Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Lebih baik ikuti saranku


__ADS_3

"Maksud Abang?"


"Bukan hal sulit untuk Lexi mendapatkan pria seperti apapun. Sedangkan kau? Aku tak yakin bisa mendapatkan gadis sememesona Lexi." Kahfa sengaja mengatakan itu agar Kahfi berpikir realita.


"Wah, Abang kejam sekali berkata begitu." Kahfi menepuk pelan lutut Abangnya yang terduduk di kursi roda.


"Jangan katakan jika kau menyukai istriku!" Kahfi memincingkan matanya.


"Awas saja jika kau berniat merebutnya dariku." Kahfi menunjukan kepalan tangannya di hadapan Abangnya, sebagai upaya mengancam kakaknya. Kekanakkan!


"Aku menyukainya tidak membencinya. Aku menyayangi Lexi sama seperti aku menyayangi Kayla, dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri." Kahfa selalu berujar datar. Ia tidak seberengsek itu


"Aku mengatakan itu padamu karna kau adikku. Aku peduli terhadapmu Kahfi! Kau tak tahu saja istrimu itu hampir mencekikku karna kau tidak juga di temukan. Bahkan aku sempat menawarkan untuk menjadi mempelai pengantin penggantinya tapi Lexi masih percaya kau masih hidup. Dan menolaknya, kau pikir sebesar apa cintanya?" Kahfa menatap adiknya yang kini tengah memaku di tempatnya dengan secangkir teh di tangannya.


"Oh ya, Bang. Omong-omong mengenai kecelakaan waktu itu, Kahfi yang menolong Abang. Aku menyeret abang, sampai ke bahu jalan dan meletakannya di atas rumput-rumput sebelum mobil kita meledak. Tapi aku masih kesal akan pengendara motor yang mengambil jam tanganku tapi ia sama sekali tak membantuku. Bukan aku tak iklas hanya saja aku benar-benar butuh bantuan kala itu." Kahfipun menceritakan detail kejadian waktu itu pada Abangnya.


"Aku juga berencana membawa Lexi berkunjung ke rumah pak Ahmad nanti. Aku sudah menyuruh orang menemuinya untuk berangkat ke tanah suci, kebetulan aku memiliki kenalan yang bekerja di biro haji dan umroh sehingga aku bisa memberangkatkan Pak Ahmad pergi berhaji tahun ini." Kahfi melanjutkan ceritanya.


"Kahfi seandainya Zahra kembali membawa jawaban tentang lamaranmu di masa lalu apa yang akan kau lakukan?"


Kahfi bengong, lah ada apa sebenarnya mengapa istri dan Kakaknya bertanya tentang hal serupa padanya?

__ADS_1


"Aku bukan penganut poligami Bang. Aku nuga tidak tau apa yang akan ku lakukan! Tak mungkin juga aku melarang atau adu jotos dengan Zahra jika gadis itu kembali." Kahfi merasa pembicaraannya tidak berfaedah ia memutuskan meninggalkan Abangnya sendiri di ruangan itu.


.


Lexi dan Zahra saling menatap.


Diantara keduanya tak ada yang saling mengalah. Merasa kesal, Lexi memesan banyak makana pada pelayan Caffe yang kebetulan lewat di sana.


"Apa kau sangat miskin sehingga menijahi Kahfi yang kaya raya?" kalimat Zahra menusuk, ia pikir Lexi seorang yang tak mampu.


"Jaga kalimatmu wahai sarjana S2."


"Bagai mana jika ku tawarkan sesuatu yang menguntungkan?"


"Aku bisa membayarmu berapapun asalkan kau mau menginggalkan Kahfi. Kau bisa mengatakan alasan apapun padanya." Zahra mengeluarkan lembaran cek lengkap dengan penanya.


"Jika kau ingin di tranfer juga bisa!" Zahra kembali menyodorkan ponsel pintarnya.


Hah, Zahra pikir ini sinetron ikan terbang apa?


Tapi biasanya hal ini di tawarkan oleh ibu si pemeran utama pria. Lah ini malah mantan teman suaminya yang menawarkan hal gila semacam ini. Lexi rasa, otak Zahra sedikit geser.

__ADS_1


Lexi perlu memberikan pelajaran untuk sarjana songong ini.


"Mba." Lexi memanngil pelayan dengan mengangkat satu tangannya saja. Jika Zahra teliti, hal kecil ini bisa menjadi pembeda dari kalangan mana Lexi berasal.


Pelayan wanita itu mendekat dan menyapa sopan tamunya.


"Tolong bungkus setiap makanan paling Enak, yang berada di sini. Atas nama Kahfi Omar dan kirimkan ke alamat ini dengan jumlah sekian." Lexi menyerahkan alamat pondoknya berada lengkap dengan nomor ponselnya. "Dan tante saya yang akan membayarnya."


"Iyakan tante? Ini atas nama Kahfi loh, masa tante tak mau bayar."


Luntur sudah ke anggunan gadis bernama Zahra itu, terpaksa ia mengiyakan meski hatinya tetap menahan kesal luar biasa. Karna ia sangat malu jika tidak menuruti keinginan gadis ingusan itu.


"Ini peringatan pertama! Jika Tante masih ingin bermain-main denganku silahkan saja. Aku bisa berbuat lebih gila dari ini."


"Orang yang selalu mempersulit hidup orang lain niscaya hidupnya akan di persulit Tuhannya."


"Sebaiknya Tante Zahra pakai kalimat itu untuk tante sendiri!" Lexi menyeringai sedikitpun ia tak pernah takut akan siapapun kecuali Daddy dan Kahfinya.


Dan jika ia ingin mempettahankan miliknya ia harus berani mengambil tindakan.


"Hati-hati jika berurusan denganku Tante, wajah yang tidak seberapa cantik ini. Akan kesulitan menampakan diri di depan publik, sudah ku katakan aku bisa melakukan apapun di luar perkiraanmu." Ancaman Lexi membuat bulu kuduk Zahra merinding.

__ADS_1


"Lebih baik ikuti saranku. Untuk tidak mengusik hidupku dan Kahfi." Lexi meninggalkan Zahra yan masih tak bisa menggerakan seluruh badannya. Ia merasa agak lain dengan seringaian Lexi, yang sukses membuatnya terkesima untuk beberapa saat.


.


__ADS_2