
"Seorang wanita mengajakmu bertemu dan aku tak suka." Lexi melipat tangan di perut.
"Siapa?"
"Zahra."
Deggg.
Bukan Kahfi terkejut karna Zahra kembali, melainkan ketenangan Lexi yang mengusiknya. Dibalik ketenangan seorang wanita siapa yang dapat menyelami isi hatinya yang rumit.
Kahfi mematung mencoba membaca mimik wajah Lexi yang hanya menatap lurus objek di hadapannya.
"Lexi." Panggil Kahfi pelan.
Ia mendekat dan menyentuh tangan wanitanya sampai Lexi terjengkit kaget, rupanya sedari tadi Lexi merenung atau melamun mungkin.
"Kau kenapa?"
"Apa kau marah karna aku menghapus emailmu?" tanya Lexi hati-hati. Jujur saja ia bingung jika sampai suaminya marah.
Kahfi menggeleng pelan. "Tidak itu hakmu."
"Mas, kita menikah tidak melalui sesi pacaran terlebih dahulu. Aku khawatir saat Zahra memintamu untuk bertemu kau melakukannya. Bayanganku saat Zahra memintamu melanjutkan kisah kalian yang belum usai kau akan melakukannya. Lalu bagai mana dengan aku yang terlanjur mencintaimu? Aku tak bisa mengalah sekalipun untuk wanita yang kau cintai." Lexi menyampaikan kekhawatirannya, terserah jika Kahfi akan menganggapnya terlalu mendalami peran.
"Kita menikah tanpa paksaan dari siapapun. bagai mana mungkin kau berpikir aku akan kembali padanya Ay?" Kahfi menatap mata Lexi yang siap tumpah.
"Aku sudah menemui wanita itu! Dan dia dengan terang-terangan memintaku untuk meninggalkanmu. Katakan apa aku salah jika menutupi ini? Aku hanya seorang wanita bodoh yang berusaha menjaga rumah tanggaku dari masa lalu suaminya yang tidak pernah di selesaikan."
"Tak ada yang perlu di selesaikan, aku dan dia tidak pernah memulai apapun Lexi, harus berapa kali aku mengatakannya." Meski sedang marah Kahfi tetap berbicara dengan nada rendah, sebisa mungkin ia menekan egonya yang kerap kali muncul ke permukaan.
"Kapan kau menemuinya?"
Lexi mengatakan kapan ia menemui Zahra dan apa saja yang mereka perbincangkan.
"Terus terang saja kepercayaan diriku menurun saat bertemu dengannya dia tinggi, berpendidikan, mandiri, kariernya oke. Juga dewasa dan anggunly. Sedangkan aku." Lexi menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa di banggakan dari gadis bodoh macam bunglon sepertiku." Lexi menunduk, bisa-bisanya sebutan Kahfa ia sematkan dalam perbincangan mereka.
"Kau tidak perlu menjadi apapun hanya untuk memantaskan diri menjadi pendampingku. Aku menyukai dirimu apa adanya, apa lagi saat kau bergerak liar di atas tubuhku." Kahfi tidak berdusta tentang ini. Cukup Lexi menjadi pendamping hidupnya dan memuaskan bathinnya saja, sisanya Kahfi tidak perduli. Mengenai pendidikan Kahfi tidak pernah memandang orang lain dari gelarnya. Ia merasa sangat cukup dengan Lexi menjadi istrinya.
"Bisa-bisanya Mas berpikir begitu. Di saat pembahasan kita serius." Lexi menyikut perut suaminya yang tengah memeluknya.
"Mas dia masih menginginkanmu."
"Biarkan saja, yang aku inginkan hanya kau saja."
"Dia semakin cantik."
"Cantikan istri Mas."
"Zahra menjadi dosen di kampusku. Meski tak mengajar di kelasku aku muak melihatnya."
"Ya ga usah di lihat Ay."
"Dia selalu menyapaku lebih dulu."
"Mas ..."
"Hem."
"Bagai mana jika dia menemuimu dan menerima lamaran darimu?"
"Ay, apapun yang akan dia katakan tak akan merubah apapun. Aku sudah di miliki olehmu. Mau sebesar apa perasaanku padanya di masa lalu aku tak tertarik intuk mengulang kisah itu. Jadi berhenti berbicara omong kosong terhadapku." nada suara Kahfi sedikit naik. Ia sebenarnya kebingungan menjelaskan posisinya pada Lexi, gadis itu tak mengerti-mengerti.
Lexi diam tak berbicara lagi. Ia lupa Kahfi ini bukan Ghaza yang akan berkali-kali mengungkapkan cintanya pada pasangannya. Selembut-lembutnya Kahfi, pria itu memiliki ketegasan akan apapun yang ia katakan. Aroma kepemimpinannya menguar kuat pada diri Kahfi.
