
Pagi-pagi Kahfa sudah bangun, tapi ada yang aneh dengan ke adaan rumahnya. Biasanya rumah selalu ramai saat pagi entah itu ibunya atau ayahnya yang menimang Zayn. Tapi kali ini rumah itu tampak sepi, sehingga Kahfa bertanya pada pekerja di rumahnya.
"Bibi, kemana Ayah dan Ibu pergi?" Kahfa masih enggan bertanya soal Lexi, gadis itu hanya minta maaf kemudian akan mengulangi kesalahannya tak tau kah selama ini ia dan ayahnya bekerja keras melindungi dirinya.
"Nyonya tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada seminar. Sedangkan Tuan tadi ada yang menelpon dan langsung pergi setelah menerima panggilan dari seseorang." ujar Bi Huja pekerja di rumahnya.
"Ohh ..."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Kahfa, ia hendak pamit untuk bekerja sekaligus mengunjungi seseorang yang sejak beberapa waktu lalu di tawan oleh ayah dan dirinya. Memancing agar pelaku sebenarnya muncul kepermukaan.
Saat tiba di tempat penyekapan Kahfa mendapati Ayah dan anak buahnya tengah meminta keterangan dari gadis bernama Greendia itu.
"Katakan di mana ibumu berada?" Ridwan membentak gadis itu dengan suara yang menggelegar.
"Saya tidak tau Pak sungguh." Gadis itu menggeleng dengan ketakutan yang sejak beberapa waktu selalu melingkupinya. Greendia tak menyangka jika secepat ini Ustadz Ridwan akan mengetahui identitasnya, sebagai anak di luar nikah dari Sami yang merupakan kakak ipar dari Ridwan.
Ibunya menyuruh Greendia untuk memasuki pesantren berharap agar Lexi mau menjadi temannya dan membawa Lexi keluar dari pondok itu. Sehingga Greendia dan ibunya bebas melakukan apapun pada Lexi. Sayang sekali pergerakannya di hentikan oleh kecerdasan Kahfa.
Tapi di samping semua itu Greendia sangat menyukai Kahfa yang notabenenya Kahfa adalah sepupunya sendiri, sehingga gadis itu menurut saja saat ibunya menugaskannya berada di dalam pondok untuk menjadi mata-mata.
"Ibumu terlalu jauh bertindak Greendia. Bahkan ia melenyapkan putra dan kakakku yang tidak bersalah."
Bibir Green bergetar ia menyadari jika ibunya berada dalam hal yang salah, tapi mengingat bagai mana penderitaan ibunya Green dia membenarkan tindakan balas dendam ibunya.
Ibunya harus hidup dengan luka bakar di wajahnya yang di sebabkan oleh seseorang yang tidak di kenal karna telah memiliki anak dari Sami, ya orang itu dengan sengaja menyiramkan air keras di wajah ayu ibunya. Bahkan setelah ibunya menjadi kaya raya, ibunya enggan mengoprasi wajahnya, karna menurutnya itu adalah bukti penderitaannya semasa hidupnya.
"Kalian tak mengerti penderitaan aku dan ibuku. Aku juga keponakanmu Om Ridwan, tapi mengapa kalian hanya menyayangi dan mindungi Lexi. Apa karna aku adalah anak haram?" Green berteriak di hadapan Omnya.
"Jangan membentak Ayahku sialan." Kahfa menendang kursi yang di duduki Greendia.
Greendia menatap sepupunya dengan pandangan yang tak terbaca.
Tak mendapat petunjuk apapun, akhirnya Kahfa dan Ayah Ridwan pergi dari tempat penyekapan Greendia.
.
Malam harinya Baik ibu Kimmy, Ayah Ridwan dan juga Kahfa tiba di rumah nyaris bersamaan. Kimmy yang seharian tidak bertemu cucunya sangat merindukan bayi menggemaskan itu.
Saat membuka pintu utama Kimmy mengerutkan kening karna rumah dalam keadaan sepi, biasanya Zayn selalu menyambutnya saat ia pulang dari luar.
Ah, apa Zayn sudah tidur. Tapi ini masih terlalu dini untuk bayi itu tidur bahkan baru setengah tujuh malam.
__ADS_1
"Gus, Zayn kemana ko sepi sih." Kimmy menenteng mainannya, yang entah kapan akan di mainkan oleh cucunya, mengingat cucunya baru berumur beberapa bulan sedangkan mainan yang di bawanya sebuah pesawat terbang menggunakan remote.
"Mungkin sudah tidur Sayang."
"Ini masih sore loh."
"Ya namanya bayi, ya ga tentu jam tidurnya." Ridwan memilih berjalan lebih dulu dan terduduk di atas sofa menyusul Kahfa.
"Ibu akan menemui Zayn. Ibu akan menunjukan mainan ini padanya." Dengan antusias Kimmy menaiki anak tangga dengan senyuman tak luntur sedari tadi.
"Ya, Bu, bawa turun Zayn. Jika sudah tidur culik saja aku juga merindukannya." Ridwan menimpali.
Kahfa tersenyum ia juga berharap Ibunya dapat membawa putranya turun ia juga merindukan bayi itu. Meskipun kesalnya terhadap Lexi belum mereda.
Beberapa saat berlalu.
"Ayah, Zayn dan Lexi tak ada di kamarnya." Teriak Ibu Kimmy dari tralis tangga lantai dua rumahnya.
Astagha Kahfa sampai lupa semalamkan Kahfa menyuruh Lexi pergi membawa bayinya ke kamar Kahfi.
