
Setiap jalan ada rintangannya sendiri ada kesannya sendiri, kita tidak bisa menyamakan setiap perjalanan. Begitu juga dengan rumah tangga, lain orang lain juga cobaan serta liku hidupnya.
Ada yang di coba dengan ekonomi, kesehatan, ada pula dengan kesetian atau hadirnya orang ketiga. Tidak ada yang namanya benar-benar berhasil dalam berumah tangga. Setiap pasangan memiliki sandungannya sendiri, setiap hari orang berumahtangga di umpamakan belajar ya begitulah sekalipun orang beradab atau berilmu sekalipun beresiko menghancurkan komitmen suci pernikahan.
Tak ada yang benar-benar lurus dan rapih dalam rumah tangga.
Ghaza memahami benar hal itu, terlepas dari apa yang menimpanya keluarga kecilnya Ghaza hanya bisa berdo'a semoga ia tak termasuk dalam golongan seorang suami yang lalim serta dzalim terhadap istrinya.
Selama di rumah sakit Ghaza benar-benar tidak meninggalkan istrinya barang sejenakpun. Setiap pekerjaannya Ghaza bawa ke rumah sakit, beruntung atasannya adalah mertuanya sendiri sehingga mertuanya mengerti dan Ghaza tak memerlukan membuat surat cuti untuk di ajukan pada perusahaan. Ghaza juga meninggalkan kewajibannya mengajar, baginya yang terpenting kali ini adalah keadaan istrinya, hanya Kaylalah yang menjadi pusatnya kali ini.
Ghaza mengecupi telapak tangan istrinya masih memejamkan mata, keadaannya sudah membaik, infusnya sudah tidak tetpasang di tangan istrinya. Ghaza bahkan menyalahkan dirinya sendiri, ya menurutnya kejadian ini bermula darinya, kata seandainyapun selalu Ghaza pergunakan dalam setiap ia mengeluh akan kepahitan yang menimpa istrinya.
Kehilangan sosok janin yang berada dalam rahim Kayla cukup memukul telak dirinya. Seandainya saja Ghaza bisa menahan hasrat dan menunda mempunyai anak, hal ini mungkin saja tidak terjadi, Kayla tak akan merasakan tajamnya pisau oprasi. Tapi itu semua telah berlalu, hanya menyisakan sesak dan luka serta rasa bersalah untuk Ghaza.
Sembari menunggu adzan maghrib Ghaza mengambil wudhu dan mulai membuka lembar demi lembar ayat suci al-qur'an, dengan pelan dan merdu Ghaza membaca ayat-ayat itu dengan berlinangan air mata, tatkala surat yang di bacanya mengandung arti tentang pedihnya siksaan api neraka.
Seperi biasa Ghaza selalu merasa lebih baik sesaat atau setelah membaca ayat suci Al-qur'an, lembaran suci itu seakan menjadi penawar di setiap jesakitan yang ia rasakan saat ini.
Saat adzan maghrib berkumandangpun Ghaza tak bisa meninggalkan Kayla sendiri di ruang rawatnya di karnakan ibu mertuanya belum tiba di sana, ia memutuskan untuk melaksanakan shalat maghrib di ruangan istrinya di rawat.
Kayla terbangun tatkala suaminya masih menghadap sang pencipta.
Hati Kayla terasa teriris pilu, beruntungnya ia memiliki Ghaza tapi ia juga merasa tak sebanding dengan Ghaza, ia tidak memiliki keahlian dalam mengurus rumah tangga, begitu dengan ilmu agamanya yang awam tidak ada kelebihan dalam dirinya, satu-satunya yang ia milikinya hanya tubuh dan wajah yang sebentar lagi akan di telan oleh waktu dan akan menua sebentar lagi.
Tubuhnya terasa lengket dan gerah luar biasa, jika di hitung-hitung Kayla sudah empat hari tidak mandi, selama itu Kayla hanya di lap oleh suaminya. Dan kali ini ia ingin mandi, Kayla mengambil ponselnya sembari menunggu suaminya selesai berdzikir, Kayla membuka ponselnya dan mengetikan beberapa kuotes tentang cinta untuk ia sematkan di tulisannya nanti.
"Kay, kau sudah bangun?"
Ghaza mendekat dan mengecup kedua kelopak mata istrinya.
"Bang Kay ingin mandi." Rengek Kayla manja.
"Sebentar, Abang tanya dokter dulu ya?" Ghazapun bergegas keluar untu menemui dokter yang menangani Kayla, dan beruntung dokter memperbolehkannya.
__ADS_1
Dengan sangat hati-hati Ghaza menuntun Kayla menuju kamar mandi, Ghaza mendudukan Kayla di cleset duduk setiap benang yang membungkus tubuh istrinya Ghaza lucuti secara perlahan.
Berkali-kali Ghaza menenggak salivanya dengan susah payah saat tubuh seksih itu terpampang nyata di hadapannya, seandainya saja Kayla tidak dalam keadaan sakit sudah pasti Ghaza akan menerjang tubuh halal istrinya. Ghaza memejamkan matanya berkali-kali menghalau setiap bisikan demi bisikan yang memenuhi telinganya.
Sudah lebih dari dua minggu tak mendapatkan pelepasan karna keadaan yang tidak memungkinkan, tapi hasratnya telah sampai di ubun-ubun, kepalanya berdenyut telinganya berdenging, begitu juga dengan kelelakiannya yang semakin menegang. "Ghaza, sadarlah! Jangan egois kau!" Ghaza memperingati dirinya sendiri meski tidak berpengaruh sama sekali.
