
Pagi ini Kahfi membuat janji temu dengan doter obgyn di rumah sakit terdekat. Kahfi sangat penasaran akan kejadian tempo hari di saat ia merasakan getaran di perut istrinya.
Di samping itu sang istri terus terusan mengatakan jika perutnya terasa sering berkedut-kedut entahbitu cacing atas asam lambung, Kahfi pila tak mengerti karna ia memang bukan seorang dokter.
Karna memang sudah membuat janji Kahfi dan Lexi langsung memasuki ruang peneriksaan.
Lexi mengatakan kejanggalan demi kejanggalan yang ia alami beberapa minggu terakhir ini, yang mana ia sering merasa lapar di malam hari, serta moodnya gampang berubah-ubah.
Dokter wanita paruh baya yang mengenakan syal berwarna putih di lehernya itu, terlihat mengangguk-angguk.
"Mari berbaring nyonya! Kita lansung lakukan USG." Dokter itu menyarankan untuk berbaring di ranjang pasien. Lexi membaca tag nama di dada dokter itu bertuliskan Zahra. Mengingatkan Lexi pada sosok mantan teman Kahfi yang seketika membuat mood Lexi memburuk.
"Mas aku ingin ganti dokter saja."
"Hah!"
Kahfi membuka mulutnya. Ia tak percaya mengapa mood istrinya tiba-tiba berubah padahal sebelum ke rumah sakit istrinya itu sangat antusias dan bersemangat, sampai memasuki ruang periksapun Lexi masih tersenyum lebar. Lalu kemudian sekarang terlihat kesal dan menyebalkan Lexi bahkan menekuk wajahnya menunjukan kekesalannya.
"Kenapa harus ganti Ay? kan sama saja." Kahfi selalu berujar lembut, meski Kahfi sangat hati-hati Lexi kadang salah sangka dengan maksud ucapannya. Entah bagai mana cara kerja otak Lexi akhir-akhir ini, sungguh Kahfi yak mengerti.
"Iya Bu, saya juga sudah berpengalaman." Dokter yang bernama Zahra itu turut mengemukakan pendapatnya. Ia memang sudah lama menjadi dokter obgyn, dan jujur saja ia sedikit tersinggung saat pasiennya ingin mengganti dokter.
"Saya tidak meragukan kemampuan dan pengalaman dokter."
"Lalu apa masalahnya Bu?" Dokter itu berujan sopan, ia tak menunjukan ketersinggungannya saat mengetahui bukan kemampuannya yang pasiennya ragukan.
"Nama dokter. Nama dokter dama persis seperti seseorang yang tidak saya sukai."
"Hah."
Dokter itu dan Kahfi di buat melongo seketika. Bagai mana bisa sebuah nama menjadi alasan seseorang tak ingin di priksa.
"Ganti nama dokter. Jangan nama itu!" Lexi menunjuk tag nama di kemeja putihnya.
"Bu, saya tidak bisa mengganti nama sembarangan. Nama ini adalah pemberian orang tua saya."
"Ay, jangan seperti itu!" Kahfi mengusap punggung istrinya lembut.
"Ya sudah, kita pulang atau cari dokter lain."
"Ay!" Kahfi terlihat memelas ia menunjukan pupil matanya agar Lexi luluh. Tai sepertinya penyakit keras kepala Lexi tengah kumat, gadis itu tak terpengaruh sama sekali.
"Pokoknya aku tidak mau lanjut periksa jika dokternya bernama Zahra."
__ADS_1
Dokter semakin yakin dengan diagnosanya perubahan mood Kayla dan bagai mana keras kepalanya Lexi membuat dokter itu menyimpulkan sesuatu.
"Ibu, bagaimana jika saya copot saja tag nama ini? Selama periksa ibu boleh mengganti nama saya." ujar dokter itu kembali.
Tanpa di duga Lexi mengangguk antusias. "Boleh dok boleh."
Dokter itu tersenyum dan lekas mencopot nama di jas kebanggaannya, lalu ia letakan di atas meja.
Lexi di bantu Kahfi menaiki ranjang pasien dan berbaring di sana.
"Maaf ya Bu saya buka?" dokter itu meminta ijin dan menyingkap pakaian Lexi.
Seorang suster menghidupkan sebuah layar monitor juga dengan sesuatu yang Lexi tidak mengerti kegunaannya.
