas ia tak ingin ada Fitnah.
Kahfa menggeleng, ia tak habis pikir dengan isi kepala wanita itu. Hidup Lexi akan lebih gampang saat serumah dengan ibunya, tapi wanita itu memilih pindah rumah, benar-benar di luar nalar. Padahal jika Fitnah yang Lexi hindari harusnya Lexi menerima saja Kahfa menjadi suaminya maka tak akan ada fitnah setelahnya.
"Tutorial mempersulit hidup!" Kahfa meminta keponakannya, dan membawanya dalam dekapannya.
"Kau ingin menjauhkan aku dari Zayn, Lexi?"
Lexi diam. Bukan itu maksudnya, tapi ada hal-hal lain yang ia pikirkan. Lexi tak menjawab ia melanjutkan makanannya. Hanya makanan bungkus, ya karna Kahfa tau Lexi tidak pandai memasak selain memasak air Lexi akan kesulitan memasak apapun. Memasak mie instan saja bisa gosong jika mama Zayn yang memasak.
"Lexi apa susahnya kau menikah denganku?" Kahfa masih memangku Zayn yang menatap balik wajahnya.
Lexi menghentikan kunyahannya.
"Bang, aku tak ingin memulai hubungan baru di saat aku masih terikat dengan masa laluku. Aku tak ingin menyakiti siapapun baik kau ataupun diriku sendiri, jika seandainya aku tak mampu membuka hati."
Kahfa mengerti apa maksud dan tujuan wanita itu. Hanya saja keinginan untuk menunaikan wasiat adiknya lebih ingin Kahfa lakukan dengan segera.
"Kau belum mencobanya! kau tak akan tau akan membuka hatimu atau tidak untukku." Ujar Kahfa datar.
"Kau ingin ku jadikan kelinci percobaan Bang?" Lexi berujar sinis ia melanjutkan makannya.
"Tidak masalah, aku tidak keberatan, bagiku yang paling utama adalah menunaikan wasiat adikku. Tidak papa jika kau tak mencintaiku." Kahfa merutuki ucapan entengnya, ia tak yakin jika ia harus menjalani pernikahan tanpa adanya cinta, tapi ia terlanjur berkata.
Trak.
Lexi menjentikan jari saat sebuah ide terlintas di benaknya.
"Bang aku memiliki ide!" ujar Lexi kembali.
Kahfa mengerutkan kening ia merasa tak enak saat Lexi tiba-tiba menemukan ide, ia menduga jika Lexi pasti memiliki ide konyol sehingga membuat Kahfa merasa was-was.
"Aku mau menikah denganmu. Asalkan kita harus membuat kontrak pernikahan." Lexi berujar tanpa beban.
"Kau ingin mempermainkan ikatan suci Lexi." Kahfa berujar lumayan kencang bahkan Zayn sampai sedikit terguncang di gendongannya.
"Bukan itu maksudku Bang. Kau bisa menunaikan wasiatmu dan aku bisa tinggal di rumah ibu tanpa khawatir akan ada fitnah."
Sebatas itu pemikiran sederhana Lexi.
"Bagai mana dengan nafkah?" Kahfa pria dewasa yang normal, nafkah bathin sebenarnya yang ia pertanyakan.
Lexi mengerjap beberapa waktu. "Nanti ku buatkan poin-poinnya Bang, larangan serta apa saja yang harus di lakukan dan harus di kerjakan. Aku pihak pertama dan Abang pihak kedua." ujar Lexi, wanita itu merapikan bekasnya makan. Nasi bungkus itu berubah rasa saat pembahasan mereka terdengar menarik.
"Yang ku tanyakan soal Nafkah Lexi."
__ADS_1
"Ya, nanti akan di bahas di surat kontrak pernikahannya. Aku perlu berpikir terlebih dahulu."
"Aku ingin jawaban sekarang!" Kahfa berujar serius.
Lexi di buat salah tingkah.
