
"Lexi buka pintunya!"
Kahfa terus menggedor pintu kamar Lexi, kesabarannya yang setipis tissue paseo yang di bagi dua membuat Kahfa tak lagi memperdulikan adab, sehingga pria kekar itu terus menggedor pintu.
Ibu Kimmy dan Ayah Ridwan sampai mendekat karna suara Kahfa yang menggelegar. Beruntung Uwa Risma tengah berada di rumah Kayla dan Ghaza.
"Ada apa Kahfa? Kenapa ribut sekali?" Keduanya langsung mendekati Kahfa yang terus memberi perintah agar istronya membuka pintu.
"Lexi marah padaku Yah, dia tidak mau membuka pintu, padahal aku harus berbicara padanya." Kahfa terlihat frustasi nahkan pria dewasa itu sampai menggosok wajahnya dendiri dengan kedua bilah tangannya.
"Ibu di mana kunci cadangan kamar ini?" Kahfa terlihat mengoyang-goyangkan handel pintu dengan tidak sabar.
"Ibu tidak tau."
"Lexi buka pintunya! Atau aku akan mendobraknya!" Kahfa kembali berteriak, dalam hati ia memohon agar Zayn tidak mendengar suaranya.
"Sekalipun kau menghancurkan pintunya. Kau tak akan dapatberbicara dengannya, ibu tau bagai mana perangai istrimu." Kimmy menatap putranya yang terlihat kehabisan akal.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Kimmy seakan paling tau watak gadis itu.
"Aku hanya menegurnya Bu."
"Tidak mungkin Lexi sampai marah jika kau hanya menegurnya!" Kimmy menatap putranya penuh selidik.
"Aku tak sengaja meninggikan suaraku di hadapannya Bu." Kahfa menghembuskan nafas kasar. Susah juga untuknya mengganti setiap prilaku dan kebiasaannya. Kahfa bukanlah seorang pria yang lemah lembut, atau yang kerap kali manya menye. Kahfa selalu berbicara sesuai porsi juga apa adanya. Ia tidak juga berlebihan dalam menyikapi sesuatu.
"Kahfa. Wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Jika kau tak hati-hati meluruskannya di saat dirinya keliru bisa saja kau langsung mematahkannya. Harusnya kau banyak mengertikan hal ini Nak. Tidak setiap wanita akan menurut hanya dengan bentakan, jikapun demikian bukannya rasa segan yang kau dapat darinya melainkan rasa takut, kau ingin demikian?" Ridwan adalah pria yang di penuhi rasa kasih sayang.
"Tidak setiap kata orang harus kau dengarkan." Kimmylah yang berbicara.
"Uwamu berkata seperti tadi karna dia tidak tau apa yang di lalu oleh Lexi. Patutnya kau menimbang-nimbang dulu apa yang harus kau katakan padanya." Kahfa menunduk ia menyadari kesalahannya tapi berat rasanya untuk dirinya meminta maaf. Dan sepertinya Kahfa memang harus memberikan Lexi waktu supaya gadis itu bisa memaafkannya.
Akhirnya dengan gelisah Kahfa meninggalkan Lexi di kamar Kahfi dengan Zayn bersama ibunya.
.
Sesaat setelah shalat subuh Lexi mendatangi Uwanya, di kamar Uwanya, bukan karna teguran Kahfa padanya melainkan ia sudah berpikir jika dirinya memang harus meminta maaf karna Uwanya tersinggung oleh tindakannya.
"Assalamualaikum Uwa ..." Lexi mengucapkan salam secara berulang.
"Waalaikumsalam ..." Uwanya menghampiri Lexi dengan mukena yang masih di kenakan wanita paruh baya itu. Zayn sudah terbangun dan di gendong oleh Lexi. Bayi mungil dengan pipi gembil itu bergerak-gerak di atas gendongan ibunya.
"Ada apa?" Uwanya mempersilahkan Lexi masuk.
