Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Tak akan ikut campur


__ADS_3

Ayudia hari ini pulang dari rumah sakitnya. Sebenarnya Kayla ingin menemani ibu mertuanya yang belum pulih benar, tapi karna di rumah Ayudia ada Berlian Kayla urung melakukannya. Dan lagi jika Kayla membawa Ayudia ke rumahnya Kayla merasa tak enak pada Ibunya Kimmy bagai manapun Ayudia terlibat cinta segi tiga antara Ayah dan ibunya di masa lalu. Akhirnya Kayla membiarkan Ibu mertuanya di rawat di rumahnya sendiri di temani perawat khusus atau bisa di katakan suster yang sudah Ghaza tugaskan untuk merawat ibunya.


Ghaza dan Kayla kini tengah berada di kamarnya. Ghaza membaringkan tubuhnya di atas ranjang juga dengan kepala yang berbantalkan pangkuan istrinya.


"Kay, bagai mana jika kita pindah? Kita bisa menempati rumah yang dulu di tinggali uwa Risma. Abang akan merenopasinya jika Kay mau." Ghaza menatap teduh wajah di atas kepalanya. Bagai manapun ia ingin belajar mandiri di mana hanya ingin ada ia dan Kayla saja di rumahnya. Ia ingin menjadi kepala keluarga di rumah tangganya serta Kayla sebagai ratunya.


Kayla diam ia tampak berpikir, sebenarnya ia juga memiliki pikiran yang sama, apa lagi setelah saat di mana Ayahnya Ridwan memergoki ia dan Ghaza yang tengah berciuman waktu itu di dapur.


"Boleh. Bang ijin sama ayah dan ibu ya." pinta Kayla.


"Abang sudah ijin sama Ayah dan ibu dan mereka mengijinkan kita, kata mereka memang lebih bagus seperti itu. Karna bagi sepasang suami istri tak ada yang lebih baik dari tinggal mandiri. Jika Kay setuju, abang akan mencari tukang untuk merenopasi rumah sebelah desaignnya sesuai keinginan Kay." Ghaza mengecup dalam pergelangan istrinya.


"Kay boleh memilih cat yang Kay sukai?" tanya Kayla antusias, tak ada yang lebih menyenangkan dari ini di mana Kay bebas memilih warna kesukaannya.


"Tentu sayang."


"Kay ingin warna ungu. Apa boleh?"


"Apapun asalkan kau senang." Ghaza beralih mengecup perut istrinya. Ghaza akan membiarkan Kayla melakukan apapun pada rumahnya, asalkan Kayla merasa senang Ghaza akan menurutinya yang akan banyak menghabiskan waktu di rumah adalah Kayla. Jadi Ghaza akan membuat rumahnya sesuai keinginan wanita kesayangannya.


"Terimakasih Abang." Kayla mengecupi wajah suaminya dengan kecupan tak terhitung.


Ghaza bersukur atas kemudahan hidupnya, serta pengertian ibu dan kedua mertuanya. Untung saja baik Ibunya Ayudia maupun ibu mertuanya Kimmy tidak memaksa Ghaza untuk tinggal bersama mereka.


.


Di ruang belajar Lexi tampak sungguh-sungguh memperhatikan Kahfi kakak sepupunya yang tengah menjelaskan tentang shalat fardu.

__ADS_1


Entah karna ustadz baru nan tampan dan merupakan seorang Gus, anak pimpinan pondok yang sedang mengajar atau memang setiap santri wati memang selalu memperhatikan setiap pelajaran seperti ini sungguh Lexi tidak tau. Tapi yang jelas Lexi sudah mempersiapkan satu pertanyaan jika penjelasan Kahfi sudah selesai.


Lexi tampak paling mencolok di antara semua santiwati, kulitnya terlihat lebih putih di bandingkan para santriwati yang lainnya. Bukan karna Lexi seorang gadis kota atau glowing karna skin care, melainkan kulit Lexi yang seputih salju, ya bentuk salju murni itu kan bening dan putih ya seperti itu berumpamaannya, di turukan dari sang Mommy. Kahfi sendiri tak jemu menjatuhkan tatapannya beberapa kali pada Lexi.


