
Pagi-pagi sekali Ghaza sudah mengganti dan mencuci seprai serta selimut yang ia gunakan semalam karna kotor oleh bercak darah. Membuat Ibu serta saudari tiri Ghaza bertanya-tanya kenapa Ghaza mencuci dan menjemur seprai subuh-subuh.
"Kay jalanmu lucu seperti pinguin." Ghaza terkekeh dengan candaannya sendiri, sedangkan Kayla hanya mencebik kesal.
Ghaza tak betah berlama-lama di rumah Ibunya karna sadar akan tatapan saudara tirinya yang tak wajar. Ya Ghaza menyadari ketertarikan Berlian pada dirinya, sehingga sebisa mungkin Ghaza membatasi apapun hal yang menyangkut wanita itu.
Hari-hari Ghaza lewati dengan sangat manis bersama Kayla. Hampir setiap malam Ghaza meminta jatahnya pada istrinya kadang kala juga minta nambah setelah subuh. Ya Ghaza secandu itu pada tubuh istrinya. Setelah malam pertama Ghaza selalu melakukan nya dengan pengaman. Meskipun tidak seenak polosan Ghaza tetap menuruti keinginan istrinya dengan tetap menggunakan pengaman rasa-rasa.
Tiga minggu sudah berlalu dari mereka menginap di rumah Ibu Ayudia.
"Ya Allah, kenapa aku belum datang bulan?" Kayla sudah gemetar ketakutan pikirannya sudah membayangkan jika ia kini tengah mengandung benih dari suaminya.
"Kayla kenapa bengong?" Ghaza meletakan sajadahnya di atas kursi sopa yang di duduki istrinya, ia juga ikut duduk di sebelah Kayla.
"Abang aku telat datang bulan, udah lebih dari sepuluh hari, biasanya aku tidak seperti ini Abang." Kayla sudah menangis. "Abang aku takut."
Deg, bukan hanya Kayla yang khawatir Ghaza juga merasakan hal yang sama. Bagaimana jika Kayla benar-benar hamil?
__ADS_1
"Ayo kita ke bidan Kay, mumpung masih jam empat."
Keduanya pergi ke klinik bidan terdekat yang ada di sana. Dan setelah melakukan berbagai pemeriksaan dan tes Kayla di nyatakan positife hamil.
Dari semenjak di klinik Kayla yidak bersuara, sepertinya Kayla sedang betah dengan kebungkamannya.
Ghaza merasa bersalah, ia juga memaki dirinya sendiri tentang betapa bodoh dan cerobohnya dirinya. Ia pikir benih pertamanya yang ia tabur di rahim kekasih halalnya tidak akan tumbuh karna setelahnya Ghaza belum pernah absen menggunakan pengaman. Tapi ternyata benihnya tumbuh di rahim Kayla.
Sia-sia saja pengorbanannya memakai pengaman jika Kayla tetap hamil, tau begitu Ghaza akan original polosan saat menggagahi istrinya. Sial.
Emosi Kayla belum stabil. Hingga saat memasuki rumah Kayla langsung memasuki kamarnya. Dan mengamuk di sana Kayla membanting semua barang yang ada di kamar, Kayla menangis dan berteriak, tertekan tentu, itu yang Kayla rasakan.
"Kay buka pintunya Sayang kita bisa bicarakan ini baik-baik. Abang minta maaf Sayang." Ghaza berulang kali mengetuk pintu. Dan untung saja Ridwan datang dengan membawa kunci cadangan.
Ridwan dan Kimmy kembali meninggalkan putri dan menantunya, mereka membiarkan Ghaza menyelesaikan masalah keluarganya.
"Kay." panggil Ghaza lembut.
__ADS_1
Ghaza juga ikut menangis melihat istrinya menangis di pojok ruangan dengan memeluk kedua lututnya.
"Abang minta maaf, Abang bersalah." Ghaza memeluk tubuh istrinya yang bergetar karna tangis.
"Abang jahat." ucap Kayla di sela tangisnya.
"Ya, Sayang Abang jahat."
"Abang minta maaf."
"Apa dengan maaf bisa merubah segalanya? Mempunyai anak bukan sekedar hamil dan melahirkan Abang, kita juga harus menjadi orangtua yang baik dan bertanggung jawab, seumur hidup kita menjaga amanah Allah. Dan Kay belum siap Abang, Kay belum siap." Kayla berteriak di hadapan wajah suaminya.
"Stt, jangan berbicara seperti itu. Kita pasti bisa melewati ini semua, bayi kita adalah rejeki Sayang. Abang janji bakalan lakukan apapun untuk Kay asalkan Kay jangan menolak bayi kita ya. Bayi kita amanah Allah Sayang."
"Ini semua gara-gara Abang. Abang bersalah." Kayla memukul Ghaza bertubi-tubi dan Ghaza membiarkan itu sampai Kayla kelelahan dan di peluk erat oleh Ghaza.
"Ya, Kay Abang akui ini memang salah Abang. Hukum Abang. Abang akan menerimanya."
__ADS_1