Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Siapa dirimu?


__ADS_3

Ridwan terus menerus menghubungi nomor ponsel istrinya. Sudah sekitar dua jam lebih Ridwan dan Riza berkeliling mencari mobil yang di kendarai istrinya.


"Ponselnya aktif tapi dia tidak bisa di hubungi Za."


"Mas berhenti menghubungi Kimmy," Riza menghentikan mobilnya. "Sini, berikan ponsel mas Ridwan biar aku melacak keberadaan Kimmy melalui Gps. Karna panik aku hampir saja melewatkan ini."


Setelah bebera beberapa saat Riza mengutak atik ponsel kakaknya akhirnya ia dapat menemukan keberadaan wanita itu.


"Dapat, Kimmy berada di sebuah hotel yang tak terlalu jauh dari sini, hotel Luxury Mas."


.


Tadinya Kimmy hanya akan menyelidiki terlabih dahulu tapi semakin di biarkan Ustadz Jaelani semakin bertingkah, padahal Ustadz Jaelani pergi tadi bukan hanya kedua Santri wanita tapi ia juga ada seorang santri pria juga, Ini gila, apa yang keempat orang itu lakukan di dalam satu kamar hotel kepala Kimmy merasa pening saat memikirkannya.


"Tolong pegang tas ini, di sini sudah terdapat camera" dan dengan di bantu petugas hotel Kimmy membuka pintu degan kunci cadangan.


Saat pintu di buka, Kimmy tersentak, bagai mana bisa dia tidak terkejut menyaksikan pemandangan di hadapannya.


Ada tiga orang yang bertelanjang, dua di antaranya wanita yang Kimmy kenal sebagai santri, dan satu Pria adalah Ustadz Jaelani sendiri. Sedangkan seorang pria muda hanya duduk bersimpuh menyaksikan adegan dewasa ini.


Keadaannya Ustad itu sedang menggagahi salah satu wanita muda, sedangkan tangan pria itu sangat aktif menjelajahi wanita satunya.


"Menjijikan." Kimmy berdesis.


Saat mendengar suara lain dari arah pintu kompak ke empat orang di ruangan itu menoleh kearah pintu, mereka tidak menyadari saat pintu terbuka.


"Kau sudah mendapat rekamannya?" Kimmy bertanya pada petugas hotel.


"Ya Nona."


"Segeralah pergi dan carilah bantuan."


Petugas hotel pria itu pergi tujuannya mencari petugas keamanan tapi ia jutru berjumpa dengan Ridwan, Riza, dan satu rekan kerjanya. Ridwan menanyakan keberadaan istrinya. Tanpa di minta lagi pegawai itu menuntun jalan menuju kamar tempat adegan mesus yang sempat ia rekam tadi.


Ustadz Jaelani segera melepas penyatuannya, karna panik ia belum sempat mengenakan pakaiannya, ia segera mengambil sebilah belati di atas nakas yang selalu ia gunakan untuk mengancam korbannya.


"Ning Kimmy." Santri pria itu memanggil lirih dengan tubuh bergetar, sekujur tubuhnya di penuhi oleh keringat.


Sedangkan kedua santri wati yang tanpa busana itu hanya menangis di atas ranjang yang sama, malu serta perasaan mereka terguncang, bisa saja mentalnya terganggu, sebisa mungkin keduanya meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Itu sebabnya Kimmy segera menyuruh pegawai hotel pria tadi untuk segera pergi ia tidah ingin kedua gadis belia itu malah semakin di permalukan, harusnya Kimmy tidak menyuruh pegawai tadi untuk merekam kejadian dewasa tadi, tapi Kimmy memang memerlukaan itu sebagai bukti nyata.


"Owhh, ternyata ada bidadari yang mampir ke tempat ini. Apa Ning tertarik untuk mencoba di ranjang bersamaku. Aku bisa memuaskanmu sayang." Jaelani seolah kerasukan Jin kurang ajar.

__ADS_1


"Cuih.." Kimmy meludah merasa jijik dengan panggilan Iblis di hadapannya.


Kimmy mencoba melangkah masuk, kemana perginya para polisi kenapa lama sekali, bahkan ia terlambat menyelamatkan kedua gadis itu malah sudah di jamah Iblis itu.


"Kimmy." Ridwan dan Riza menghampiri wanita itu. Ridwan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, apa-apaan ini semua, ia merasa malu karna telah tertipu oleh Ustadz tidak tau diri di hadapannya.


"Wah ternyata ada Gus Ridwan dan Gus Riza juga, sepertinya pertunjukannya sangat mengagumkan, lihatlah betapa kuatnya aku, aku bisa menggagahi dua wanita sekaligus."


Riza melangkah maju.


"Jangan mendekat." Jaelani mengacungkan sebuah belati di tangan panjangnya. Sontak Riza menghentikan langkahnya.


"Kau tau, para Gus yang Gaublok? aku sudah melakukan tindakan mengagumkan ini selama bertahun-tahun, aku sangat kasihan pada para wanita di pondok pesantren yang tidak bisa menikmati indahnya surga dunia, itu sebabnya aku selalu mempunyai alasan untuk mengajak para santri wati untuk keluar, aku selalu memuaskan mereka aku selalu menggagahi mereka dengan perkasa. Hahaha." Jaelani tertawa penuh kemenangan.


