
"Aisyah membatalkan pernikahan secara sepihak." Kahfa mencengkram kasar stir mobil, juga dengan kaki yang menginjak pedal gas dengan dalam saat menikung sehingga tiba-tiba-
Braaakkk ...
Dari arah berlawanan juga seorang pengendara mobil melaju dengan sangat cepat. Kecepatannya juga melebihi mobil yang di kendarai Kahfa, Kahfa tidak dapat menghindar sehingga terjadilah benturan kencang.
Mobil Kahfa terpelanting mundur cukup jauh dari terjadinya benturan.
Entah bagaimana nasib pengendara mobil itu.
Sedangkan Kahfa, badannya terjepi badan mobil dan kakinya terpojokan oleh pintu mobil. Mobil yang di tumpangi Kahfi nyaris terbalik.
Tidak ada orang sama sekali di sana entah kemana perginya semua orang, padahal ini jalanan cukup ramai biasanya tapi tak ada seorangpun yang lewat
"Astaghfirullah." Kahfi berusaha menggelengkan kepala untuk mengurai pusing yang melingkupi kepalanya.
Kepala Kahfi yang pusing kini semakin pusing saat pandangannya tak normal. Apa matanya berubah menjadi juling pikir Kahfi. Bukan, ternyata yang bermasalah bukan matanya melainkan posisi mobilnya.
Cipratan darah di mana-mana apa lagi dari arah kening juga pipinya. Ya Kahfi terlika di bagian wajah serta tangannya.
"Astaghfirullah." sekali lagi Kahfi beristigfar.
"Abang." Kahfi menengok ke arah di sampingnya
"Abang bangun, Bang." Kahfi menepuk beberapa kali pipi Kahfa yang terluka, tapi Kahfa masih setia menutup matanya.
"Ya Allah." Kahfi segera berusaha mengeluarkan dirinya juga Kakak kembarnya saat menyadari posisi mobil yang hampir terbalik. Tercium bau bahan bakar oleh hidung Kahfi, itu artinya mobil ini berpotensi meledak.
Sebenarnya Kahfi bisa saja langsung keluar dari mobil itu, tapi ia tak mungkin meninggalkan Kakak kembarnya begitu saja. Jika ia harus mati ia tidak papa asalkan Kahfa selamat.
__ADS_1
Kahfi sudah membuka sabuk pengaman Kahfa, tapi Kahfa masih bertahan dalam posisinya karna terjepit badan mobil.
"Abang ku mohon. Buka mata Abang." Kahfi menepuk pipi Kahfa yang di hiasi warna merah.
"Ya Allah tolong kami." Kahfi tetap berusaha tenang dan terus merapalkan doa-doa pada penciptanya. Ia tak berputus asa.
Ponselnya berdering.
Kahfi tak dapat melihat siapa yang memanggil. Pandangan matanya mulai mengabur tapi ia berusaha mengangkat sambungan telepon dengan tangan kirinya, nahas ponsel itu tergelincir dan terjatuh ke tempat yang sulit untuk Kahfi raih. Entah terangkat atau tidak Kahfi tetap meminta bantuan dan meminta tolong.
"Tolong. Kami mengalami kecelakaan." ujar Kahfi dengan suara lirih.
Kahfi berusaha sekuat tenaga menarik Kahfa. Dan berhasil Kahfa berhasil Kahfi seret dan keluarkan dari balik mobil.
Kahfi menyeret Kahfa dengan jalan terpincang-pincang untuk menjauh dari mobil.
Tepat beberapa meteh Kahfa dan Kahfi menjauh.
Ledakan keras terjadi. Menggema di tengah jalan itu.
Kahfi meletakan Kahfa di bahu jalan, di antara rumput-rumput.
"Abang. Tunggu sebentar Kahfi akan mencari bantuan."
Kahfi terus menyeret langkah kakinya yang pincang serta wajahnya yang di penuhi lika goresan. Haus dan pusing menyergap diri Kahfi.
Kahfi tersenyum samar samar saat sebuah lampu menyorot menerangi wajahnya.
Sebuah pengendara motor berhenti tepat di depannya. Kahfi membuka jam tangannya dan menyerahkan jam tangan mewah itu pada orang yang mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Tolong-" Belum sempat Kahfi menyelesaikan ucapannya Kahfi sudah tak sadarkan diri.
.
"Tante, Om."
Lexi menggedor kamar orang tuanya Kahfi dengan tergesa-gesa juga berteriak beberapa kali sehingga seluruh penghuni rumah bangun termasuk Ghaza dan Kayla.
"Ada apa? Lexi."
Kimmy keluar dari dalam kamar dengan suaminya, Kimmy masih mengenakan mukenanya begitu juga dengan Ridwan pria itu juga memakai sarung dan pecinya. Ya mereka baru selesai menunaikan shalat malam.
"Mas Kahfi." Lexi menangis histeris.
"Mas Kahfi dan Gus Kahfa mengalami kecelakaan."
"Sayang jangan berbicara seperti itu tak baik. Setiap kata adalah doa."
"Lexi tidak berbicara sembarangan tante. Barusan Lexi menelpon Mas Kahfi, dan Lexi mendengar rintihan Mas Kahfi dan meminta tolong. Lalu setelahnya Lexi mendengar suara ledakan. Lexi taku tante." Lexi sudah menangis dengan sangat kencang.
Sejak tadi Lexi khawatir karna Kahfa dan calon suaminya belum pulang sejak pergi sudah satu jam padahal Kahfa mengatakan hanya pergi sebentar sehingga ia memutuskan menghubungi Kahfi dan ternyata firasatnya tidaklah salah.
"Saat ku hubungi nomor Mas Kahfi sudah tidak aktif." Lexi sudah memeluk tantenya.
Kimmy dan Ridwan mulai panik. Begitu pula dengan Ghaza, ia berusaha menghubungi Kahfa beberapa kali. Dan setelah mencoba beberapa kali panggilannya di jawab.
Terdengar bukan suara Kahfa yang mengangkat melainkan seorang wanita, dan mengabarkan jika pemilik ponsel mengalami kecelakaan. Juga terdengar riuh suara serine, entah serine polisi atau ambulance.
"Mari ke rumah sakit." Ghaza mengajak semua orang. Dan menuntun Kayla pelan.
__ADS_1
"Rumah sakit." gunam Lexi. Ia masih belum sadar sepenuhnya, dugaan-dugaan jelek masih melintas di benaknya.
"Lindungilah Kahfiku ya Allah." Lexi mencoba berbaik sangka pada Tuhannya. Bukankah selama ini Tuhannya selalu berbaik hati padanya.