Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Sering bertengkar


__ADS_3

Kimmy POV


Setelah masalah Jaelani selesai aku kerap kali di buat kesal dengan mantan tunangan suamiku, Ayudia itu selalu mendatangi suamiku dengan berbagai alasan.


Sialnya wanita itu menjadikan senjata bayi yang tengah ia kandung untuk menyeret si Agus untuk masuk masalah yang selalu membelenggunya, si Ayudia itu menolak setiap pria yang menawarkan pernikahan dengannya. Benar-benar wanita tidak tahu malu wanita itu terus mendesak suamiku untuk menikahinya meskipun si Agus selalu menolaknya.


Aku selalu di buat cemburu saat suamiku membelikan apa yang di inginkan wanita sudal itu, saat itu aku terpikir untuk melepas pil kontrasepsiku agar aku bisa mengandung anak si Agus sendiri, sepertinya si Agus akan sangat bahagia.


Saat itu aku sudah telat datang bulan dan beberapa kali sudah melakukan tes dan ternyata aku memang hamil, setelah kuingat-ingat aku sudah lebih dari dua kali priode tidak kedatangan tamu bulanan dan terbukti saat aku tengah mengandung, pria itu sangat bahagia dan memperlakukanku layaknya ratu.


Agus selalu menuruti keinginanku, dan ia tidak pernah sekalipun mengabaikanku.


"Dek, aku sudah berbicara pada Abi dan Umi, aku tak ingin lagi tetlibat dengan masalah Ayudia, dan meteka menyetujuinya." Agus mengatakan itu padaku, tentu saja aku sangat senang tanpa aku minta pria itu begitu peka pada keadaanku.


Pagi-pagi sekali kami kedatangan El, di waktu sarapan El bertamu, bukan ternyata El bukan akan bertamu melainkan untuk pamit, El sudah membawa barang-barangnya pada sebuah koper yang ia tarik.


Aku melihat luka dan kekecewaan di wajahnya, matanya sendu dan terlihat menyedihkan.


Setelah dia berpamitan pada semua orang kini pria yang pernah mewarnai hatiku untuk yang peryama kali berada di hadapanku dengan pandangan berbeda.


"My, aku pamit, aku akan kembali, Entah untuk mengakhiri kisah menyedihkan ini atau akan kembali sebagai pemenang." Ucapnya terdengar menyedihkan. Tapi tidak ada doa yang ia berikan untuku.


"Semoga kau bahagia dimanapun kau betada." Ucapku tulus.


Sedangkan ia hanya menunduk. "Aku hanya akan bahagia saat mati di sampingmu." Gunamnya tapi masih terdengar samar di telingaku.


Pada akhirnya El Malik meninggalkan kami, dengan cerita lama, luka yang ia torehkan telah sembuh sepenuhnya karna memang terjadi kesalah pahaman di antara kami dulu. Meskipun kesalahpahaman itu kini sudah terkuak tapi perasaanku padanya sudah tiada, rasa cinta itu kini telah menguar seiring berjalannya waktu.


Di hati ini hanya tersisa satu nama saja nama yang kini selalu aku langitkan di sepertiga malam, Ridwan Omar yang kini tangah merajai hatiku.


Setelah beberapa bulan Ayudia sudah melahirkan seorang anak laki-laki anehnya wanita itu enggan untuk pergi dari pondok itu, wanita itu selalu hidup dari uang yang di berika Riza adik iparku, meskipun aku mengetahui uang itu berasal dari suamiku tapi ya sudahlah untuk apa aku memikirkannya.


Seiring berjalannya waktu akupun melahirkan dua malaikat kecil yang berjenis kelamin laki-laki, keduanya tampak menggemaskan dengan pipi gembilnya. Suamiku menamai mereka Kahfa dan Kahfi.

__ADS_1


.


Setelah lima tahun berlalu keluargaku terbilang bahagia meski kadang di warnai dengan pertengkaran kecil, dan tentu saja penyebabnya Ayudia si perawan satu anak itu.


Kesal rasanya saat anaknya selalu memanggil suamiku dengan sebutan Ayah, padahal hubungan keduanya tidak memiliki ikatan apapun, anak Ayudia itu selalu menginginkan apapun yang kembarku miliki, sampai jika suamiku membeli apapun dia selalu membeli tiga barang, jika kami pergi-pergipun Ghaza nama bocah itu selalu ikut. Aku bukan marah pada bocah itu hanya saja aku kesal pada ibunya yang tidak tahu diri.


