
Ijab kabul Kahfi berjalan lancar, senyum teduhnya memancar di wajah tampannya, sulit untuk Lexi menebak antara senyum kebahagiaan dan senyum kesedihan bercambur di sana, menyisakan senyum yang menyesakan dada untuk ayah dan ibunya.
Disinilah Kahfi dan Lexi berada, di sebuah kamar yang terletak di lantai dua di kediaman keluarga Omar, Lexi dan Kahfi baru saja menyelesaikan proses ijab kabul yang terkesan singkat serta sederhana, tidak ada hal istimewa atau spesial di antara keduanya. Karna memang pernikahan ini terjadi di antara musibah yang menimpa adik dan adik ipar Kahfi sendiri, meski demikian Kahfi selalu berharap semoga keluarganya kecilnya menjadi keluarga yang samawa.
Mereka juga mengunjungi Kayla yang masih terlihat lemah di ranjang pembaringan.
Bukan hanya ada pasangan pengantin baru yang berada di ruangan Kayla di rawat ada pula Ibu dan Ayah mertuanya Ghaza di ruangan itu.
Sejak beberapa waktu Kayla telah berpikir akan kondisi yang tengah ia miliki kali ini. Ia tidak boleh egois dengan hanya mementingkan keinginannya sendiri, Ghaza adalah pria dewasa yang cukup matang, pasti pria itu sudah menginginkan seorang anak di hidupnya sedangkan Kayla? Kemungkinan hamil kembali sangat kecil, harapan kecil itu membuat Kaylapun berkecil hati, sehingga ia memutuskan hal berat dalam hidupnya.
"Ayah,," Panggil Kayla pelan, sehingga Ridwan dan Ghaza mendejat secara bersamaan. Begitu juga dengan Kahfi dan Lexi serta ibunya Kimmy.
"Ya, Sayang ada apa? Ayah disini."
__ADS_1
"Abang," Kayla bergantian menatap suaminya.
"Ya, Sayang Abang di sini, Abang tak akan kemana pun." Ghaza mendekat dan mencium pipi istrinya.
"Mau sampai kapan kalian menutupi jika aku akan sulit memiliki anak?" tanya Kayla parau, semua orang tersentak secara bersamaan dari mana Kayla mengetahui hal itu.
Apakah dari perbincangan antara Ia dan ibu Ayudia pikir Ghaza. Tapi bagai mana mungkin jelas-jelas semalam Ghaza terlelap dengan sangat pulas, tapi dari manapun Kayla mengetahuinya itu tidak penting, yang terpenting ia harus berusaha membuat Kayla bersemangat kembali menjalani harinya.
"Tak ada apapun yang kami tutupi darimu Sayang, kau tau Abang tidak bisa berbohong padamu." ucap Ghaza lembut.
"Bukan begitu, Abang hanya mencari waktu yang tepat." Bantah Ghaza lagi.
"Demi Allah, jika Abang ingin meninggalkanku dan menalakku saat ini aku ikhlas." ucap Kayla seraya memejamkan kedua matanya, jika kalian mampu melihat ada sebuah belati yang menghujam dadanya.
__ADS_1
Jegerrr.
Untuk Ghaza ini adalah pukulan terbesar untuknya, pria itu sampai mundur satu langkah dengan kondisi lutut yang limbung, hampir saja pria itu limbung dan kehilangan keseimbangannya.
"Jangan berbicara omong kosong di hadapanku Kayla Omar." Ghaza sangat marah mendengar kalimat yang menjadi pukulan terbesarnya. Tiba-tiba saja jantung Ghaza terasa di hantam sebuah ghodam berukuran raksasa yang tepat menganai jantung dan paru-parunya hingga ia kesulitan bernapas.
"Aku akan mampu jika kau menghalalkan wanita lain di kemudian hari." Kayla menunduk. Ibu Kimmy membiarkan putrinya menyampaikan ke gundahan di hatinya.
"Ku pikir kau mengenalku, hampir seluruh waktuku ku habiskankan untukmu Kay, tapi sepertinya itu tidak cukup untuk membuktikan jika aku sangat mencintaimu." Ucap Ghaza serak, ia cukup kecewa dengan kalimat Kayla yang terdengar meremehkan cintanya.
"Aku bukan seperti pemeran wanita di kisah novel yang membiarkan suami menikah kembali demi sesosok bayi, atau menyuruhmu menikah wanita lain atau bahkan mencarikan madu yang justru akan menjadi racun untukku sendiri. Aku juga tidak bisa menutup mata atau berpura-pura tidak peduli dengan apa yang kau lakukan. Lebih baik kau ..."
"Cukup, jangan lanjutkan lagi Kayla. Demi Allah sudah cukup sedari tadi aku membiarkanmu berisik dan berkata lancang kepadaku. Kau pikir aku pria murahan? atau pria macam apa? Sungguh jika kau berkata ingin melihat kau hidup dan aku harus berbagi hati. Aku akan lebih memilih kau berpulang ke pada sang khalik dari pada aku harus menghadirkan wanita lain dalam hidupku. Cukup Kayla berhenti mengujiku, renungkanlah semua kalimatmu, hubungi aku, aku akan datang padamu di saat kau sudah menyadari ucapmu." Ghaza pergi dari sana, dalam ke adaan marah ia butuh air wudhu untuk mendinginkan kepalanya.
__ADS_1
Semua orang hanya diam dengan kebisuan masing-masing.