
Sepulang dari rumah sakit di sinilah sepasang pengantin baru berada, lebih tepatnya di kamar Kahfi yang sangat rapih, bahkan Lexi sendiri ragu jika ini adalah kamar seorang pria, dia sendiri yang merupakan seorang wanita tidak serapih Kahfi. Kadang ia berpikir bisakah dirinya mengimbangi Kahfi yang selalu terlihat sempurna.
"Ay, mau mandi sekarang atau nanti." Ya Rahman, Ya Rahim suara selembut itu di tujukan pada dirinya, sunggung jika tidak memilirkan malu Lexi ingin jingkrak-jingkrak atau bahkan mungkin salto.
Tapi tunggu dulu mengapa Kahfi memanggilnya Ay, jangan katakan jika pria itu salah berbicara dan menyebut nama wanita lain di malam pertama pernikahan mereka, rasa kesel dan cemburu tiba-tiba merambati hati Lexi.
"Namaku Lexi bukan Ay." ucapnya ketus.
Kahfi hanya tersenyim menahan agar tawanya tak lepas saat menatap wajah meggemaskan istri barunya.
"Kau tau? Rasulullah memiliki panggilang sayang terhadap istinya siti Aisyah?" tanya Kahfi, dan gadis yang bernama Lexi itu malah menggeleng pelan. Lah bagai mana ia bisa tau? Bahkan ia baru saja memeluk agama Allah baru beberapa bulan terakhir ini.
"Nama Humaira Rasulullah pilihkan untuk siti Aisyah istrinya, Humaira sendiri artinya pipi kemerahan. Dan dalam haditspun di terangkan jika seorang suami sebaiknya mempunyai panggilan yang baik untuk istri-istrinya. Jadi aku ingin memanggilmu dengan sebutan Ay, kepanjangannya Ayang." Ce ileh, pipi Kahfi pakai memerah segala sepertinya ia tengah salah tingkah di hadapan istrinya sendiri.
Hih, siapapun siapa yang tidak semakin besar kepala jika di perlakukan manis oleh pria tampan seperti Kahfi.
"Bolehkan? Masmu ini memanghil Ayang." ucap Kahfi malu-malu.
'Sial oppa korea versi halal berada di hadapan Lexi, jika Lexi nyodor duluan pada Kahfi halalkan?' Sumpah demi apapun Kahfi sangat manis, membuat Lesi semakin klepek-klepek.
Lexi hanya mengangguk pelan.
Kahfi mendekat ke arah Lexi yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Ay, Mas boleh mencium bibirmu?"
Ya Salam, Kahfi ini pria macam apa sih? Masa mau cium saja pake acara bilang-bilang segala membuat Lexi semakin salah tingkah, tidak bisakah Kahfi langsung mebciumnya begitu saja, langsung celepok gitu, gak juga meski ijin resmi seperti ini kan? Memalukan!
Lagi-lagi Lexi hanya mengangguk, ia heran akan dirinya sendiri, kemana ke bar-baran dirinya pergi, mengapa sekarang Lexi kesannya malah malu-malu kambing, muak sekali rasa ia seperti putri pemalu di dongeng anak.
__ADS_1
"Bismillahirahmannirahim."
Belum sempat Kahfi membenamkan bibirnya Lexi sudah tergelak kencang lebih dulu. Ia merasa geli sendiri dengan bacaan basmalah saat hendak berciuman, pikir Kahfi lagian apa salahnya coba, sepengetahuannya adalah setiap akan melakukan hal baik harus mengucapkan basmalah dan mencium bibir istri adalah tindakan yang baik.
Tapi ya jangan kencang juga! Kan bisa baca basmalah dalam hati.
"Kok, Ayang malah tertawa sih?" ucap Kahfi polos sepolos bayi baru lahir.
"Mas Kahfi lucu sumpah. Biar aku ajarkan caranya. Bismillahnya cukup dalam hati dan ..." Lexi semakin mendekat dan merangkup kedua pelah pipi suaminya sebelum kemudian,
Cup ...
Satu kecupan lembut fan basah Lexi berikan, terserah kalian mau mengatakan Lexi terlalu gercep atau apapun wkwkwk.