"Em. Untuk nafkah lahir, aku tak akan memintanya darimu. Mengingat uang yang di tinggalkan Mas Kahfi padaku sangat banyak. Tapi jika Abang ingin memberikan uang nafkah aku tak akan menolak." ujar Lexi kembali, ia masih waras untuk tidak minta langsung sejumlah uang dari mantan Abang iparnya.
"Lalu untuk nafkah batin bagai mana?' Kahfa berujar tenang, sedikitpun tak ada riak di raut tegas miliknya.
"Em, mengenai itu ..." Sejenak Lexi berpikir, ia mengingat apa yang di katakan almarhum Kahfi jika seorang istri menolak ajakan suaminya maka malaikat akan mengutuknya hingga pagi. Ia was-was tapi ia harus membicarakan ini.
"Aku-aku belum bisa menjanjikan hal itu padamu Bang. Tapi aku membebaskanmu untuk menikahi wanita lain seandainya kau tak bisa bersabar. Aku mengerti kebutuhan seorang pria dewasa. Aku tak ingin ada interaksi fisik di antara kita, jika itu terjadi aku akan mendendamu dengan sangat mahal."
"Aku bukan penganut poligami Lexi." tapi mengenai denda, jika ia sudah tak tahan Kahfa akan membayar dendanya.
"Ku harap Abang mengerti! Tak mudah bagiku untuk berubah atau secepat membalik telapak tangan memiliki pria lain. Hatiku masih di belenggu olehnya." Lexi menunduk.
Ini lagi yang menjadi pembahasan.
"Aku tak akan memaksa Abang untuk menyutujui semua syaratku. Abang berhak memilih jalan hidup Abang." Lexi tak ingin egois, Kahfa berhak memutuskan atau menolak jika keberatan dengan poin yang Lexi cantumkan dalam surat perjanjian nanti.
"Jika Abang tak sabar dan tak ingin poligami, Abang bisa menceraikan Lexi jika Abang sudah memiliki tambatan hati. Lexi tak akan menuntut apapun. Pernikahan ini juga tidak menggunakan tenggang waktu. Abang bisa menceraikanku jika sewaktu-waktu ada seorang gadis yang Abang sukai." Lexi terlihat legowo, ya mungkin Lexi bisa berkata demikian karna belum ada cinta untuk Kahfa, entahlah jika besok atau lusa jika Kahfa berhasil membuatnya jatuh hati. Akankah Lexi mampu berkata demikian.
Kahfa mengepalkan tangannya pernikahannya belum terjadi tapi Lexi sudah membahas perceraian. Lihat saja Kahfa bertekad jika Lexi sendiri yang tidak ingin mengakhiri pernikahan mereka.
"Tapi jika aku sabar dan mau menunggumu, apa aku akan menjadi suamimu seutuhnya dan ayah dari Zayn?" Kahfa menegakan tubuhnya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Kau bisa bertahan dan pergi kapan saja seandainya kau sudah mulai lelah."
"Baik, mari menikah dan lihatlah seberapa lama aku bertahan, atau bisa jadi kau yang memohon padaku agar aku jangan pergi dari hidupmu." Kahfa melenggang ke kamar Lexi untuk menidurkan Zayn.
"Aku pernah memohon agar Kahfi jangan pergi. Tapi buktinya jika jodoh sampai di sana seberapa kuat ku memohon dia tetap meninggalkanku." lirih Lexi.
Kahfa kembali ke ruang keluarga tapi ia tidak duduk. Tubuh jangkungnya menjulang tinggi.
"Aku harus berkerja. Siapkan surat kontranya, aku akan membicarakan ini pada Ayah."
"Jangan kau katakan pula surat kontraknya pada Ayah."
"Kau tau aku tak pandai berbohong. Jika kau tak ingin aku mengatakan surat kontrak pernikahan maka jangan buat kontrak."
"Apa jadinya pernikahan kontrak tanpa suratnya." Dengus Lexi.
"Jika kontrak itu membutuhkan tenggang waktu, kau bilang kita tidak memiliki tenggang waktu."
Iya juga.
Lalu
__ADS_1
Keduanya terlihat berpikir. "Semoga Lexi benar-benar tidak membuat surat kontrak."