Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Kewajiban sebagai anak


__ADS_3

Lexi sudah berhenti menangis meskipun masi sesegukan saking parahnya menangis.


"Sedang apa Om Sami di sini, apa sedang sengaja menyambut kami?" Kahfi melontarkan kalimatnya dengan percaya diri.


"Maaf mengecewakanmu Dude. Om kemari mengantarkan putri Om untuk menuntut ilmu di sini." Sami menatap putrinya yang sesegukan dengan mata satunya.


"Dia, putri Om?" Kahfa menunjuk wanita cantik dengan mata dan hidung memerah. Subhanallah Kahfa memuji kecantikan sepupunya yang paripurna dalam hati. Meskipun dengan keadaan acak-acakan kecantikan Lexi tidak dapat di pandang sebelah mata.


"Ya dia putri tunggal Om. Tapi dia non muslim om memaksanya pindah keyakinan setelah sebelumnya izin pada ibunya. Namanya Lexi."


"Om Ridwan apa hukum mencintai sepupu sendiri?" Lexi tiba-tiba nyeletuk membuat Ridwan mengerutkan keningnya.


"Sepupu apa?" Ridwan masih bingung atas pertanyaan keponakannya.


"Ish, tentu saja sepupu manusia mana munkin aku mencintai sepupu kucing." Lexi mencebik kesal, tak habis pikir akan pertanyaan omnya. Kata Daddynya om Ridwan adalah seorang guru. Masa guru sangat bodoh.


Kahfa dan Kahfi kompak tertawa, sedangkan Sami dan Kimmy hanya meringis.


"Maaf Ridwan Lexi ceplas ceplos seperti tantenya." Ringis Sami ia menatap adiknya yang terlihat merajuk.


"Om bagaimana? Apa hukumnya?" Lexi kembali bertanya dengan tidak sabar.


Ridwan baru membuka mulutnya ingin menjawab tapi Kimmy segera menyambar omongannya.


"Memangnya siapa yang menarik di matamu Sayang? Kahfa atau Kahfi"


"Keduanya tante. Aku tak akan rugi memilih salah satu putra tante. Meskipun dengan menutup mata. Keduanya sangat tampan." Lexi berbinar-binar mengatakan itu juga dengan ekpresi malu-malunya.


"Bukan hanya Abang kembarku yang tampan Ghaza suamiku juga sanagat tampan." Kayla keluar untuk menemui Kakak kembarnya.


"Gus Ghaza memang tampan tapi pesonanya luntur karna dia sudah menikah denganmu. Aku memang pecinta pria tampan tapi aku bukan pecinta suami orang." Lexi menyaut dengan ekpresi menngemaskan. Lexi kemudian membenarkan karudung pasmina yang menyampir di lehernya. Sebisa mungkin Lexi menutupi rambut indahnya.


"Om Ridwan jawab. Jangan sampai aku mengulang pertanyaanku untuk yang kedua kalinya." Lexi mendesak Ridwan unyuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Hukumnya boleh Lexi kau boleh menikahi sepupumu." ujar Ridwan pasrah saat melihat pelototan istrinya.


k


"Hei Daddy. Lexi berubah pikiran, putrimu yang cantik dan penurut ini akan berpindah keyakinan." Lexi berujar lantang membuat Sami melongo di tempatnya berdiri juga dengan rasa malu yang membumbung tinggi pada dirinya.


Kahfa dan Kahfi sedikit tak percaya dengan kalimat sepupu mereka.


Kayla pamit pada keluarganya, ia dan Ghaza harus menginap di rumah sakit untuk menemani ibu mertuanya. Meskipun Kayla masih rindu dengan Abang kembarnya tapi ia tak bisa mengabaikan kewajibannya.


Bertepatan dengan itu Sami juga harus kembali ke kota tempatnya tinggal meninggalkan putri tunggalnya dan adiknya.


"Abang titip Lexi ya. Tolong sayangi dan tegur dia jika ia salah." Meskipun berat meninggalkan Lexi, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain ini, ia tak ingin putrinya berbeda keyakinan dengannya.


Sami memeluk tubuh putrinya dengat erat, ia juga mengecupi puncak Lexi bertubi-tubi. "Katakan pada Mommy aku menyayanginya." Lexi menangis meskipun tidak sehisteris sebelumnya.


.


"Ya ampun senangnya dalam hati bila bersepupu dua. Oh serasa dunia Lexi yang punya." Lexi terus bersenandung dengan bersemangat ia senang, sangat senang mempunyai dua sepupu yang tampan.


