
Kahfi tidak bisa lebih lama berada di tempat yang menurutnya asing baginya, tapi ia juga tak bisa melakukan apapun dan pada akhirnya ia menceritakan tentang bagai mana dirinya dan apa yang akan di lakukannya dua hari lagi. Kahfi juga mengungkapkan jika ia berada di tempat terpencil menurutnya.
"Nak, Kahfi sebenarnya tempat ini tidak seterpencil itu. Hanya saja terlalu tertinggal dalam hal teknologi." ujar Pak Ahmad.
"Jika Nak Kahfi ingin pulang tidak papa, hanya saja kendaraan dari desa ini ke kota sangat langka. Tapi jika Kahfi mau, bapak bisa menitipkan Kahfi pada juragan Bapak yang akan pergi kekota untuk mengantarkan kambing-kambing kepada Bos besar yang ada di kota. Tapi juragan Saleh selalu membawa keluarganya jika kekota, jika Kahfi kekeh ingin pulang segera mungkin Kahfi akan nenumpang bersama kambing-kambingnya." ujar Pak Ahmad, pria tua itu sedikit tak tega menerangkannya.
Kahfi langsung berbinar, ia tak perduli jika harus berdesak-desakan dengan kambing sekalipun, yang ia rindukan adalah keluarganya juga calon istrinya yang aneh.
"Tidak papa pak, saya tidak papa, saya bersedia pulang dengan kambing." Kahfi sangat bersemangat sekali menjawab yang ada di pelukuk matanya hanya bayangan Lexi segila itu rasanya pada sepupunya sendiri.
"Ya sudah bersiaplah, selepas isya juragan Saleh berangkat."
Kahfi bergegas dengan jalan terpincang-pincang. "Lexiku aku datang padamu." gunam Kahfi.
Sesuai rencana, Kahfi akhirnya berdiri di antara belasan kambing di mobil bak terbuka itu. Udara dinginnya malam langsung membelai kulit Kahfi, berdoa saja semoga malam ini tidak turun hujan agar ia tidak semakin kedinginan.
Kahfi tidak bisa memberikan apapun pada pria tua sakit-sakitan itu selain ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya.
Beruntung pak Ahmad adalang orang yang sangat baik, beliou iklas membantu Kahfi tanpa pamrih. Kahfi hanya bisa berdoa semoga Allah selalu melindungi pahlawan yang menolongnya dengan iklas, Kahfi berencana akan memberi hadih berupa keberangkatan jemaah haji pada pria tua itu sebagai rasa syukur yang ia berikan.
Sebelum berangkat Pak Ahmad juga memberikan uang recehan padanya entah berapa jumlahnya, Kahfi tak berniat menghitungnya yang pasti, air matanya tak terbendung karna kebaikan pria tua itu.
"Hati-hati Kahfi. Sampaikan salam Bapak pada keluargamu." Pak Ahmad memeluk tubuh kekar yang selama lima hari ini berada di gubuknya.
Di tengah perjalanan Kahfi kedinginan, jaket kumal serta sarung yang di berikan Pak Ahmad tak membantu sama sekali. Lelah berdiri Kahfi berjongkok dan duduk di atas jengkok kayu yang pak Ahmad berikan jiga padanya.
Bau kambing, serta Air seni dan tinja dari binatang halal berkaki empat itu sangat menyengat, seakan mengoyak paksa indra penciuman Kahfi. Pria tampan dengan luka di wajah kaki serta tangannya berusaha menahan mulutnya agar tidak muntah, tapi sia-sia saja ia tetap memuntahkan seluruh isi perutnya.
__ADS_1
Kahfi menyender lemas dengan aroma tubuh yang persis seperti kambing, setelah empat jam perjalanan ia tersemun di bibir pucatnya saat melihat pasar yang ia kenali. Ya ia sudah sampai di pasar dekat pondok.
Setelah kahfi mengucapkan terimakasih kepada juragan Saleh, ia bergegas mencari tukang ojek untuk mengantarkan ia ke pondok pesantren, dengan uang yang ia miliki ia tersenyum sepanjang perjalanannya pulang.
Senyumnya terus terbit saat ia memasuki gerbang pesantren. Kahfi melarang agar satpam mengabarkan hal ini, ia akan memberi kejutan untuk Ayah ibunya serta calon istrinya.
