Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
I'm Hurting


__ADS_3

Kayla berkernyit kening, ia mencoba berpikir. Tapi tidak menemukan jawabannya.


"Ga ada seperti itu. Yang ada syurga seorang istri terletak pada ridho suaminya Abang. Abang mah ganti-ganti hadits sembarangan." Kayla mencebik.


"Ada Kay."


"Surga suami terletak di? Mau tau jawabannya?" tanya Ghaza kembali. Kayla mengangguk polos.


"Tapi kasih Abang hadiah ya!"


"Ya buruan." Kayla semakin di buat penasaran.


"Surga suami terletak di ... Bawah perut istrinya. Bwahahaha ..."


"Abang ..."


"Apa Sayang pengen ya?"


"Abang mesumnya tingkat dewa." kata reader itu juga wkwk.


"Jika murid Abang tau kemesuman Abang bagai mana?"


"Tidak akan ada yang tau selagi Kay menutup mulut."


"Ayo, kita lanjut bersenang-senangnya."


"Abang ..."


.


Hari ini hari senin. Dan Lexi di antara banyaknya hari, hari Ini adalah hari sibuk menurutnya.


"Mas Kahfi mau pakai kemeja warna apa?" meski Lexi yang selalu menyiapkan pakaiannya, Lexi selalu bertanya tentang warna pakaian yan ingin di kenakan suaminya. Ia tak ingin Kahfinya tak nyaman saat ia sendiri yang memilihkannya.


"Warna navy saja."


Berbeda dengan Ghaza, pria itu akan memakai apa saja yang di persiapkan Kayla.


Lexi mengambil pakaian yang di inginkan dengan suaminya.


"Ay, Mas mau tanya sesuatu dan Mas ingin Ayang jawab jujur."


Mengapa berkata demikian? seakan Lexi pernah berkata bohong atau kerap kali berdusta pada suaminya.


"Memangnya kapan aku berbohong padamu Mas?"


"Bukan begitu maksudku! Apa benar kau berhutang pada Zahra?" tanya Kahfi pelan.


"Hutang? Aku rasa tidak."


"Tapi Ayang memesan makanan dan Zahra yang membayarnya apa itu benar?"


Lexi terdiam dan itu cukup mengiyakan pertanyaan suaminya. Tapi sepertinya Kahfi tidak cukup dengan hanya diamnya Lexi yang menunduk.


"Apa benar kau memesan banyak makan dan yang membayarnya adalah Zahra?"


"Jika yang di maksud adalah makanan untuk para santri itu benar Mas." Lexi menunduk.


"Darimana Mas tau?"

__ADS_1


"Dia menghubungiku."


Seketika Lexi mengangkat wajahnya, ia terkejut senekad itu Zahra mengobarkan api perang di antara mereka.


"Apa yang di katakan padamu?"


"Sejauh ini hanya itu. Tapi dia mengajakku bertemu."


"Dan kau mengiyakannya.?" tuding Lexi.


"Ay, aku tidak segila itu untuk menemuinya. Aku sudah mengembalikan uangnya melalui akun paypal. Terserah dia merasa tersonggung atau tidak."


"Bagus. Awas saja jika Kau menemuinya di belakangku."


"Ayang jangan melotot."


Kahfi menyerahkan kemejanya pada Lexi ia meminta di pakaikan.


"Manja bener suami aku."


Kahfi tersenyum lembut ia memperhatikan istrinya yang tengah mengancing ke mejanya.


Mereka melalui hari seperti biasa menyibukan diri di luar pondok.


Lexi di buat pusing dengan makalah-makalah. Berbeda Kahfi dan Ghaza di sibukan dengan proyek-proyek baru yang mereka tangani, sedangkan Kahfa hanya berdiam diri di rumah dengan pekerjaan-pekerjaan yang juga di berikan ayahnya.


.


Lexi pulang bersama Kayla. Istri Ghaza itu kembali melanjutkan pendidikannya semenjak ia mengalami keguguran, tentu saja dengan ijin suaminya. Ghaza tak ingin istrinya merasa kesepian seorang diri di saat ia tengah bekerja.


"Kay makan di rumah ibu yuk!"


"Wah ide bagus."


"Assalamualaikum ... Kami pulang." teriak Lexi dan Kayla bersamaan setelahnya mereka tertawa bersama.


"Ibu. Ibu!"


"Kayla memanggil ibunya."


"Ibu di dapur Nak." Saut Ibu Kimmy dari arah dapur.


Kahfa sudah bersiap untuk makan di meja makannya.


"Mari makan bersama." ajak ibu Kimmy. Sedangkan Kahfi hanya diam tak berkomentar apapun. Kepalanya cukup pusing saat ayahnya menugaskan menghitung profit tahun ini. Belum lagi ada beberapa kantor cabang yang bermasalah sungguh Kahfa tiba-tiba merasa kenyang saat mengingat pekerjaannya.