"Om, tante, aku sudah masuk islam aku sudah bisa Syahadatain, sering masuk mesjid juga sering mengaji. Tapi aku pernah di tegur seniorku di kampuskarna membuka al-qur'an."


"Loh," Kimmy mengernyitkan keningnya heran.


"Ternyata al-qur'annya terbalik tante. Ya Allah malu banget aku."


Kahfa menatap Lexi dengan wajah datarnya. Kekaguman Kahfa perlahan memudar pada sepupunya karna buta dalam agama Allah termasuk bukan wanita idaman menurutnya.


Kahfi sendiri mengangkat bibirnya tipis, sebisa mungkin pria itu tidak memperlihatkan tawanya. Aneh dan unik itu yang Kahfi lihat dari saudari sepupunya.


"Oalah. Kau ini." Kimmy menertawakan tingkah keponakannya.


"Pernah juga waktu di kampus pas waktu lebaran haji tante, kan mayoritas mahasisanya adalah muslim tante aku kan ikut ngantri daging kurban kan tante, karna di suruh temenku kan. Katanya daging kurban itu enak makanya aku di suruh ikut ngantri, biar bisa buat bakar-bakar padahal aku sudah mengatakan akan membeli daging di super market, tapi temenku tetep maksa. Ya udah tuh Lexi ikut ngantri karna suntuk Lexi mendengarkan musik di hedset, set, set set. Setelah beberapa lama tiba tuh giliran Lexi bukannya di kasih dagingnya eh Lexi di suruh baca surat al-lahab. Lah kok gitu? Tanyaku ternyata dari tadi juga orang-orang sebelum aku membaca surat pendek sebagai kupon daging kurbannya."

__ADS_1


"Terus Lexi bisa?" tanya Kimmy.


"Tentu saja tidak. Akhirnya aku bikin penawaran kan pake surat al-ikhlas untung saja kakak seniornya baik. Jadi aku dapet deh daging kurbannya. Aku pintarkan." Lexi menepuk dadanya bangga.


"Lexi bisa surat al-ikhlas." tanya Kimmy kembali.


"Bisa. Hehe hanya surat itu yang Lexi bisa." Lexi meringis.


"Memangnya teman Lexi tidak tau jika Lexi non muslim?" tanya Ridwan hati-hati.


"Tidak." Lexi menggeleng lemah.


"Kenapa?"


"Hehehe. Karna Lexi setiap hari pake kerudung. Juga baju panjang." Lexi menggaruk tengguknya yang tak gatal.


"Alasannya?" tanya Kahfa.


"Apa nyaman dengan pakaian tertutup." tanya Kahfi hati-hati.


"Bukan begitu. Aku justru gerah dan panas dengan pakaian tertutup tapi karna kewajiban aku melakukannya."


"Kewajiban? Pakaian tertutup hanya di wajibkan pada seorang muslimah. Sedangkan kau kan non muslim pada saat itu, lalu kewajiban deperti apa?" Kahfa tak habis pikir dengan sepupunya aneh, benar-benar aneh.


"Kewajibanku sebagai anak. Saat aku berteduh di suatu masjid karna hujan lebat, kebetulan di mesjid itu sedang ada kajian. Dan ustadznya mengatakan. Jika seorang muslim mempunyai anak perempuan yang sudah baligh dan tidak menutup aurat maka dosanya akan di tanggung dan di limpahkan pada ayahnya. Di situ aku berpikir berarti Daddyku menanggung dosa-dosaku. Aku tak ingin seegois itu membiaskan Daddy menanggung dosaku. Meskipun aku bukan seorang muslim dan tak berdosa jika tidak menutup kepalaku. Tapi Daddyku adalah seorang yang beriman. Jadi sejak hari itu aku menutup kepala dan tubuhku. Jadi teman-temanku mengira aku adalah seorang muslim." Lexi berpikir sangat sederhana.


"Hanya karna ayahmu takut berdosa Sayang?" tanya Kimmy, Lexi menganggukan kepalanya.


"Meskipun aku adalah anak yang nakal dan liar dalam pergaulan. Bahkan teman tongkrongan di bar yang non muslim sepertiku menjulukiku ninja warior. Entahlah mereka mendapat julukan seperti itu dari mana." ungkap Lexi jujur.


"Kau ke club memakai hijab?" tanya Kahfi.


Lexi menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Sudah ku katakan aku hanya melakukan kewajibanku sebagai anak."


"Astagfirullah."


__ADS_2