Pertengkaran semakin sering terjadi saat Umi sakit gagal ginjal dan mendapatkan donor dari Ayudia, maka semakin serasa di atas awan saja wanita itu.


"Kau membelikan cincin padanya?" Tanyaku penuh emosi.


"Tidak. Siapa yang bilang?"


"Ayudia dan Sari yang mengatakannya."


Sari adalah istri dari Riza dan adik iparku juga, hanya saja gadis itu seperti tidak menyukaiku, dia mendukung Ayudia untuk menjadi madu ku.


"Kau lebih mempercayai mereka di banding suamimu sendiri."


"Tapi Umi membenarkannya, Ayudia memakai cincin yang kau belikan dulu."


"Tapi kau tidak pernah berbicara padaku tentang ini."


"Itu tidak penting sama sekali Kimmy."


"Kau bahkan tidak pernah membelikanku perhiasan."


"Itu karna aku lebih senang kau membelinya sendiri, agar kau bisa bebas memilih perhiasan apa yang kau sukai."


Kimmy kesal, ia juga ingin di berikan kejutan atau hadiah berupa perhiasan oleh suaminya sama seperti pasangan-pasangan pada umumnya, tapi Ridwan tidak peka sama sekali.


"Kau itu selalu saja seperti itu."


"Kenapa sih Dek, kau selalu membesar-besarkan masalah?"

__ADS_1


"Membesar-besarkan katamu, kau selalu menyepelekan setiap hal Gus." Aku mengerang frustasi


"Harus dengan apa agar kau tidak selalu mencemburuiku Kimmy." Diapun terlihat kesal meskipun ucapannya tidak meledak-ledak sepertiku.


"Ayo kita pindah dari sini Gus, aku tak ingin terus-terusan hidup dengan di bayangi Ayudia," Sudah berulang-ulang kali aku mengajak suamiku pindah tapi Agus selalu menolaknya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Umi apalagi dengan kondisinya yang sering sakit-sakitan." Ia selalu beralasan demikian.


"Kita cari rumah yang dekat-dekat sini, kita bisa sering berkunjung ke sini."


"Aku tidak mau." Agus pergi setelah mengucapkan itu.


Setelah enam tahun kondisi pernikahanku aku merasa semakin memburuk saja dan pemicunya adalah Ayudia wanita ular itu.


Mba Rismapun sekarang mulai bersimpati pada Ayudia semenjak wanita itu memberikan salah satu ginjalnya pada Umi.


Lagi pertengkaran terjadi saat seluruh keluarga makan diluar mengajak Ayudia, sedangkan aku lagi memiliki urusan di Kantor, oh ya aku hampir lupa aku bekerja di salah satu Firma hukum di kantor kota ini sebagai pengacara, sudah empat tahun aku bekerja, ya meskipun suamiku kaya tapi aku ingin berdiri di kakiku sendiri tapi aku tidak melupakan kewajibanku sebagai ibu dan anak kantor itu lumayan dekat dari tempat tinggal kami hanya membutuhkan waktu 30 menit perjalanan.


"Kenapa kau mengajak Ayudia makan siang bersama kalian?" Aku memarahi si Agus sangat sulit untuk berbicara lembut pada pria itu.


"Aku tidak mengajaknya."


"Lalu kenapa dia ikut?"


"Dia meminta ikut dan mbak Risma bersama Umi mengiyakan karna tak tega."


"Kau sengajakan ingin mendekatkan si kembar pada wanita itu."


"Jangan sembarangan berbicara, kau saja yang terlalu sibuk hingga jarang menghabiskan waktu bersama keluarga, sekarang aku berubah pikiran, aku melarangmu bekerja, lagi pula uangku sangat banyak cukup untuk biaya hidup kita." Aku terdiam, Ya memang sepertinya karirku harus berakhir, aku juga tak ingin kehilangan Agusku dan si kembar, jadi aku lebih baik berhenti bekerja saja.


"Baiklah, Gus aku akan berhenti bekerja aku akan lebih memilih kalian, karna kalian adalah segalanya untuku, aku akan membuat surat pengunduran diri sekarang." Pasrahku.


"Kau serius?" Agus terlihat berbinar dengan keputusanku.

__ADS_1


"Tentu saja." Dia memeluku dengan hangat, mungkin ini jalannya agar aku tidak merasa tersisih dari keluarga ini.


Sebisa mungkin aku akan menjaga keutuhan keluargaku.


__ADS_2