Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Syurga Suami


__ADS_3

"Wah, sepertinya seger tuh. Minta boleh gak?" tanya Berlian basa-basi.


"Gak, boleh. Ini milik istriku. Aku tak berniat beramal padamu. Kau ambillah sendiri!"


Ghaza membawa istrinya untuk kembali ke tempat mereka bersantai tadi. Dengan Riang Kayla membuka dan hendak melahap sekantung buah jambu aer yang di ambil suaminy.


"Sayang jangan di makan dulu." Ghaza menghentikan gerak tangan istrinya. Dengan telaten Ghaza membasuh satu persatu buah yang ia ambil.


Berlian ikut mendekat. Jujur saja ia ingin memakan jambu yang tengah Ghaza keringkan dengan menggunakan tissue, bayangan tentang Ghaza yang mengambilnya sepenuh hati pasti akan terasa nikmat pikir Berlian.


Berlian hanya berdiri mematung menonton drama romantis decara live, seandainya saja dirinya yang berada di posisi Kayla mengkin ia akan sangat senang.


Angin berhembus, rambut Berlian berwarna coklat berterbangan, layaknya sebuah adegan tebar pesona berlian sedikit mematrikan senyuman, ia berharap Ghaza akan melirik ke arahnya sebentar saja. Tapi sepertiya Ghaza tak tertarik sama sekali.


Sebenarnya Kayla bisa saja membagi buah jambu itu tapi Ghaza terang-terangan tak memberi ijin. "Kay makan dan habisi semuanya, aku mengambilkannya khusu untukmu hanya tujuh buah saja, aku senganja mengambil sedikit agar kau tidak khilap memakan buah ini aku hkawatir asam lambungmu naik." Ghaza memberikan dua buah jambu sekaligus pada tangan istrinya.


"Ganjil banget Bang cuma 7 kenapa ga 6 atau 8 buah?"


"Allah sangat menyukai angka-angka ganjil Kay."


"Oh." Dengan semangat Kayla memakan buah di genggaman tangannya.


Kayla menyadari Berlian ingin buah itu tapi ia tak berniat memberikannya. Kebetulan ada tukang kebun lewat di sana.


"Mas Ghaza tolong donk ambilin aku buah jambunya! Menolong orang itukan dapat pahala." Berlian nyeletuk memelas.


Ghaza memang berhati batu tak terpengaruh sama sekali dengan permintaan saudara tirinya.


"Aku nolong orang juga pilih-pilih Berlian. Ada hati yang harus ku jaga, mengharap pahala yang tak seberapa. Bisa-bisa ibadahku yang lain di tolak istriku, itu sama saja cari penyakit." Ghaza mengelus sudut Kayla yang berkembang.


Ya, Kayla tersenyum ia amat paham kemana maksud arah pembicaraan Ghaza. Ish fitnah sekali suaminya mana ada dia pernah mempersulit keinginan Ghaza. Yang ada Ghaza selalu membujuknya dengan 1001 cara agar Kayla mau menuruti ingin pria itu. Tipu muslihat Ghaza tak bisa di ragukan lagi, julukan perayu ulung sangat pantas di sematkan pada Ghaza.


"Kay jangan galak-galak sama suami. Nanti suamimu kabur tau rasa kau." Berlian mengira apa yang di katakan Ghaza benar adanya.


"Loh ko jadi aku sih, aku tidak galak ko apa lagi marah-marah itu bukan tipeku banget." Kayla memasukan buah jambu pada mulutnya yang sudah Ghaza bersihkan, dan mebelannya. Manis asam dan segar perpaduan yang pas di waktu siang ini.


"Aku tidak galakkan Bang?"


"Tidak. Mana ada cintanya Abang galak. Paling hanya gigit dan cakar-cakar dikit lah." ujar Ghaza. Ia juga mengedipkan mata kearah istinya dengan ekspresi nakal.


Sumpah Ghaza genit banget.


Berlian hanya diam memperhatikan Kayla yang menikmati buahnya. Dalam hati ia berharap Kayla menawarinya atau membagi satu saja buah itu.


"Mamang ..." Panggil Kayla.


Mamang tukang kebun itu berjalan tergopoh dengan satu parang di tangan kanannya. Pria itu sepertinya masih muda hanya saja penampilannya sebagai tukang kebun membuatnya terlihat lebih tua dari umur sebenarnya.


"Ada apa Kay? Kau memerlukan sesuatu? Biar Abang saja." Ghaza pikir Istrinya memanggil orang untuk ia mintai tolong.

__ADS_1


"Tidak Bang, bukan untukku." potong Kayla cepat.


"Mamang Berlian menginginkan buah itu, boleh minta tolong untuk ambilkan."


"Siap Non siap." dengan setengah berlari mamang tukang kebun bernama Ujang itu memanjat pohon jambu aer.


Tukang kebun itu tidak membawa tempat sehingga ia membuka kaos yang ia kenakan yang sedikit basah oleh keringat. Karna memang mang Ujang baru selesai berkebun.