"Sepertinya Zayn ingin di gendong neneknya. Wa." Lexi menyodorkan putranya ke hadapan gendongan Uwa Risma.
__ADS_1
"Sebentar Cah ganteng. Nenek pakai kerudung dulu." Dengan segera Uwa Risma membuka mukenanya dan memakai hijab yang langsung pakai.
Zayn di gendong oleh Uwa Risma. Dan terlihat Zayn yang mulai mengoceh di gendongan neneknya.
"Aou ... Aou ..." terdengar menggemaskan seperti gauran seekor kucing.
"Wah, cucu Nenek pintar ya." Uwa Risma tersenyum juga mengecupi pipi gembil itu yang terasa sangat empuk. Membuat Lexi tersenyum.
Secara perlahan Lexi menyentuh tangan yang mulai nampak urat-uratnya.
"Uwa ..." Panggil Lexi pelan.
Uwa Risma menatap istri keponakannya dengan wajah bingung.
"Maaf jika semalam Uwa merasa tersinggung oleh sikaf Lexi. Lexi tak bermaksud seperti itu. Tak ada pula alasan untuk Lexi tidak menyukai Uwa. Hanya saja Lexi tak tau harus bersikap seperti apa dengan seseorang yang baru Lexi temui, Lexi sendiri merasa tersesat di antara orang-orang yang baru Lexi kenal selama setahun ini. Bahkan Lexi tak mengenal diri Lexi sendiri." Lexi menatap ke arah langit-langit kamar uwa Risma, berusaha menjaga air matanya agar tidak jatuh. Ia juga berusaha tidak membahas Kahfi.
Uwa Risma menatap teduh manik yang di hiasi kaca-kaca itu. Poin yang sama adalah mereka sama-sama pernah kehilangan orang yang mereka cintai meskipun dengan cara yang berbeda.
Jika suami Lexi di ambil Tuhannya sedangkan suami Risma di ambil wanita lain. Lalu manakah yang lebih sakit?
Ada jutaan cinta di manik abu Lexi, tapi tidak wanita itu tunjukan untuk Kahfa. Risma menyimpulkan cinta itu sudah tak memiliki tuannya.
"Kau masih mencintai Kahfi?"
"Uwa mengerti. Tak mudah untuk kita sebagai wanita mengganti nama lain di hati ini dengan nama baru. Uwa juga merasa hal yang sama selama beberapa waktu bahkan hampir separuh usia Uwa, Uwa habiskan untuk mencintai mantan suami Uwa. Tapi Lexi harus tau satu hal ini qodratullah Nak, kita harus iklas jika Allah mengambil apapun dari kita. Percayalah Allah maha mengetahui yang tetbaik untuk kita sekalipun itu menyakitimu. Bersabarlah. Kau wanita kuat, kau wanita tangguh pundakmu sangat kokoh sehingga Allah memilihmu untuk mendapatkan semua ini." Uwa Risma meletakan cucunya di atas kasur dan memeluk Lexi erat menyalurkan segenggam kekuatan pada wanita muda itu.
"Maaf Uwa terlalu sensitif semalam. Uwa tak tau apa saja yang baru menimpamu. Ibu Kimmymu menceritakan apa yang di laluimu. Maafkan Uwa sudah bertindak dzalim padamu."
Lah Lexi mengerjapkan matanya yang berair beberapa kali. Harusnya ia yang meminta maaf, tapi ini malah Uwanya yang berkali-kali meminta maaf padanya.
"Uwa, Lexi yang minta maaf. Lexi yang salah. Maafkan Lexi. Uwa."
"Ya sudah kita saling memaafkan ya."
Lexi mengangguk dan menseka air hidungnya dengan menggunakan punggung tangannya.
"Lexi meskipun kau masih mencintai Kahfi. Tolong jangan abaikan Kahfa. Dia juga seorang manusia normal bisa marah juga mudah tersinggung. Dia suamimu sekarang jangan biarkan mencintaimu sendirian." Uwa Risma membelai wajah Lexi, dan memperingati menantu di itu.