Terbuai, dan tak ingin ini cepat berlalu, naruliah pria. Kahfi segera menahan tengkuk Lexi untuk memperdalam ciuman meraka, memagut dengan lembut dan dalam, sampai beberapa waktu yang tidak meteka hitung.
Lexi wanita pertamanya, sepupunya yang menjabat juga sebagai istrinya, tahta tertinggi di hatinya setelah ibunya di menangkan oleh gadis ini.
"Kenyal, dan rasanya memikat." ucap Kahfi.
"Aku ingin lagi.!" Kali ini Kahfilah yang memulai, bahkan ciuman kali ini lebih panas dan lebih gila dari sebelumnya. Kahfi sampai membaringkan Lexi di atas peraduan mereka.
Lexi terlonjak, ia kaget saat salah satu tangan besar Kahfi menangkup satu kelembutannya dan mere masnya dengan perlahan sampai satu suara des ahan berhasil keluar dari bibir mungilnya. "Aaahhh ..."
Dengan nafas memburu Kahfi mencoba mengontrol gejolak asing yang baru pertanya Kahfi rasakan seumur hidupnya.
"Maaf Ay, maaf, aku kelepasan." ucapnya sungguh-sungguh. "Apa sakit.?"
Nikmat bodoh, ingin sekali Lexi meneriaki itu tapi ia tak bisa melampaui batas saat berlaku terhadap suaminya. Nasib Lexi sepertinya memiliki suami sepolos Kahfi. Lexi menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Kahfi. Astagfirullah sejak tadi Lexi hanya menggeleng dan mengangguk saja, lidahnya terlalu kelu untuk berucap.
__ADS_1
"Apa sudah berdiri?" Lexi penasaran dan menyentuh sekilas pangkal paha Kahfi, sampai suaminya terlonjak dan langsung berdiri.
"Astaghfirullah, Ay. Apa yang kau lakukan? Melecehkanku? Ay jangan seperti itu! Itu tidak baik." Kahfi memperingatkan Lexi dengan seluruh wajah dan tubuh sudah memanas, ia malu luar biasa bisa-bisanya seorang gadis menyentuh area priabadinya, Kahfi yakin pasti Lexi sudah merasakan jika miliknya telah tegak.
Lexi sendiri malu tidak ketulungan, Ish tangannya tak bisa di kondisikan, bisa-bisanya ia lancang menyentuh mainan barunya. Tak kuat karna malu Lexi segera memasuki kamar mandi untuk menyiram wajahnya yang memerah sejak tadi.
"Mas, aku mandi dulu." teriaknya sambil berlalu.
Lexi marah marah di kamar mandi saat hendak mandi ia mendapati bercak coklat di Cd nya, dan saat mengingat tanhgal ini memang jadwalnya kedatangan tamu.
Sial sungguh sial, malam pertamanya akan gagal kali ini ia akan kedatangan tamunya lalu apakah Kahfi akan marah, sepertinya tidak.
Sampai beberapa waktu di kamar mandi Lexi ia keluar dengan wajah di tekuknya.
"Kenapa manyun hmm?" tanya Kahfi yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya.
"Aku kesal, masa di malam pertama kita, aku datang bulan." gerutu Lexi.
Hampir saja Kahfi tersedak oleh ludahnya sendiri, mulut istrinya semakin kemari semakin tak terkendali membuat kepala Kahfi semakin cenat cenut.
"Lah kenapa marah? Mungkin sudah jadwalnya."
"Ya marahlah, kalo aku datang bulan kita tak akan bisa ***-***."
"Uhuuukkk ..." Kali ini Kahfi benar-benar tersedak, Ya Allah Lexi tanpa Filter mulutnya.
"Nunggu seminggu kelamaan Mas."
"Ay, tidak papa. Kita bisa saling mengenal lebih dulu sebelum itu." Kahfi harus segera ke kamar mandi, selain kalimat Lexi, tubuh gadis itu seakan sengaja di pamerkan gadis itu tanpa sungkan dengan balutan handuk putih seperpotong pahanya.
__ADS_1
"Aku mau mandi, bajumu sudah ku siapkan." Kahfi segera berlari ke kamar mandi, hidungnya juga di gelitik aroma sabun yang membuat jantungnya kembali berdetak tak terkendali.
"Ya Allah, ya Allah, jantungku tak aman. Lexi terlalu berbahaya dari dugaanku."