
Sebisa mungkin Ghaza menenangkan Kayla dengan pelukannyannya.
"Abang janji, Abang akan nurutin semua maunya Kay. Demi dedek bayi. Kay harus sayang juga ya sama dedek bayi." Ghaza berujar penuh kelembutan.
"Abang sayang sama bayi ini.?"
"Tentu Sayang."
"Sayang sama dedek bayinya apa sayang sama Kay?"
"Dua duanya Abang sayang."
"Ga, bisa abang harus pilih salah satu. Lebih sayang sama Kay atau dedek bayi?" Kayla tetap maksa Ghaza memilih.
"Pasti lebih sayang Kay lah. Jika tidak sayang lebih dulu sama Kay mana mungkin Abang berani bikin dedek bayi. Lagi pula dengan adanya dedek bayi gak akan merubah apapun tentang perasaan Abang sama Kay." Ghaza paham betul petasaan Kay kali ini wanita belia itu pecemburu, ia ketakutan dengan kehadiran anaknya posisinya sebagai ratu akan tergeser di hati suaminya. Memang terdengar kekanakan tapi Kayla tetap ingin pernyataan dan pengakuan itu dari Ghaza.
"Awas saja jika Abang lebih mencintai bayi Abang di banding Kay. Kay tak ingin lagi di ajak membuat bayi oleh Abang." Kayla mengancam suaminya dengan ekspresi menggemaskan, Ghaza menatap tak percaya istrinya yang di banjiri kasih sayang dari setiap orang mengkhawatirkan cinta suaminya terbagi merskipun dengan bayinya sendiri.
__ADS_1
"Lah, kok gitu?"
"Ya lah, jika Abang bagi-bagi cinta Abang yang tak seberapa, lalu Kay dapat apa?"
"Astaghfirullah bukan gitu konsepnya Kay, cinta seorang suami kepada istrinya dan cinta seorang ayah pada anaknya jelas berbeda tidak dapat di sama ratakan Sayang. Ada tumpahan kasih sayang tersendiri untuk seorang istri tentusaja dengan tumpahan hal lain misalnya ..." Ghaza menjeda ucapannya dan memainkan mayanya genit.
"Ih, semenjak menikah Anang berubah jadi mesyum." Kayla memukul tangan suaminya.
"Mesyum pada istri di halalkan Kay."
"Ayo Kay sambil nunggu maghrib Abang mau nengok dedek bayi." Ghaza mencoba peruntungannya, namun naas dia harus menelan kekecewaan saat istrinya memilih untuk mandi.
.
Kayla keluar kamar mandi kembali, ia ingin menanyakan sesuatu tentang apa umyang di sarankan Bidan padanya, tadinya ia ingin bertanya pada Bidan itu tadi, tapi karna ia keburu emosi akhirnya pertanyaannya ikut tertelan dan baru sekarang muncul kembali.
"Abang maksud Ibu bidan mengeluarkan diluar agar dedenya tetap sehat itu bagai mana dan apa yang harus di kelarkarkan?" Kayla bertanya polos tanpa sedikitpun curiga sama sekali.
__ADS_1
Ghaza sudah tersenyum senang inilah cara Allah untuk selalu menghiburnya.
"Sini sayang biar Abang jelaskan."
Ghaza tidak lupa membaca doa khusus berjima.
"Kok, abang malah baca doa itu sih?"
"Kay, Abang sudah tidak tahan."
"Apaan sih, Abang kebiasaan, delalu bilang tidak tahan."
"Ya Sayang karna Kay memang selalu membuat Abang seperti itu." Ghaza sudah memeluk dan menghujani istrinya dengan banyak ciuman.
Ghaza membawa istrinya ke atas ranjang dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya dan mempraktakannya.
"Ini loh, Kay yang harus di keluarkan diluar." Ghaza mengelap cairan kental di atas perut istrinya dengan tissue. "Selama Kay dalam keadaan hamil muda air cinta ini lebih baik di keluarkan di luar. Agar janinnya tetap sehat. Karna pada air ini mengandung induksi alami yang bisa menjadi pemicu terjadinya kontraksi pada ibu hamil, jadi sebaiknya air ini di buang."
__ADS_1
Kayla mengerucutkan bibirnya kesal. "Harusnya abang bilang saja, Kay juga pasti ngerti tidak idah cape-cape praktek."
"Tadi juga bu Bidan sudah bilang Kay tetap ga ngerti makanya, abang baik hati sekaligus praktek agar Kay jadi pintar." Ghaza tersenyum puas dengan kecerdasannya.