Heh, siapa yang mencintainya? Lexi mencibir, Kahfa menikahinya bukan karna pria itu mencintainya. Itu terjadi karna wasiat dari adik Kahfa. Seandainya saja Kahfi tidak memberi wasiat pasti mereka tak akan menikah.
"Iya Wa."
.
Seperti kemarin Lexi menyiapkan kopi saat Kahfa pulang dari kelasnya. Tanpa berbicara, Lexi meletakan kopi itu di hadapan Kahfi dan hendak kembali berlalu.
__ADS_1
Lexi sudah memandikan putranya, bayi beberapa bulan itu sudah wangi di gendongan ibunya.
"Wah anak Papa sudah wangi." Kahfa meraih bayinya dan memaksa mengambil Zayn dari gendongan Lexi.
Lexi membuang muka tak sedikitpun ia mau menatap kakak ipar yang kini sudah menjadi suaminya.
Wanita itu melepas kain gendongannya. Dan berlalu ke dapur untuk membantu ibu dan uwanya memasak. Karna ini hari libur Ghaza dan Kaylapun berada di rumah ibunya.
Ghaza tertawa saat melihat sikaf Lexi yang terlihat mengacuhkan Kahfa. Kakak iparnya yang kaku terlihat tak berkutik saat istrinya tak mengeluarkan sepatah katapun. Jika saja karyawan kantor yang berlaku demikian pada ahli waris keluarga Omar, Ghaza bisa bertaruh satu jam setelahnya surat pemecatan akan di terima orang yang mendiamkan Kahfa itu.
"Wah Abang ipar tidak bisa menjinakan macan kumbang Kay." Ghaza semakin senang melihat Kahfa yang tak berdaya.
"Diam Kau!"
"Abaang." Kayla menyikut perut suaminya.
"Kay titip Zayn sebentar." Kahfa menyerahkan Zayn pada tantenya. Dengan senang hati Kayla meraih putra dari abangnya itu.
"Lexi ..."
Kahfa menghampiri istrinya yang tengah mengupas kentang.
Bak orang tuli Lexi masih asyik dengan aktifitasnya mengupas kentang.
Kahfa yang merasa di diamkan mulai tak tahan akhirnya mendekat kearah istrinya dan mengambil alih pisau di genggaman istrinya.
Ibu Kimmy dan Uwa Risma hanya diam memperhatikan keduanya. Tanpa berniat mencampuri urusan keduanya.
"Aku memanggilmu sedari tadi kenapa kau hanya diam? Kau tuli!"
"Terserah."
Lexi memilih mencuci tangannya dari pada menanggapi pembicaraan Kahfa lebih jauh.
"Lexi aku mau mandi." tak tahan Kahfa terus di diamkan sejak tadi. Bahkan semalam tidurnya tak nyenyak karna kepikiran Lexi. Didiamkan adalah hal yang paling tak enak menurut Kahfa. Ia ingin meminta maaf tabi bingung harus memulainya dari mana.
"Mandi ya tinggal mandi. Ngapain bilang-bilang padaku, mau ku mandikan seperti Zayn?" Lexi berujar ketus.
"Kau harus menyiapkan keperluanku! Kau istriku Lexi." Kahfa tersenyum penuh kemenangan saat Lexi berjalan lebih dulu menuju kamarnya.
"Aku tau sekarang, tujuanmu menikahiku hanya untuk menindasku dengan dalih istri. Menyebalkan!" Lexi menggeram tertahan di antara giginya.
"Jangan pergi sebelum aku selesai." Kahfa berlalu ke kamar mandi dengan menenteng handuknya.
Kahfa bertekad untuk membuat Lexi kembali berbicara setelah ini. Ia lelah di diamkan oleh istrinya.
__ADS_1