Cairan berbentuk jell itu di tuangkan dokter ke alat serta perut Lexi yang mana seketika membuat kulit permukaan perut Lexi terasa dingin.
"Wah selamat, Ibu, Bapak, ternyata benar dugaan saya istri Bapak memang tengah mengandung."
"Mengandung." Suara Kahfi tercekat, suaranya tertahan di tenggorokannya. Air mata bahagia mengalir begitu saja. Dapat ia lihat dari layar monitor sesosok bayi mungil, dokter itu menjelaskan satu persatu bagian tubuh janin mungil itu yang sudah terbentuk.
Kahfi dan Lexi menangis haru antara terkejud juga sangat bahagia. Kahfi menghadiahkan banyak kecupan di kening istrinya.
"Terimakasih, terimakasih Sayang."
Kahfi larut dalam kebahagiaannya.
Jika saja Kahfi tidak turut merasakan denyutan di perut Lexi mungkin selamanya Lexi akan mengira jika dirinya memang kedutan.
"Usianya." Fokter menzoom gambar itu dan terlihat menimang-nimang atau menghitung entahlah Lexi tak yakin.
"Sekitar dua puluh minggu."
Hampir lima bulan dan selama itu Leci tak menyadari kehamilannya.
"Bagaimana bisa dok?"
"Loh ko? Kan ibu dan Bapak sudah menikahkan?" Dokter itu memastikan takut sepasang manusia ini hanyalah menjalani hubungan tanpa setatus.
"Maksud istri saya, selama ini kami menunda kehamilan, baru beberapa minggu saja kami memutuskan untuk memiliki anak." Kahfi yang menjelaskan.
Dokter Zahra mengangguk dan menyudahi periksanya.
"Pak, Bu. Kita sebagai manusia hanya bisa berniat dan berencana tapi mudah untuk Tuhan menunjukan kekuasaannya. Saya yakin Bapak dan ibu lebih paham." ujar doter itu.
__ADS_1
Kahfi sendiri hanya tersenyum menanggapi.
"Maksud saya apa tidak papa Dok? Mengingat istri saya rutin mengkonsumsi pil kontrasepsi."
Dokter itu terkekeh.
"Tidak papa Pak, kandungan istri bapak sehat. Janinnya juga sehat dan sejauh ini tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tulang hidung, lingkar kepala juga kandung kemihnya terditeksi normal." Dokter itu menjelaskan dengan sangat terperinci.
.
Keduanya pulang saat menjelang siang.
Kahfa tampak tengah meminum jus buah pear di teras rumah. Karna memang cuaca hari ini cukup terasa panas, jadi Kahfa membuat jus saat tiba di rumahnya sepulang mengajar.
Lexi meneguk gumpalan ludahnya berulang-ulang melihat jus di genggaman kakak iparnya yang tengah di nikmati secara perlahan.
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikum salam ..."
Lexi masih melihat ke arah minuman Kahfa dengan sangat ingin. Tapi ia cukup tau diri sehingga tidak meminta minuman itu secara langsung.
"Abang Lexi juga ingin minuman itu." Lexi mrmenunjuk juga menatap jus buah milik Kahfa.
"Sana minta bikinin sama Bibi." Kahfa melirik kearah Kahfi yang langsung menegur istrinya.
"Ay, aku buatin ya."
"Enggak mau Mas. Aku ingin yang sama persis seperti minuman Bang Kahfa."
Lah. Ngotot bangaet. Bahkan Lexi berujar dengan sewot.
Kahfi yang memahami istrinya tengah hamil langsung memahami jika keinginan istrinya bagian dari ngidam. Tapi ia melirik ke arah Kakaknya yang menincingkan matanya.
"Ayolah Bang bikinin aku minuman." Mohon Lexi.
"Hey Bunglon, lakimu sapa minta bikinin jus sama sapa sadar woy." Kahfa kembali menyesap minumannya. Seakan sengaja mengerjai Lexi Kahfa berakting jika minumannya sangat nikmat. "Segarnya jusz buatanku."
Lexi kembali menenggak liurnya sampai menimbulkan bunyi.
"Ayolah Bang kasihani adik iparmu ini." mohon Lexi.
"Tidak." Kahfa tetap menolak.
__ADS_1
"Jika kau menolak keinginanku tidak papa. Tapi kabulkan keinginan calon keponakanmu yang menginginkan juss itu."
"Calon keponakan?"