"Kau sakit jiwa." Riza sudah mengepalkan kedua tangannya inginrasanya ia memukuli pria tua yang telanjang di hadapannya.


Tanpa tahu malu, Jaelani menarik tangan satu gadis untuk berdiri dan mengecup bibir gadis itu sekilas, belati di tangan pria itu ia tempelkan di leher gadis itu, Jaelani memposisikan tubuhnya di belakang gadis itu guna mengancam semua orang.


"Ya aku gila, dan kalian bodoh, jika saja bukan karna wanita cantik itu aku pastikan semua orang tidak akan menyadari tindakanku. Sayang sekali, kau tau Gus Ridwan tadinya aku menertawakanmu karna kau akan menikahi Ayudia, wanita yang pernah aku cicipi beberapa kali. Tapi saat kau membawa Kimmy ke pesantren kau tahu selama beberapa waktu aku selalu menjadikan istrimu pusat fantasiku. Aku selalu memimpikan bisa menyentuhnya, mencari cara untuk bisa mendekatinya. Tapi Kimmyku terlaru cerdas ia tidak bisa ku dekati sama sekali."


"Dasar iblis keparat, beraninya kau." Ridwan akan melangkahkan kaki sebelum di cegah.


"Shut, diam di tempatmu atau ku gorok leher santimu." Jaelani bahkan meremass kasar dada polos di depannya.


"Tidak ada, aku hanya bersenang-senang."


"Lalu untuk apa kau membawa santri pria juga."


"Sekedar untuk melancarkan aksiku agar tak ada yang mencurigaiku, dan terbukti selama beberapa tahun aku berhasil sebelum Kimmy membongkar semuanya."


"Kau harus di hukum dengan sangat berat Jaelani." Kimmy berucap sangat dingin ekdpresi wajahnya tak beriak sama sekali.


"Ouhh aku tersanjung mendengar suara seksihmu, aku penasaran semerdu apa desa hanmu saat di bawah kuasaku."


"Biadabb." Ridwan mengayunkan kakinya kedepan.


"Ahhh," Gadis dalam rangkulan Jaelani memekik saat belati di tekan Jaelani di lehernya, belati itu menggores sang gadis.


"Berhenti sebelum ku gorok lehernya Hus Ridwan, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."


Kimmy menyelinapkan tangan kanannya kedalam tas yang ia kenakan, sedari tadi ia terus memhitungkan langkahnya, dan secepat cahaya kilat.


DORRR...

__ADS_1


Arghhh...


Peluru melesat menenbus tulang tangan Jaelani, sampai pisau di genggamannya terlepas dan terpental jauh.


Semua orang kaget dan menatap Kimmy yang tengah mengacungkan senjata api.


Wajah Kimmy masih datar, dingin serta tak terbaca, ia melangkah kedepan dengan masih memegang Senjata api.


"Kau telah menghidupkan iblis dalam diriku Jaelani." Etiap katanya penuh penekanan.


"Kau merasa bangga karna telah merusak para gadis, seandainya kau tau berapa nyawa orang sepertimu yang telah ku lenyapkan dengan tanganku, akan aku pastikan kau akan tetap bungkam dan menutup mulut."


Kimmy benar-benar menyeramkan kali ini, Jaelani bahkan bergetar karna takut menghadapi situasi ini.


"Aku ingin tau bagai mana teriakanmu saat menghadapi ajalmu sendiri. Kau lihat," Kimmy menunjuk sudut kamar yang terdapat CCTV, dan Dor ia menembak tepat CCTV itu hingga hancur.


"Jika kau bertanya untuk apa aku menghancurkannya? Tentu untuk menghilangkan bukti kekecaman saatku melenyapkanmu."


Semua orang ketakutan melihat Kimmy yang sangat tenang memainkan pistol di tangannya. Kimmy menginjak tangan Jaelani yang terluka, sampai Jaelani berteriak kesakitan.


Kimmy mengarahkan Pistol itu ke kening Jaelani. "Aku bisa saja meledakan kepalamu sekarang juga."


Jaelani gemetar sungguh ia takut dan benar benar takut saat ujung pistol itu menyentuh keningnya.


"Tolong ampuni aku!"


"Jika polisi tidak datang saat aku menghitung ke bilangan kesepuluh maka bersiaplah malaikat maut akan menjemputmu."


Semua hanya terdiam tanpa menyela, Ridwan menyaksikan istrinya berubah menjadi sangat liar tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. "Siapa sebenarnya dirimu?"


"Satu, dua, tiga,..." Dan pada hitungan ke delapan para anggota penegak hukum tiba disana.


"Segera tangkap dan beri hukuman setimpal untuknya, jika tidak aku sendiri yang akan menghukumnya."


Polisi itu meringkus Jaelani tanpa perlawanan.


Riza masih membuka mulutnya ia takjub dengan tindakan kakak iparnya.


"Kenakan pakaian kalian. Dan pergilah ke rumah sakit lakukanlah Visum. Riza antar mereka berdua, dan untuk kau.." Tunjuk Kimmy pada santri Pria. "Ikut aku dan si Agus ke kantor polosi untuk memberikan keterangan."


"Kimmy, emh maksudku Kakak ipar, apa kau akan di hukum karna menembak Jaelani."


"Siapa yang mau menghukumku?"

__ADS_1


.


__ADS_2