"Di kamar Kahfi Bu." Kahfa balik berteriak dari arah bawah.
Sejenak hening, mungkin Ibu Kimmy tengah mengecek kamar Kahfi.
"Mungkin di rumah Kayla Bu. Sebentar biar Ayah telepon Kayla." Ridwan merogoh ponselnya yang sedari tadi ia kantongi dan di saat panggilan terhubung Kayla mengatakan jika dirinya belum sampai kerumah, dirinya masih di perjalanan pulang sehabis mengunjungi mertuanya.
Kimmy memanggil beberapa pegawai di rumahnya untuk menanyai keberadaan cucu serta menantunya.
Tapi tidak satupun dari mereka yang melihat keberadaan Lexi dan Zayn sedari pagi.
Ridwan kembali meraih ponselnya mencoba menghubungi nomor Lexi berulang kali. Tapi tidak satupun panggilannya di terima.
Kimmy sudah menangis ia takut terjadi sesuatu pada menantu dan cucunya.
Kahfa hanya diam layaknya patung, ia mengingat tangisan Zayn semalam.
"Kahfa apa tadi saat kau berangkat Lexi dan Zayn baik-baik saja?" Kimmy bertanya tak sabar pada putranya.
Kahfa menggeleng pelan. "Kahfa tak tau Bu."
"Bagaimana kau bisa tidak tau, bukankah kalian tidur di kamar yang sama?" Ibu Kimmy mendekat memarahi putra sulungnya.
__ADS_1
Ibu Kimmy dan Ayah Ridwan mencari Lexi keluar rumah, barang kali Lexi tengah ikut mengaji di kelas atau di mesjid.
Kahfa beranjak dan menuju lantai dua rumahnya.
"Lexi ..."
"Lexi ..."
Kahfa mencari keberadaan Lexi di kamar almarhum adiknya. Tidak terdapat seseorang di sana. Hanya ada Pigora kosong di atas ranjang itu. Pigora yang ia ketahui berisikan poto adiknya.
Kahfa berlalu menuju kamarnya, membuka lemari Lexi dan Zayn. Semua baju masih tersusun rapi, itu artinya Lexi tidak pergi kan? Atau pergi tanpa membawa barang.
Di kamar Kahfa masih utuh, lalu ia kembali berlari kekamar Kahfi untuk memastikan sesuatu. Dan Kahfa sangat terkejut saat ia membuka lemari, menyadati brankas adiknya tak terkunci. Itu cukup menjadi jawaban jika Lexi dan Zayn benar-benar pergi dari rumah itu.
Matanya kembali tersita akan pigora kosong di atas ranjang. "Bahkan sampai akhirpun kau masih menjadi pemenangnya Kahfi. maafkan aku." Kahfa menyesali sikafnya.
Bayangan semalam terlintas begitu saja di kepalanya. Tentang Zayn yang menangis juga dengan Lexi yang mengatakan akan pergi agar dirinya tenang nyatanya dirinya bukan tenang melainkan lebih gelisah karna Lexi dan Zayn pergi dari rumah.
Kapan Lexi pergi? Sungguh Kahfa tak tau. Ia menyesal karna menyuruh Lexi pergi dari kamarnya faktanya wanita itu pergi dari rumahnya juga.
"Kahfa. Lexi pergi semalam pukul sebelas, Ibu sudah melihat dari rekaman Cctv yang ada di pos keamanan." Kimmy menghampiri Kahfa yang duduk di ranjang Kahfi.
"Maafkan Kahfa Bu, Kahfa menyuruh Lexi untuk keluar dari kamar Kahfa dan untuk sementara waktu Kahfa meminta Lexi untuk tinggal di kamar Kahfi, Kahfa perlu menenangkan diri. Kahfa tidak tau Lexi malah pergi dari rumah." Kahfa menggosok wajahnya dengan air mata yang membanjir.
"Kau puas Kahfa. Kau tenang sudah mengusir cucu dan putriku!" Ibu Kimmy menangis dan meronta, bahkan pelukan Ayah Ridwan tak cukup menenangkannya.
"Lexiku benar-benar malang. Ayah dia harus berkali-kali jatuh dengan kesakitan yang berbeda, bagai mana keadaannya di luar sana. Di luar sangat berbahaya untuknya dan Zayn." Kimmy terus meraung di pelukan suaminya.
"Kau benar-benar egois Kahfa! Aku menyesal telah menyetujuimu menikahi Lexi. Seandainya saja Lexi tak menikah denganmu, Lexi dan Zayn tak akan pergi jauh dariku. Harusnya kau mengerti jika kepergian Uwamu adalah takdhir Allah, kau tak mesti harus menyalahkan Lexi."
"Aku hanya berniat memberinya sedikit pelajaran Ibu." Kahfa membela diri.
"Ya dan pelajarannya aku kehilangan putri dan cucuku sekaligus."
"Kau ingin agar Uwamu tak menyelamatkan Lexi, dan ingin Lexi yang celaka begitu?" Lexi terus menggebu-gebu memarahi putra sulungnya.
"Maaf Bu, Ampuni Kahfa! Kahfa bersalah."
Ridwan hanya diam ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Lexi dan cucunya juga melacak plat nomor taksi yang mengantar Lexi semalam.
Ibu Kimmy di bawa keluar dari kamar itu oleh suaminya.
__ADS_1
Kahfa sendiri masih menangisi kepergian Lexi dan Zayn yang tanpa kata apa lagi berpamitan.
Kahfa menyesal sudah keterlaluan bersikaf pada wanita itu.