
Ridwan kembali kekamarnya, Kimmy masih terlelap di atas ranjang, nampak aneh dimata Ridwan mengapa istrinya tidur dengan banyak keringat di dahinya bahkan beberapa kali kalinya berkerut tipis, Kimmy nampak gelisah dalam tidurnya wanita itu kerap kali menggeleng dengan cepat, Ridwan akan membangunkan istrinya tapi tiba-tiba.
"Tidak..." Kimmy langsung bangun terduduk dari tidurnya, napasnya tidak beraturan seperti habis lari maraton.
"Dek ada apa?" Melihat Kimmy yang tampak linglung Ridwan mendekat mengulurkan tangan ingin mengelap keringat di dahi istrinya, tubuh Kimmy langsung menubruk badan Ridwan dan memeluknya dengan erat, ia terisak saat mimpi itu kembali hadir menemani mimpinya.
"Aku takut, Gus me-mereka, melenyapkan Zui dan Mamaku. Dan mereka akan kembali." Kali ini Kimmy kelepasan berbicara.
"Tenanglah, hmm, semua akan baik baik saja, mereka tidak akan kembali, kau aman di sini bersamaku." Ridwan menenangkan istrinya mengelus kepalanya dengan sayang. Sedangkan Kimmy sekerika berwajah pucat pasi, Ridwannya berkata demikian, apa suaminya sudah mengetahui dosanya di masa lalu pertanyaan itu ia pertanyakan pada dirinya sendiri.
Bagai mana bisa suaminya mengetahui masalalunya, sedangkan yang mengetahui kisah didupnya adalah kedua kakaknya. Lalu apakakah suaminya akan melaporkan dirinya ke penegak hukum karna ia telah melenyapkan beberapa orang dengan tangannya.
"Ridwan, apa kau sedah mengetahui masalaluku,?"
"Ya, aku mengetahuinya Sami dan Jason sudah menceritakan semuanya setelah aku mendesak mereka."
__ADS_1
"La-lalu apa kau akan melaporkanku ke polisi? Karna kesalahanku di masalalu."
Ridwan hanya mengulas senyum mengelus pipi istrinya dengan sangat lembut, sampai-sampai Kimmy memejamkan matanya menikmati elusan lembut yang suaminya berikan.
"Itu tidak akan terjadi, sekarang kau adalah istriku, aku berkewajiban melindungimu, lagi pula Allah sudah menutup aibmu dan aku tidak berniat membukanya."
"Bagaimana jika keluargamu yang membuka aibku,"
"Tidak ada yang mengetahi masalalumu selain aku dan kedua kakakmu, kami semua menyayangimu dan tidak akan menempatkanmu dalam bahaya." Ridwan menatap teduh istrinya. "Ayo kita shalat biar hatimu kembali tenang." Dengan perlahan Ridwan menuntun sang istri kekamar mandi.
.
Saat berjamaah shalat subuh Jason dan Sami terkejut saat melihat kehadiran El Malik yang ada di pondok pesantren.
"Sam apa yang cecunguk itu lakukan di sini?" Sami masih memperhatikan Malik yang nampak tak acuh mengabaikan mantan calon kedua kakak iparnya.
__ADS_1
"Ga tau, lebih baik nanti kita tanyakan pada Ridwan. Shalatlah, jika kau tak tahu gerakannya cukup ikuti otang-orang yang ada di sekitar." Jason berbisik, ia tentu malu jika ada orang yang mendengar jika mereka tidak bisa melakukan Shalat.
Kali ini Ridwanlah yang menjadi imam shalat, suaranya yang lembut dan merdu membawa ketenangan kedua laki-laki yang selama ini lalai akan perintah yang maha kuasa, kedua hati pria itu tergerak untuk mendalami ilmu agama lebih dalam di tempat ini.
.
"Apaa?" Sami dan Jason kompak terkejud saat mendengar keterangan adik ipar mereka yang mengatakan jika El Malik mantan kekasih adiknya adalah sepupu Ridwan sendiri, ternyata takdir yang di ciptakan othor begitu sempit dan bersinggungan.
"Jas, Sam, aku permisi, sebentar lagi akan ada petugas kepolisian yang akan kemari, guna mencari keterangan lebih lanjut akan santri-santri korban Jaelani." Ridwan meninggalkan kedua kakak iparnya yang masih di liputi rasa takjub dengan kenyataan.
Pandangan mata Jason tertuju pada sosok wanita berkerudung panjang yang kini tengah bermain dengan seorang gadis kecil di halaman depan rumah. Wanita itu menyita fokus Jason dari keberadaannya tanpa sadar pria itu mendekati pusat perhatiannya, sebelum tiba-tiba.
.
.
__ADS_1