"Maaf aku terlalu emosional." ia memeluk istrinya kembali. Satu hal yang Lexi ketahui. Kahfi tidak ingin di bantah saat ia memutuskan sesuatu.
"Ya sudah kita tidak perlu membahas si medusa itu." Lexi lebih memilih mengalah di bandingkan ia kembali memicu perdebatan.
"Ya sudah, lebih baik kau melanjutkan hapalanmu." Kahfi mencium surai hitam istrinya.
__ADS_1
Tak mudah untuk Kahfi menumbuhkan rasa tertariknya terhadap Lexi menjadi jutaan Cinta yang kerap kali Ghaza perlihatkan pada adiknya.
Kahfi menyukai dan menyayangi Lexi. Tapi tahap mencintainya tak sedalam Ghaza, wajar saja Ghaza melakukan hal demikian mengingat adiknya satu-satunya wanita yang membuat Ghaza tertarik, cinta pertama yang berhasil Ghaza miliki dengan ikrar suci pernikahan.
Sedangkan Kahfi, Kahfi hanya menerima takdir dan rasa yang sebenarnya belum sepenuhnya hilang dari bayang-bayang masa lalu. Meski begitu Kahfi tetus mengupayakan diri dan hatinya untuk terpacu terhadap satu wanita ya itu Lexi istrinya.
Bahkan Kahfi pernah berpikir jika seandainya rumah tangga impiannya tak sesuai harapan bukan hanya hubungannya yang akan rusak tetapi juga hubungan keluarganya, hubungan ibu dan Omnya.
Tapi meski sempat ragu, akan tetapi hati Kahfi sangat menginginkan Lexi menjadi istrinya. Yang perlu ia lakukan adalah memupuk perasaannya pada Lexi akan semakin besar.
Kahfi sendiri aneh dan tak mengerti akan perasaannya sendiri. Sebelum menikahi Lexi. Gadis itu terlihat sangat menarik dan nengagumkan. Tapi setelah apa yang ia inginkan dan ia dapatkan dari Lexi rasanya hanya tubuhnya saja yang ia inginkan dari istrinya. Sisanya Kahfi masih tengah berusaha memperdalam cintanya.
Ia juga tak mengerti jika di bilang tidak mencintai. Kahfi sangat kesal dan marah saat ada pria lain yang mencoba menarik perhatian istrinya sekalipun Kahfa kakaknya sendiri.
"Aku harus bagai mana? perasaan cintaku muncul dan hilang tanpa ku mengerti." Gunam Kahfi dalam hati.
Lexi mendongak menatap wajah Kahfi yang selalu tampan di matanya.
"Jika suatu hari nanti Mas tidak lagi tertarik padaku katakan saja. Aku tak akan marah, aku cukup tau diri tak akan memaksakan perasaan seseorang terhadapku."
"Mana ada seperyi itu. Aku mencintaimu sekarang dan seterusnya." 'sekalipun di masa mendatang aku tidak menjanjikan apa-apa aku akan tetap menjadikanmu istriku satu-satunya. Selagi aku masih terikat pernikahan denganmu tak akan aku hadirkan wanita lain.' Kalimat kelanjutannya hanya Kahfi ucapkan dalam hatinya saja. Ia tak ingin istrinya terluka.
Inilah setia sesungguhnya bagi Kahfi. Di saat ada hal lain yang menawarkan kebahagiaan untuknya ia masih ingin memperbaiki cintanya untuk ia limpahkan pada Lexi sepenuhnya.
Jika ada yang mengatakan Kahfi munafik, ya Kahfi akan menerimanya ia tidak sehebat romeo yang mencintai julietnya.
Mungkin dengan sering bersama dan mengulang-ulang percintaan panas mereka Kahfi akan semakin mencintai istrinya.
Ia akan rugi jika Lexi lepas dari jangkauanya, setidaknya itulah yang Kahfa ucapkan padanya.
"Lexi mencintai mas kan?"
Lexi mengangguk cepat, bagaimana suaminya bisa bertanya demikian setelah apa yang Lexi berikan padanya.
"Berjanjilah untuk tetap mencintai Mas, sekalipun Mas tak layak." Kahfi membenamkan ciuman di bibir istrinya disaat seperti ini ia semakin tak ingin kehilangan istrinya.
__ADS_1
Kahfi yakin tak akan sulit untuknya lebih mencintai Lexi, karna pada dasarnya ia sudah tertarik dengan sepupunya itu. Yang Kahfi rasa saat ini hanya syndrom ragu yang akan memudar seiring berjalannya waktu.