Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Penyebab kematian


__ADS_3

"Lexi, Abang berangkat kerja dulu. Jangan kemanapun! Jika mau keluar pondok tunggulah Abang pulang!" Kahfa memperingati Lexi, ada banyak bahaya di luar sana yang mengintai wanita itu. Ia tak ingin Lexi bepergian tanpa dirinya atau orang tuanya.


Meski badannya masih kurang enak Kahfa tetap akan pergi, ada hal penting yang harus segera ia selesaikan agar hidupnya kembali tenang tidak di bayangi dengan hal-hal lain yang mampu merusak fokusnya. Terutama tentang Lexi dan Zayn.


Hem


Lexi hanya berdehem pelan.


Sampai beberapa saat kepergian Kahfa banyak pesan beruntun yang menanyakan kaberadaannya dari nomor yang sama. Bahkan orang itu sampai menelpon Lexi berulang kali.


Lexi pula tak ingin melanggar apa lagi membantah kalimat suaminya. Namun Lexi luluh dengan bujukan orang di sebrang sana yang mengatakan akan menemuinya di depan pintu gerbang pondok, tentu saja orang itu paham tidak mudah baginya untuk mengambil resiko jika ia harus memasuki pondok itu.


Akhirnya Lexi mau menemui orang itu di depan gerbang pondok setidaknya itu lah bujukan orang itu yang terus merayunya agar tetap mau menemuinya. Suaranya seorang wanita yang mungkin tidak Lexi kenali.


Lexi mengatakan pada Ibu Kimmy jika dirinya ingin mengajak jalan-jalan Zayn di sekitaran pondok. Tanpa curiga ibu Kimmy mengiyakan tapi dirinya tetap berpesan supaya jangan terlalu jauh apa lagi sampai keluar wilayah pondok.


Beberapa santri dan santri wati menyapa Lexi, juga bayi dengan pipi gembil di atas setloler bayinya. Entah ada dorongan dari mana sehingga Lexi menitipkan bayinya dengan para santri wati yang berada tak jauh dari gerbang utama pondok pesantren, tertu saja para gadis muda itu senang dan kegirangan di titipi bayi lucu nan menggemaskan itu.


Lexi sudah berada di gerbang utama. Dan ia melihat seseorang dengan pakaian serba hitam juga dengan sebuah cadar dan kacamata senada, hingga Lexi sama sekali tak mengenali orang itu. Orang itu berada di sebran jalan utama di sana sehingga Lexi harus menyebrang jika ingin menemui orang itu.


Di karnakan Lexi sudah dibuat penasaran, ia tak berpikir panjang lagi sehinggda dengan terburu-buru Lexi menyebrang di jalanan sepi itu. Namun-

__ADS_1


"Lexi ..."


Sebuah teriakan dan dorongan keras mengejutkan Lexi sehingga-


Braakkk ...


Lexi terpental karna dorongan seseorang. Namun nahas orang yang berusaha menyelamatkan Lexi tergolek lemah tak berdaya di tengah jalan dengan darah yang memenuhi kepala hingga ke wajah wanita itu.


Saat Lexi menyadari siapa orang yang menyelamatkannya dari maut, Lexi berteriak kencang, tang ia perdulikan luka di baret di kaki dan tangannya ia segera berjalan sempoyongan menghampiri orang itu.


"Uwaaaa ..."


"Tolooong!"


"Tolooong!"


Dalam hitungan dua menit semua orang berkumpul di sana dan langsung melarikan Uwa Risma ke rumah sakit.


Di dalam mobil Lexi dan Ibu Kimmy tak henti-hentinya menangis. Jika Kimmy menangisi Kakak iparnya yang sangat baik padanya sedari dulu, lain halnya dengan Lexi, gadis itu merasa sangat bersalah karna menjadi penyebab uwanya mengalami kecelakaan.


Kimmy segera menghubungi suami dan anak-anaknya untuk segera menyusul ke rumah sakit.

__ADS_1


Namun sangat di sayangkan ketika takdhir harus lebih cepat dari perkiraan manusia, sebelum uwa Risma dapat pertolongan dari pihak medis Risma harus kembali pada pangkuan sang pencipta dengan cara ini.


Ayah Ridwan dan Kahfa yang tiba di rumah sakit. Langsung menanyai Lexi perihal kejadiannya, tanpa Lexi tutup-tutupi Lexi mengutarakan semua yang terjadi, mulai dari nomor yang tidak di kenal yang terus menghubunginya. Juga detik-detik kejadian maut itu.


"Tidak bisakah kau menurut padaku sedikit saja!" Kahfa membentak Lexi di sela isak tangis kehilangannya.


"Maaf ..." Cicit Lexi.


Mereka tengah berada di ruang jenazah, dengan Ridwan dan Lexi yang masih terpukul atas meninggalnya Risma.


"Apa dengan maaf kau mampu mengembalikan Uwaku?" Kahfa tak lagi memerdulikan siapa Lexi kali ini, kesabarannya benar-benar habis karna kekeras kepalaan wanita itu.


Lexi diam di tempatnya dengan linangan air mata yang membanjiri wajahnya. Kahfa terlihat sangat kecewa pada istrinya itu.


"Harus berapa nyawa lagi yang hendak kau layangkan karna kekeras kepalaanmu?" Kahfa bertanya sekaligus menghardik Lexi, tanpa sepatah katapun Lexi masih bungkam.


Lexi tak percaya Kahfa begitu menyalahkannya atas kepergian uwa Risma untuk selama-lamanya, dan tidak hanya itu sepertinya Kahfa juga menyalahkan Lexi atas kepergian Kahfi dan kedua orang tuanya.


"Tak cukupkah kau menjadi penyebab kematian adik serta om dan tanteku!" Kahfa kembali berteriak membuat Lexi memejamkan matanya dengan rasa sesak.


Beginikah rasanya di salahkan?

__ADS_1


__ADS_2