"Shalat adalah tiang agama. Jika kita beragama islam maka yang harus di kokohkan adalah tiangnya dulu. Singkatnya seperti ini sebelum membuat sebuah bangunan kita juga jarus memastikan tiangnya kokoh agar atap dan bangunan yang kita buat mampu memberi naungan untuk kita. Shalat juga sebagai pembeda antara kita dan orang-orang yang di luar agana islam. Bahkan saat kita matipun hal dan amal yang akan pertama Allah tanyakan adalah Shalat. Sebejad apapun kita sebagai seorang manusia, sejahat apapun kita, seburuk apapun kita dan seberapa besar dosa dan beban yang kita pikul jangan pernah kita meninggalkan Shalat, ibadah paling wajib adalah Shalat jika untuk ibadah lain ada bahasa qodho di lain waktu dan jika tidak mampu melakukannya ada keringanan untuk membayar denda sesuai syariat islam. Maka untuk Shalat itu spesial, Shalatlah kalian dengan cara-cara yang sudah di tentukan, jika kalian tidak mampu, shalatlah kalian dengan duduk, kalian tidak mampu sambil duduk, Allah maha pemurah dan maha penyayang maka shalatlah kalian dengan berbaring, masih tidak mampu juga kalian boleh melakukan shalat dengan isyarat serta kedipan mata. Mengapa sampai segitunya? Karna shalat adalah ibadah utama. Jika kita meninggalkan shalat dengan sengaja runtuhlah agama kita. Nauudzubillah." Kahfi panjang lebar membahas tentang Shalat tapi hanya itu yang di tangkap oleh otak kecil Lexi yang tak seberapa.


Saat sesi pertanyaan di buka, semua santri berlomba-lomba bertanya. Lexi hanya menyimak, tapi hatinya juga bertanya masa teman-temannya tidak mengerti padahal yang di tanyakan para santri wati adalah jalimat yang tadi di sampaikan Kahfi. Apa mungkin temannya berpura-pura tidak mengerti hanya untuk menikmati penjelasan dan Kahfi yang memanjakan penglihatan dan pendengaran.


Lexi ingin bertanya tapi ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri, bukankah malu juga sebagian dari pada iman. Jadi Lexi memilih bertanya nanti saja jika sudah di rumah.


Malang menyerang diri Lexi ia merasa kedapatan tamu bulanan kali ini, dan sepertinya lansung banyak. Sehingga saat teman-temannya meninggalkan kelas Lexi masih setia duduk di kursinya.


"Lexi kau kenapa?" Kahfi yang hendak berlalu menghentikan langkahnya.


"Tidak apa-apa Gus." Lexi meringis juga tersenyum canggung.


"Kau sakit?"


Lexi menggeleng.


"Lalu."


Lexi berdoa semoga Kahfi cepat berlalu dari sana, tapi justru pria itu malah semakin mendekat ke tempatnya duduk.


"Kau melakukan kesalahan?" Tanya Kahfi penuh selidik. Tatapan mata Ghaza seakan menghakimi Lexi.


"Tidak Gus."

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku."


"Katakan."


"Aku berdarah." cicit Lexi pelan.


"Kau terluka?"


"Tidak Gus."


"Lexi jangan membuat teka-teki denganku." Desak Kahfi tak sabar ia tak berniat menebak-nebak apa yang terjadi pada gadis itu.


"Aku datang bulan Gus dan sepertinya darahnya menembus pakaianku." jawab jujur Lexi.


Plas. Tiba-tiba wajah Kahfi terasa panas luar biasa. Memerah menjalari telinga dan lehernya. Sumpah Kahfi menyesal telah bertanya, ia merasa malu sendiri dengan gadis di hadapannya. Salahkan dirinya yang terlalu ikut campur bertanya pada gadis itu.


Kahfi masih merutuki kebodohannya ia juga tak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian mengingat gadis itu juga saudara sepupunya, lalu apa yang harus Kahfi lakukan? tak mungkin bukan jika Kahfi mencopot sarung yang ia kenakan untuk menutupi noda di bokong gadis itu.


Kahfi melirik meja, dan sialnya tak ada taplak meja di sana. Tapi ekor matanya melihat ada bendera di sudut ruangan. Maafkan Kahfi wahai negara kesatuan. Bukan maksud Kahfi untuk muncoret atau merendahkan bendera sebagai lambang perwujudan kemerdekaan, tapi Kahfi tidak memiliki pilihan lain selain mencopot bendera itu dari sebuah tingkat yang menopangnya.


"Pakailah. Aku akan keluar lebih dulu." Kahfi berlaku demikian karna tak ingin membuat malu Lexi.


Lexi menganbil bendera itu denga wajah yang masih menunduk karna menahan malu yang luar biasa.


Lain kali Kahfi tak akan ikut campur lagi urusan orang.

__ADS_1


__ADS_2