Mereka duduk dan makan bersama di selingi candaan-candaan ringan keduanya.


Terutama Lexi, gadis itu seperti biasanya tampak bersemangat dengan apapun pembahasan meteka.


"Lexi Pak Azmi meniyipkan ini padaku." Kayla menyerahkan secarik kertas pada sepupunya. Kertas itu berisi sebuah nomor ponsel. Lexi tidak tertarik dama sekali jangankan menerimanya melirik saja tidak.


"Aku tidak tertarik."


"Pak Azmi memintaku untuk mengatakan padamu agar kau segera menghubunginya, katanya ada hal penting yang ingin ia katakan padamu." ujar Kayla kembali, ia mengatakan apapun yang di sampaikan dosennya pada sepupunya.


"Dan kau percaya. Itu hanya speaknya doank Kay." Lexi tetap memakan makanannya.


"Dia tampan loh."

__ADS_1


"Tidak setampan Kahfiku."


"Lalu bagaimana aku mengatakannya pada pak dosen itu?"


"Tersetah kau saja Kay. Kau bisa mengatakan ponselku rusak."


"Aku tidak pandai berbohong Laxi."


"Terserah kau saja."


"Lexi, Kayla. Berhenti berdebat di meja makan. Habiskan makanan kalian." ujar Kahfa.


Kahfa sudah di buat pusing dengan pekerjaan dan sekarang di tambah oleh perdebatan kedua wanita yaitu adik dan adik iparnya.


"Baik Bang."


Ting ... Ting,


Sebuah pesan masuk ke ponsel Lexi lebih tepatnya. Sebuah rekaman dan beberapa foto.


Lexi masih menggenggam gelasnya karna ia belum selesai minum, ia segera meraih ponselnya dan membuka pesan yang di kirimkan padanya. Sebuah vidio dan beberapa poteret kebersamaan suaminya dengan seorang wanita yang selalu menjadi pemicu rasa cemburunya.


Amarah juga kecewa menggulung menjadi satu. Lexi meremas gelas di genggamannya. Entah gelasnya berkualitas jelek atau amarahnya benar-benar memuncak sehingga-


Pyaaarrr ...


Gelas di genggamannya berhamburan menjadi serpihan yang hancur bercereran dengan noda darah.


"Astaghfirullah ... Lexi tanganmu terluka." Kahfa berujar panik, melihat darah yang mengucur dari sela jemari Lexi yang terkepal rapat menggenggam serpihan kaca.


Lexi masih bergeming di tempatnya, matanya terlihat kosong Seakan tak cukup sampai di sana Lexi membanting ponsel di genggamannya dengan sangat keras membentur lantai di bawahnya sehingga ponsel dengan apple tergigit itu hancur tak bersisa.


"Astagfirullah, Lexi ada apa sayang?" Kimmy mendekat dan meraih Lexi yang masih mematung kedalam pelukannya.


Tak ada air mata di sana, yang ada hanya tatapan tak terbaca di mata Lexi.


"Lepaskan Lexi kau menggenggam serpihan kaca," Kahfa mengguncang tangan adik iparnya dan mengendur melepaskan serpihan kacanya.


Darah segar langsung mengucur di telapak tangan Lexi. Sedangkan Kayla di buat mematung dengan situasi yang amat bingung baginya.


"Lexi ada apa?" tanya Kayla lembut.


"Kau tak perlu berbohong pada pak Azmi ponselku memang rusak." Lexi terkekeh tapimatanya mengeluarkan air, kala mengingat kalimat demi kalimat yang di sampaikan pengirim pesan.


Kayla berpikir apa kejadian ini ada kaitannya dengan dirinya, tapi mengapa Lexi terlihat sangat menyedihkan. Secepat itu ekspresinya berubah? Kemana perginya keceriaan yang ia tampilkan tadi.


"Lexi maaf." lirih Kayla.


"Kay, maaf ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku hanya sedang merasa gila."


" Gila Tanpa sebab? Itu tidak mungkin." ujar ibu Kimmy, Kimmy mengenal menantunya tak mungkin Lexi seperti ini. Lexi adalah cofyannya.


Alih-alih bertanya tentang penyebab masalahnya, Kahfa lebih tertarik bertanya keadaan adik iparnya.


"Lexi are you okay?" Tanya Kahfa hati-hati, Kahfa juga berpikir apa Lexi marah karna ia menegurnya agar tidak berdebat di meja makan.


Lexi tengah berperang batin, ia merasa tertipu dengan cara Kahfi yang memperlakukan seolah pria itu mencintainya. Jika kahfi mencintainya tidak mungkin Kahfi menemui Zahra. Apapun alasannya ini tidak di benarkan.


"No.!! I'm hurting." Lexi terisak pelan.

__ADS_1


Lexi menunjukan tangan kanannya yang berlumuran darah.


Sebenarnya hatinya lebih sakit dari luka itu sendiri.


__ADS_2