Senyuman Kahfi menyurut saat dari jarak yang lumayan dekat ia melihat Kahfa yang berada di kursi roda tengah di dorong Lexi calon istrinya. Menuju mesjid pondok, padahal malam masih hening, ini baru sekitar pukul dua malam.
Berbagai perasangka melintas di benaknya. Apakah Kahfa sudah menggantikan posisinya untuk menjadi Lexi, atau Lexi yang menggantikan Aisyah karna wanita itu membatalkan pernikaha. Jika salah satu tebakannya benar maka untuk apa ia kembali.
Butiran-butiran bening lolos dari matanya, Kahfa berbalik dan menyeret kaki pincangnya untuk menjauh. "Sepertinya aku tak perlu hadir di antara mereka." gunamnya pilu.
"Kahfiku." Lexi melihat punggung Kahfi, meskipun ia tidak melihat wajah itu tapi ia mengenal tubuh itu meskipun dengan penampilan paling buruk sekalipun.
Lexi melepaskan kursi roda Kahfa sehingga Kahfa terheran-heran melihat Lexi berlari di tengah kesunyian malam, entah apa yang akan di lakukan Lexi kali ini.
Bukkk
"Kau pulang? Aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu." Lexi membelit erat pinggang Kahfi dengan menduselkan srluruh wajahnya mencari kenyamanan.
"Lexi." ucap Kahfi parau, ia tak lantas membalas pelukan yang di berikan Lexi padanya jarna takut tindakannya menyakiti Kahfa, yang kemungkinan sudah menjadi suami dari gadisnya, ya Kahfi memang seperasa itu.
"Kau kemana saja, sialan. Aku menunggumu aku nyaris kehilangan kewarasan karna kau tak pulang." Lexi memukuli dada Kahfi saat ia berhasil membalik tubuh kacau Kahfi.
Lexi kembali membenamkan pelukan di tubuh yang tampak berantakan tak terurus itu. Kembali ia menduselkan wajahnya kali ini di dada bidang Kahfi.
Kahfi masih mematung dengan ekor mata yang melirik ke arah Kahfa yang hanya bergeming dan membuang pandangan.
__ADS_1
"Katakan sesuatu!" Lexi menangkup kedua pipi Kahfi dan memaksa Pria itu untuk menatapnya.
"Aku mencintaimu." Lexi berulang kali mengatakan itu sedangkan Kahfi hanya diam.
"Katakan jika kau juga mencintaiku Kahfi, jangan mempermalukan aku." ucap Lexi sudah ada beberapa orang di sana menyaksikan drama keduanya.
Sejenak Kahfi menghela nafas, "Aku tak bisa mencintai istri orang lain." Pada akhirnya kalimat itu yang lolos dari bibirnya.
"Istri siapa maksudmu? Brensekk." Lexi terlihat sangat marah dengan tuduhan Kahfi. Selancang itu Lexi pada pewaris Omar.
"Abang, kau pasti sudah menikah dengan Abang Kahfa kan? Setidaknya itu yang pernah ku baca di novel karangan Kayla." ujah Kahfi lagi.
"Aku tidak menikah dengan siapapun sialan."
"Benarkah?" Kahfi mencoba menelisik manik Lexi mencari kebohongan yang tidak ia temukan di manik indahnya.
Lexi membenarkan dengan mengangguk beberapa kali.
Tanpa kata Kata lagi, kali ini Kahfi yang memeluk tubuh terbalut gamis itu, tak ia pikirkan bagai mana gadis itu akan ikut terkotori olehnya.
Kahfi juga menghujani wajah dan kepala Lexi dengan banyak ciuman.
"Terimakasih sudah menungguku. Terimakasih."
Semua orang tak ada yang berani menghentikan momen bersejarah ini, yang di mana Kahfi kehilangan kendali atas dirinya sendiri, ia bahkan melupakan setatus di antara dirinya dan Lexi.
"Kahfi, hentikan. Jangan terlalu banyak berbuat dosa, Lexi belum sah menjadi mahramu." Kahfa membuyarkan momen memalukan menurutnya, adiknya begitu bucin pada gadis aneh versinya.
__ADS_1
"Kau juga sangat kotor dan bau." cibir Kahfa kembali.
.