"Wah rasa jambu aernya pasti lebih enak mbak ada asin-asinnya." Ledek Kayla. Ghaza tak kuat menahan tawa atas banyolan istrinya.


Hahaha.


"Kay berhenti berbicara! Jangan sampai bibirmu abang bungkam di sini."


Kayla repleks menutup mulutnya dengan satu tangannya, malu lah masa ia Ghaza ingin menciumnya. Kata bungkam yang Ghaza ucapkan mengandung kata lain.


Secepat mungkin Ujang kembali dengan banyaknya buah jambu di dalam kaos yang Ujang ikat.


"Ini Non Berlian buah jambunya." ucap ujang dengan semangat.


Baik Ghaza maupun Kayla menyadari ketertarikan Ujang terhadap saudara tiri Ghaza terlihat dari tatapan matanya yang begitu memuja.


Ghaza menyembunyikan Kayla di punggungnya, ia tak ingin istrinya melihat tubuh pria lain. Meski Ujang bekerja sebagai tukang kebun tapi bentuk tubuhnya cukup menarik menurut Ghaza.


"Bang awas ih, ngapain ngejegir di depan Kay."


"Sayang gak boleh liat tubuh orang lain berdosa. Cukup tubuh Abang saja yang boleh Kay lihat dan nikmati." Ghaza memasukan buah jambu sisanya ke dalam kantongnya dan segera menggendong Kayla ala bridal style. Dan menyembunyikan wajah Kayla di dadanya.


"Kita lanjut di kamar setelah shalat dzuhur." Ghaza tetap membawa istrinya menuju rumah dengan langkah lebar.


"Ujang tolong bawa alas kaki istriku." teriak Ghaza saat ia menyadari alas kaki istrinya tertinggal.


"Iya Tuan muda."


"Non ini buah jambunya." Ujang sampai pegal karna sedari tadi ia menyodorkan banyak buah jambu tapi tidak di raih oleh Berlian.


"Kau makan saja sendiri."


Sebenarnya yang belian inginkan bukan buah jambunya. Melainkan secuil pemberian Ghaza.


Dari kejauhan berlian melihat sesuatu dari kantong Ghaza terjatuh dan terinjak oleh pria itu sendiri. Berlian berlari dan segera mendekat ke sesuatu itu.


Berwarna merah, ternuata jambu yang Ghaza masukan ke kantong pria itu terjatuh dan ter injak oleh kaki Ghaza, di karnakan Ghaza sedikit berlari saat membawa Kayla dalam gendongannya.


Berlian berbinar, inikah cara tuhan memberikan apa yang ia inginkan. Buah yang sudah penyek itu ia raih dan genggam dengan suka cita.


Bayangkan saja! Bagai mana tidak penyek buah jambu aer matang terinjak kaki seorang pria dewasa yang bertubuh kekar.


Berlian mengusap sedikit dan langsung menggigit lalu memakan jambu itu dengan haru. Ada kebahagian di dalamnya.

__ADS_1


.


"Ah gerah sekali."


Ghaza segera membawa Kayla kekamar mandi mengajak istrinya untuk mandi bersama.


'Bang hanya mandi ya. Ingat kita belum shalat, kalau mau yang plus-plus nanti sehabis shalat saja." ujar Kayla memperingati.


"Ah istri Abang memang pengertian."


Ghaza meraih buah jambu di kantongnya. "Loh tinggal satu. Kemana satu lagi ya?"


"Mungkin jatoh Bang."


"Ini." Ghaza menyerahkan buah itu ke tangan istrinya.


Kayla meraihnya dan membersihkannya, kemudian ia memberikan kembali pada Ghaza, lebih tepatnya ia suapi buah itu pada mulut Ghaza.


Ghaza meng hisap ujung jemari Kayla di saat suapan terakhirnya. Dengan mata sayu yang menatap ke arah istrinya.


"Ayo mandi! Biar lebih cepat kita mainnya." ucap Kayla genit.


Setelah berbersih, mereka shalat berjamaah dan berdzikir bersama.


Setelah semuanta selesai Gha membawa istrinya ke tempat tidur.


"Kay main tebak-tebakan yuk?"


"Ayo."


"Surga seorang anak terletak di telapak kaki ibu kan?"


"Iya." jawab Kayla.


"Lalu surga suami terletak di ..."


Kayla berkernyit kening, ia mencoba berpikir. Tapi tidak menemukan jawabannya.


"Ga ada seperti itu. Yang ada syurga seorang istri terletak pada ridho suaminya Abang. Abang mah ganti-ganti hadits sembarangan." Kayla mencebik.


"Ada Kay."


"Surga suami terletak di? Mau tau jawabannya?" tanya Ghaza kembali. Kayla mengangguk polos.


"Tapi kasih Abang hadiah ya!"


"Ya buruan." Kayla semakin di buat penasaran.


"Surga suami terletak di ... Bawah perut istrinya. Bwahahaha ..."

__ADS_1


"Abang ..."


__ADS_2