
Kayla membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh hangat. Dan ia hidangkan di hadapan suami serta mertuanya.
"Silahkan di minum Bu." Kayla merasa tak enak akan tatapan mertuanya yang seakan mengulitinya, tangan gadis itu bahkan bergetar karna tak nyaman.
"Ada apa Bu, aku tidak meracuni Ibu di minuman itu." ucap Kayla polos.
"Kay, sini." Ghaza menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Abang, Di minum."
Ghaza metaih cangkirnya meniup serta menyeruput sedikit-demi sedikit air dalam cangkir. Bibir Ghaza menipis saat teh yang di buat istrinya terlalu manis Ghaza bisa menebak jika banyak gula yang di campurkan Kayla pada minumannya.
Ayudia juga ikut meminum tehnya, tapi wanita setengah baya itu mengerutkan keningnya dalam saat teh sampai di mulutnya.
"Berapa kilo gula yang kau tuangkan di minumanku?" sarkas Ayudia sinis.
"Istriku hanya tau seleraku saja, dia tidak akan tau selera Ibu atau orang lain." Ghaza membela istrinya.
Kayla tersenyum dalam hati saat suaminya membela dirinya.
"Jika Ibu tidak menyukai minumannya ya tidak usah di minum." Ghaza kembali menyeruput minumannya.
"Ya sudah Kay buat minuman baru." Kayla hendak beranjak.
"Air putih saja." akhinya ibu mertuanya meminta air putih saja untuk minumnya.
__ADS_1
"Biar Abang temani." Ghaza mengekori langkah istrinya.
Setibanya di dapur Ghaza memeluk istrinya dan berbisik. "Kau ingin suamimu terkena diabetes?"
"Apa maksud Abang, katanya menyukai minuman yang Kay buat." Kayla mengerucutkan bibirnya.
"Abang berkata seperti tadi karna tak ingin Kay di permalukan." Ghaza memencet hidung mancung nan mungil istrinya, tidak terlalu kencang tapi berhasil membuatnya memerah.
"Makasih Abang." Cup, Kayla mengecup pipi suaminya sekilas.
Ghaza mengulum senyumnya meskipun hanya dapat kecupan di pipi Ghaza merasa sangat senang.
"Kay ciumnya di sini dong." Ghaza menunjuk bibirnya.
"Ih, Abang banyak maunya masih sukur udah Kay cium pipinya." Kayla menepuk lengan suaminya.
Saking menikmati ciumannya Ghaza sampai memiringkan kepalanya. Ia juga menahan tangan istrinya dengan tangan kanannya agar tidak memberontak dan satu tangan nya meremass satu bukit istrinya yang masih terbalut bajunya. Ghaza di buat lupa diri oleh gadis di depannya.
"Ehemm ..."
Entah sejak kapan Ridwan berada di sana dan memergoki menantunya berbuat tak bermoral kepada putrinya. Ghaza tidak menyadari keberadaan mertuanya dengan masih menikmati bibir manis istrinya.
Kayla tak mempunyai pilihan lain selain menggigit bibir suaminya karna tidak ia hampir kehabisan nafas.
"Ahh."
__ADS_1
Ghaza sedikit menjerit saat bibirnya di gigit istrinya. "Sakit Sayang."
"Ehemm ..."
Ridwan kembali berdehem.
Ya Allah, siapapun tolong tenggelamkan Ghaza di samudra lepas. Ia tertangkap basah oleh ayah mertuanya karna telah melecehkan istrinya.
"A-ayah."
Ghaza mengusap sisa-sisa salivanya di bibir istrinya. Juga bibirnya sendiri menggunakan pungung tangannya.
"Ghaza, apa kamarmu kurang luas? sehingga mencium paksa putriku seperti tadi di dapur."
"Maafkan Ghaza Ayah, Ghaza salah. Ghaza tak bisa menahan diri. Salahkan juga putri Ayah kenapa dia sangat menggoda." Ya itu lah laki-laki tak ingin di salahkan sendiri, ia selalu mempunyai seribu satu alasan.
"Tuh kan, aku sudah bilang jika Abang itu sakit Ayah, tapi Ayah selalu bilang tidak papa." Kayla mengadukan itu pada Ayahnya.
"Kau mengadukan apa sama Ayah?" Ghaza harap-harap cemas takut istrinya mengatakan tindakannya yang mesum akhir-akhir ini.
"Sudah jangan berdebat, Ghaza temui Ibumu." Ridwan menghentikan perdebatan.
"Awas, jangan coba-coba mengadukan apa yang Abang lakukan padamu." Ghaza mengancam dengan berbisik, "jangan sampai kau menjadi mantan perawan malam ini."
"Tidak Bang, Kayla tidak mengadukan apapun sungguh." Kayla menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan mengadu." tekan Ghaza sekali lagi.
Ridwan mengulum semum akan tingkah laku putra angkat sekaligus menantunya.