Kayla menyadari ada hal yang tak beres dengan suaminya, tatapan yang sepanas bara api itu, berulang kali Ghaza buang ke tempat lain. Tangan Ghaza berusaha senormal mungkin membersihkan dan menyabuni tubuh istrinya.
"Astaghfirullah." berulang kali Ghaza beristighfar untuk menghilangkan fokusnya dari tubuh halal yang boleh ia ia jamah.
"Abang baik-baik saja?" Kayla menyentuh pelan wajah suaminya yang terasa panas.
Sial Ghaza benar-benar di lingkupi gairah luar biasa besar, sentuhan di wajahnya semakin membuatnya kelabakan, bahkan Ghaza sampai memejamkan matanya berulang kali menikmati sentuhannya.
"Abang tidak papa." Ucap Ghaza setelah berhasil menguasai keadaan.
Ghaza melanjutkan menyabuni Kayla, dengan penuh kehati-hatian.
Ghaza tak ingin berbohong tapi ia juga di lema.
"Hmm, tapi tidak papa Abang masih kuat menahannya, jangankan hanya empat puluh hari, selama dua puluh tujuh tahun saja Abang kuat." Alibi Ghaza, tentu saja ia berkata seperti itu sebagai alibinya agar Kayla merasa tidak terbebani.
Kayla mengetahui bagaimana isinya otak seorang pria dewasa, ia cukup belajar banyak hal setelah beberapa bulan menjadi istri dari seorang Ghaza.
Mengeluarkan air maani dengan tangannya sendiri atau bahasa kasarnya manstrubasi tentu tidak di perbolehkan dalam agamanya dan Kayla yakin Ghaza akan lebih memilih menahan hasratnya dari pada melanggar hal itu, untuk itu Kayla menawarkan diri untuk menyenangkan suaminya.
"Abang boleh menggunakan tangan atau bibirku untuk menyenangkan Abang, sungguh Kay ridho untuk itu." Kayla tanpa permisi menyentuh kelelakin Ghaza.
Pria itu membulatkan matanya, ia terkejut akan tindakan Kayla yang terlalu berani menurutnya, menawarkan diri untuk menyenangkannya tentu saja yang waras akan berubah menggila oleh jalimat berupa tawaran wanitanya. Ghaza terus menekankan keinginannya, Kaylanya belum pulih ia tidak bisa melakukan hal aneh pada istrinya.
"Tubuh Kay sudah baik. Juga dengan bekas lukanya sudah mengering." ucap Kayla meyakinkan.
"Nanti saja. Ayo cepat mandi Abang tak ingin kau kedinginan." Ghaza neraih shower, tapi di luar dugaan Kayla malah berlutut di hadapannya, wajah cantiknya mendongak menatapnya.
__ADS_1
"Ini murni keinginsn Kay. Abang jangan merasa terbebani atau merasa bersalah."
Kayla meraih pengait celana Ghaza dan membukanya secara perlahan mengeluarkan isinya yang sejak tadi dalam mode menantang.
"Kay-" Suara Ghaza tercekat, ia di buat tidak berkutik.
"Jangan membuatku tersinggung dengan kata penolakan darimu Bang." Kayla benar-benar nekad. Bibir itu sudah mengecup puncak menara suaminya.
Untuk pertama kalinya tanpa di suruh, tanpa paksaan dari pihak manapun Kayla menyenangkan suaminya sampai puas. Sampai inti sari dari tubuhnya berceceran di atas lantai serta dada polos Kayla.
Berkali-kali Ghaza meneriaki nama Kayla sepanjang permainan, ini gila benar-benar gila Kaylanya bertranformasi menjadi wanita nakal, tapi Ghaza menyukainya.
Pada akhirnya Ghaza ikut mandi dan keramas dengan istrinya.
Kayla dan Ghaza di kejutkan saat keluar dari kamar mandi sudah ada Ayah Ridwan dan ibu Kimmy.
"Wah, Kahfi yang menikah mengapa Ghaza yang bulan madu?" ceplos Kimmy seraya menikmati gestur salah tingkah yang di perlihatkan putri serta menantunya.
"Ibuuuu ..." Panggil Ridwan pelan. "Ibu, seperti tidak pernah muda saja."
"Lihat Gus, rambut Ghaza basah! Kau tak curuga jika putrimu di macem-macemin?" Kimmy tergelak saat putrinya bersembunyi di punggung suaminy yang lebar.
"Sayang sepertinya putri kita tidak polos lagi." ucap Ridwan di sertai kekehan.
Ghaza di buat malu luar biasa, untung saja adzan isya berkumandang sehingga ia lolos dari pembulian kedua mertuanya.
"Abang puaskan?" bisa-bisanya Kayla bertanya demikian. Ingin rasanya ia kembali menyeret Kayla dalam kamar mandi.
"Ya, permainanmu sangat mengagumkan." Bisik Ghaza di telinga istrinya.
"Tadi saja sok nolak. Pada akhirnya menikmati juga." cibir Kayla.
"Terimakasih. Sumpah, tadi enak banget Kay." Ghaza mengulum senyumnya. Mereka tak memperdulikan di sana ada orang tua mereka
__ADS_1